Minggu, 29 Maret 2026

Seni Memilih Pesantren: Tentang Mencari Kecocokan, Bukan Mengejar Kesempurnaan


Dalam dunia pendidikan, utamanya pendidikan berbasis pesantren, seringkali calon wali santri terjebak pada dikotomi "baik" dan "buruk" saat hendak menentukan mau mondok dimana anaknya. Fenomena ini sering saya jumpai ketika orang tua membandingkan Pesantren A dan Pesantren B hanya berdasarkan asumsi mereka sendiri. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa membandingkan kualitas pesantren secara umum, tanpa menyelaraskannya dengan kebutuhan calon santri, bisa membuat sudut pandang kita menjadi kurang utuh dalam melihat efektivitas pendidikan itu sendiri.

Dari perjalanan saya, suami dan anak-anak di empat pesantren berbeda, kami belajar bahwa tidak ada standar tunggal untuk menyebut sebuah pesantren 'bagus'. Efektivitas pendidikan di sana adalah soal kecocokan tentang bagaimana karakter unik seorang anak bertemu dengan lingkungan yang tepat untuk bertumbuh.

​Setiap pesantren memiliki Distinctive Excellence atau keunggulan komparatif yang berbeda. Secara teoritis, sebuah lembaga pendidikan tidak dirancang untuk memuaskan semua aspek perkembangan manusia sekaligus dalam skala maksimal. Kita harus memahami bahwa pesantren bukan sebuah pabrik untuk mencetak produk yang seragam, melainkan ekosistem yang memiliki spesialisasi. Ada pondok yang menitikberatkan pada linguistic intelligence dan disiplin perilaku (seperti Gontor). Ada yang fokus pada spiritual-religious depth melalui hafalan Al-Qur'an (seperti Baitul Quran). Ada pula yang mengedepankan kemandirian organisasi dan moderasi pemikiran.

Secara psikologis, kapasitas serap seorang anak dan kapasitas asuh sebuah lembaga memiliki limitasi. Jika sebuah pesantren dipaksa untuk menjadi "hebat dalam segala hal" (hafal 30 juz, mahir 3 bahasa asing, juara olimpiade sains, sekaligus ahli kitab kuning dalam waktu bersamaan) maka risiko yang muncul adalah pembiasan fokus. Hasilnya bukan excellence, melainkan mediokritas (rata-rata) di semua bidang. Oleh karena itu, pesantren yang bijak adalah yang berani menentukan: "Di bidang inilah kami akan mencetak ahli." Dan orang tua yang bijak adalah yang mampu mengidentifikasi: "Di bidang inilah anak saya ingin bertumbuh." Tanpa keselarasan ini, keunggulan sehebat apa pun akan terasa seperti beban bagi santri.

Dalam konteks pendidikan, kita mengenal konsep Person-Environment (P-E) Fit, konsep ini mengacu pada tingkat kesesuaian antara karakteristik siswa (seperti kemampuan, kebutuhan, minat, nilai-nilai, dan gaya belajar) dengan karakteristik lingkungan belajar (kurikulum, metode pengajaran, budaya sekolah, dan harapan guru). Konsep ini menegaskan bahwa perilaku dan keberhasilan belajar adalah hasil interaksi antara karakteristik personal anak dengan tuntutan lingkungannya. Memaksakan anak masuk ke pesantren 'terbaik' tanpa mempertimbangkan P-E Fit ibarat memasukkan kunci yang salah ke dalam lubang pintu; seberapa kuat pun kita memutarnya, pintu itu tidak akan terbuka, malah kuncinya yang berisiko patah

Memilih pesantren bukan sekadar mencari yang "terbaik" secara umum, tapi mencari yang paling "klik" dengan kebutuhan unik setiap anak. Anak yang sangat butuh lingkungan kekeluargaan (Affiliation) mungkin akan "layu" di pondok yang terlalu kaku dan kompetitif. Sebaliknya, anak dengan jiwa kepemimpinan kuat justru akan "bersinar" di pondok dengan organisasi santri yang otonom dan dinamis seperti di Gontor atau Mu’allimin.
Pada akhirnya, kunci memilih pesantren yang "pas" adalah melakukan profiling ganda: mengenali motivasi utama anak serta memahami ke mana arah mayoritas alumni dan budaya keseharian pondok tersebut. Langkah profiling ini bukan untuk mencari siapa yang lebih unggul, melainkan untuk menemukan 'mitra' terbaik bagi tumbuh kembang anak. Dengan pemahaman ini, kita perlu menggeser paradigma dari kompetisi antar-lembaga menjadi kolaborasi ekosistem. Tidak ada pondok yang "paling bagus" secara absolut. Yang ada adalah pondok yang "paling tepat" sebagai mitra orang tua dalam mengoptimalkan potensi spesifik anak.
Pengalaman keluarga kami yang bersentuhan dengan berbagai model pesantren membuktikan bahwa keberagaman kurikulum adalah kekayaan, bukan untuk diperdebatkan mana yang lebih unggul. Mari berhenti menjadi pengamat yang hanya melihat kulit luar dan mulailah menjadi orang tua yang analitis. Fokus utama kita bukan lagi mencari 'pesantren sempurna', melainkan melakukan pemetaan kebutuhan yang nyata bagi anak." ​Kenali potensi anak, pahami visi keluarga, dan selami karakteristik pondok. Karena pada akhirnya, keberhasilan pendidikan pesantren bukan diukur dari menterengnya nama lembaga di ijazah, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai di dalamnya terinternalisasi dalam karakter anak kita.

Catatan wali santri, ibu biasa yang sedang belajar menulis...

Jumat, 27 Maret 2026

Moral Hazard dalam Sepiring MBG: Ketika Gizi Anak Menjadi Komoditas

 


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) datang dengan janji besar yakni memutus rantai stunting dan meningkatkan kapasitas kognitif generasi masa depan. Secara administratif, keterlibatan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan upaya untuk memudahkan distribusi nutrisi tanpa membebani guru dengan urusan dapur. Namun, di balik struktur yang terlihat rapi ini, muncul sebuah ancaman laten yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar masalah logistik: Moral Hazard.

Moral hazard terjadi ketika satu pihak mengambil risiko lebih besar atau berperilaku ceroboh karena tahu konsekuensi atas risiko tersebut akan ditanggung oleh pihak lain. Dalam konteks MBG, ketika SPPG ditunjuk sebagai penyedia, terjadi jarak yang lebar antara anggaran triliunan rupiah dengan kenyataan di atas meja makan siswa. Di celah jarak itulah, integritas sering kali dikorbankan demi efisiensi biaya dan keuntungan sepihak.


Nutrisi yang Terdistorsi dan Asimetri Informasi

Dari pengamatan di berbagai satuan pendidikan, saya menemukan realitas yang cukup kontras. Ada jurang lebar antara visi mulia di atas kertas dengan eksekusi di lapangan yang sering kali "salah langkah." Di sinilah moral hazard bekerja melalui asimetri informasi: pemerintah pusat memegang data administratif yang terlihat sempurna, namun penyedia di lapangan adalah satu-satunya yang tahu persis kualitas bahan baku yang sebenarnya mereka olah.

Harapan kita adalah melihat protein berkualitas tinggi masuk ke tubuh anak didik untuk mendukung perkembangan otak mereka. Namun, laporan mengenai porsi makanan yang menyusut, menu yang tidak memenuhi standar gizi seimbang, hingga temuan makanan basi mencerminkan perilaku "nakal" oknum penyedia yang memanfaatkan lemahnya pengawasan harian. Ketika makanan dipandang hanya sebagai unit logistik untuk memenuhi kontrak, maka esensi "bergizi" itu sendiri sering kali menguap demi mengejar margin keuntungan.


Dilema Pengawasan: Siapa yang Menanggung Risiko?

Sentralisasi melalui SPPG sebenarnya bertujuan menciptakan standar nasional. Namun, model ini justru rentan menciptakan "pembiaran" di tingkat lokal. Karena sekolah diposisikan hanya sebagai penerima manfaat murni, ada kecenderungan penyedia merasa tidak memiliki akuntabilitas langsung kepada siswa atau orang tua. Inilah titik kritis moral hazard tersebut:

  • Erosi Empati: Ketika penyajian makanan tidak dilakukan dengan "sentuhan kasih sayang" pendidik di sekolah melainkan melalui kontrak pihak ketiga, aspek pemenuhan hak anak sering kali kalah oleh logika untung-rugi.
  • Risiko yang Dialihkan: Jika makanan yang dikirimkan tidak layak atau kurang gizi, penyedia mungkin merasa risiko reputasi mereka kecil selama laporan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) terlihat rapi. Sementara itu, risiko jangka panjang berupa kegagalan tumbuh kembang sepenuhnya ditanggung oleh siswa dan masa depan bangsa.
  • Standar yang "Lentur": Tanpa integritas moral yang kuat, standar keamanan pangan dianggap sebagai beban biaya tambahan yang bisa dipangkas.


Keadilan bagi SPPG yang Amanah

Lebih dari itu semua, sangat penting bagi kita untuk tetap bersikap adil dalam melihat potret di lapangan. Di tengah kritik ini, kita tetap harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada banyak SPPG yang tetap menjaga amanah. Masih banyak pengelola yang bekerja dengan hati, memastikan setiap butir nasi dan potongan protein sampai ke tangan siswa dalam keadaan segar, bersih, dan sesuai standar gizi.

Para pejuang gizi yang jujur ini membuktikan bahwa sistem distribusi pusat sebenarnya bisa berjalan dengan sangat baik jika dibarengi dengan integritas moral yang kuat. Kehadiran mereka adalah bukti bahwa moral hazard bukanlah penyakit sistemik yang tidak bisa disembuhkan, melainkan penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh segelintir oknum. Justru karena adanya SPPG yang amanah inilah, perilaku oknum yang "nakal" menjadi terlihat sangat kontras dan tidak bisa ditoleransi. Kita perlu melindungi para penyedia yang jujur ini dengan cara menindak tegas mereka yang curang, agar standar kualitas nasional tetap terjaga.


Mengembalikan Hak Nutrisi Anak

Sebagai praktisi pendidikan, saya melihat bahwa gizi bukan sekadar angka kalori, melainkan instrumen pembentuk kepercayaan anak terhadap sistem. Jika anak-anak kita setiap hari disuguhi makanan yang tidak layak, kita secara tidak langsung sedang mengajari mereka bahwa kualitas dan kejujuran adalah hal yang bisa ditoleransi dalam pelayanan publik.

Kita tidak boleh membiarkan sekolah menjadi objek pasif yang bungkam. Mekanisme kontrol harus ditarik kembali ke akar rumput. Satuan pendidikan harus diberikan wewenang penuh untuk melakukan audit kualitas secara harian dan memiliki hak veto untuk menolak distribusi jika ditemukan ketidaksesuaian standar gizi maupun kebersihan.

MBG adalah investasi masa depan yang terlalu berharga untuk dikorupsi oleh mentalitas pemburu rente. Kita tidak butuh sekadar makan gratis yang asal kenyang; kita butuh asupan yang bermartabat dan penuh integritas. Jangan biarkan moral hazard merampas nutrisi otak anak-anak kita. Mari kita pastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan negara benar-benar berubah menjadi kecerdasan, bukan sekadar angka di buku rekening para spekulan.***

 




Minggu, 15 Februari 2026

BELAJAR DARI GAGALNYA JD.ID DIREKTURNYA SUKA BOHONG??





LATAR BELAKANG 
Dibangun pada tahun 1998 dengan nama Jingdong Century Trading.co sebagai toko yang menjual barang elektronik dan belum menjadi e-commerce. Barang dagangan yang mereka jual adalah disk magnet optical. Tahun 2004 mulailah membuat website B2C pertamanya yang rilis dengan nama Jalaser.com. 

Pada tahun 2007 berubah nama lagi menjadi Jingdong Mall. Sebenarnya konsepnya sama dengan yang lama, yakni toko elektronik atau toko offline yang dijadikan online store. Di tahun 2008, JD mall berubah menjadi offer general merchandise, toko yang awalnya hanya menjual barang elektronik menjadi full e-commerce platform sehingga tahun 2010 menjadi benar-benar e-commers. 

Pada tahun 2014 JD.com memulai ekspansi globalnya dan di tahun yang sama JD.com resmi meluncurkan JD.id di Indonesia yang merupakan langkah strategis perusahaan dalam mengembangkan bisnisnya di Asia Tenggara. Sejak itu, JD.id terus berkembang pesat dan memperluas kategori produknya dari produk elektronik hingga produk fashion, kecantikan, makanan dan minuman, serta produk-produk kesehatan dan kebugaran. JD.id juga berfokus pada memberikan pengalaman belanja yang nyaman dan aman bagi para pelanggan dengan menghadirkan layanan pengiriman yang cepat dan dapat dipercaya. 

Sejak diluncurkan pada tahun 2015 JD.id terus mengalami pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 2018, JD.id meraih penghargaan sebagai "E-commerce Terbaik" dalam ajang Indonesia E-commerce Awards. Penghargaan ini merupakan bukti dari kualitas pelayanan dan produk yang ditawarkan oleh JD.id. Perkembangan e-commerce menjadi salah satu industry yang paling cepat di Indonesia dimana penetrasinya 76% diatas China (menit ke 3:32). Padahal market elektronik dan garansi produk dijamin ori hanya dipegang oleh JD.id, mereka juga memiliki logistic center bernama JDL.Express Indonesia yang memiliki 11 gudang, 250 drop point dan 3 ribu kurir tapi ternyata gagal di Indonesia. 

Apa penyebabnya? 

PERMASALAHAN ORGANISASI 
Asumsi Raymond Chins dalam video ini, faktor kegagalan JD.id adalah karena dua hal yakni gagal adaptasi behavior market dan gagal saing dengan competitor lain seperti Tokopedia dan shopee (menit ke 4:20). 

Fenomena umum di dunia start up, banyak founder start up yang jago bikin PPT (menit ke 4:45) mereka pintar mengemas sebuah data atau situasi bisnis menjadi lebih indah dari kenyataannya. Sejalan dengan statement Richard Liu pendiri JD.com bahwa 40 VP yang ada di JD.id suka bohong tentang keadaan yang sebenarnya tidak baik-baik saja dilaporkan baik-baik saja (menit ke 5:05) inilah yang menjadi salah satu penyebab gagalnya JD.id. Padahal seharusnya good strategic need good people to create good execution yang membutuhkan orang-orang jujur dan berkarakter good corporate governance dan berintegritas. 

ANALISIS FAKTOR PERILAKU ORGANISASI 
Good Corporate Governance (GCG) merupakan suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang bertujuan untuk mengelola risiko, mengatur pola hubungan harmonis antara perusahaan dan pemangku kepentingan, serta menciptakan pengawasan efektif berdasarkan keseimbangan hak dan tanggung jawab. 

Menurut Komite Cadburry (dalam Tjager et al, 2003, hal.26), Good Corporate Governance adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya . 

Dalam kasus JD.id ini, pola hubungan antara perusahaan dengan pemangku kepentingan tidaklah didasari dengan karakter yang jujur dan integritas tinggi oleh para VP nya. Padahal prinsip-prinsip GCG meliputi profesionalisme, kewajaran, transparansi, akuntabilitas, serta tanggung jawab. Selain itu, GCG juga mencakup komitmen terhadap teamwork, integrity, professionalism, dan service excellence (anggita, 2023). 

Sementara itu integritas dalam kepemimpinan menjadi perhatian yang makin berkembang dalam bisnis dan organisasi (Kanungo & Mendonca, 1996) Dalam kasus Jd.id ini, Dimana para VP mengemas laporan yang tidak sesuai realitas menyebabkan eksekusi yang tidak tepat dan berakhir dengan ditutupnya JD.id ini merugikan banyak pihak yang telibat didalamnya, termasuk konsumen. 

Dunia bisnis menjadi ajang pertarungan tentang komitmen menjunjung tinggi nilai-nilai etis di tengah-tengah perburuan meraih sukses dilihat dari tolok ukur ekonomi yang kasat mata. Dunia bisnis memberikan banyak peluang untuk bisa melakukan segala cara demi meraih keuntungan sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Makin besar suatu bisnis, akan makin besar peluang untuk menentukan apa yang akan dilakukannya, termasuk dengan mengabaikan kewajiban-kewajiban etis yang mengikatnya untuk diamalkan. 

Dalam dunia kerja, kata integritas bukan hanya masalah kejujuran, masalah etis dan moral, bahwa orang tidak berbohong atau tidak melakukan hal-hal tidak bermoral. Integrity berkaitan juga dengan kinerja, suatu pencapaian hasil baik yang dicapai dengan selalu menjunjung tinggi kejujuran dan nilai-nilai moral lainnya. Kata integrity berasal dari akar kata “integrated”, yang berarti berbagai bagian dari karakter dan keterampilan berperan aktif dalam diri kita, yang tampak dari keputusankeputusan dan tindakan-tindakan kita (Lee, 2006). 

Untuk dapat menghasilkan kinerja baik di tempat kerja, seseorang harus memiliki dalam dirinya kemampuan-kemapuan seperti, jujur, berani, berdaya juang, membangun hubungan baik, pandai mengorganisasikan diri sendiri, teratur, dan terencana dengan baik. Seorang pemimpin selalu menjadi pusat perhatian, pedoman, dan acuan bagi semua anggota dalam organisasi. Hal-hal yang diputuskan atau dilakukannya selalu menjadi referensi bagi para anggota dalam bertindak termasuk para pemangku kepentingan, dalam kasus ID.id ini adalah pemegang saham. Hal-hal yang diperhatikan khususnya menyangkut konsistensi antara perkataan dan tindakannya, cara dia menangani masalah, menghadapi keluhan karyawan dan pelanggan, dan pertimbangan-pertimbangan yang digunakannya ketika hendak memutuskan sesuatu. 

Ketika kebijakan yang diambil ternyata keliru, dimana secara terang-terangan atau samarsamar mengabaikan aspek-aspek etis, maka seluruh karyawan atau bawahan ikut terbawa untuk mewujudkan keburukan atau kekeliruan yang terkandaung dalam kebijakan itu. 

KESIMPULAN 
Fokus utama dari video ini adalah membahas kegagalan JD.ID di Indonesia dan dugaan kebohongan dari direktur JD.ID terkait dengan kinerja perusahaan dan alasan penutupan bisnis mereka di Indonesia. Video ini juga memberikan pelajaran yang dapat diambil dari kasus JD.ID, termasuk pentingnya pemahaman mendalam tentang pasar lokal dan perubahan perilaku konsumen. 

Maka yang bisa kita pelajari dari kasus JD.id ini adalah : Good people matters, good character good integrity. Seseorang yang memiliki integritas dapat menunjukkan bahwa mereka membuat pilihan-pilihan etis dalam kehidupan mereka tiap hari. Mereka aktif mempromosikan integritas melalui sikap dan tindakan pribadi mereka, kepercayaan dan komitmen pada nilai inti organisasi (Gauss, 2000). 

Secara lebih jelas hal ini dikemukakan oleh Simons (2002), bahwa integrity merupakan sebuah pola yang kelihatan dimana adanya kesamaan antara kata dan perbuatan. Adaptasi market, bahwa strategi yang sukses di suatu negara belum tentu bisa dibawa atau diadaptasi ke negara lain. 

REFERENSI 
Link Video : https://www.youtube.com/watch?v=XAsI0MDrkdE. Raymond Chin 
https://employers.glints.com/id-id/blog/5-prinsip-good-corporate-governance-gcg/ https://media.neliti.com/media/publications/167005-ID-integritas-personal-dan-kepemimpinan-eti.pdf http://etheses.iainkediri.ac.id/7454/3/931418218_bab2.pdf https://repository.unsri.ac.id/53105/1/Perilaku%20Organisasi%20Revisi%20Final.pdf

Sabtu, 04 Oktober 2025

“MERANTAU”

 

Adinda Rahma Salsabila

Kelas 5B SD Plus Rahmat

 


Bis melaju perlahan meninggalkan terminal Arjosari, bayangan ibu semakin kecil dibelakang. Dari jauh kulihat ibu menyeka air matanya, pun aku tak lagi bisa membendung tangis yang sudah kutahan sejak kemarin. Kulirik Salman yang duduk dibangku sebelah, memandangku dengan iba. Tak ada tangis dimata Salman, sebab perjalanan kami ini diantar oleh Ayahnya.

Namaku Maman, kemarin aku baru saja menerima ijazah kelulusan SD dengan nilai tertinggi se kota Malang. Sebenarnya aku bisa masuk ke SMP mana saja yang aku mau tapi aku lebih memilih jalan ini, mondok ke pesantren di Jogjakarta.

Didekat rumahku ada masjid bagus sekali, sejak kecil aku belajar mengaji disana. Disitulah aku bertemu dengan Pak Haji Ramelan sang pemilik masjid. Beliau sering bercerita tentang orang-orang sukses yang merantau. Aku ingin sekali seperti mereka, merantau sepertinya seru. Setiap kali Haji Ramelan bercerita aku menyimak dengan seksama lalu aku berdoa kepada Allah agar aku diberi kesempatan untuk merantau. Doaku terkabul, suatu sore Haji Ramelan memanggilku dan menawari aku untuk mondok ke Jogjakarta. Kata beliau disana ada pesantren modern yang bagus sekali. Muridnya kalau ngobrol pakai bahasa asing, wah aku membayangkan keren sekali bukan jika aku bisa bicara pakai bahasa arab dan inggris dengan fasih. Haji Ramelan jugalah yang mengenalkan aku dengan Salman, anak seumuranku yang juga akan berangkat ke Jogjakarta untuk mondok

Sampai dirumah aku sampaikan keinginanku kepada Ayah dan Ibu.  Awalnya Ayahku menentang keras, nggak ada seorangpun di keluarga besarku yang mondok. Terutama masalah biaya. Ayahku keberatan jika aku harus merantau jauh sampai ke Jogjakarta. Pekerjaan ayahku yang hanya penjual makanan keliling tidak menghasilkan banyak uang, padahal untuk mondok butuh biaya yang tidak sedikit. Tapi aku sudah bertekad kuat, aku harus keluar dari Malang kalau aku ingin sukses. Meskipun aku juga nggak tau, seperti apa pesantren itu. Alhamdulillah Ibu mendukungku seratus persen dan meyakinkan Ayah agar aku bisa mondok ke Jogja.

Dan disinilah aku sekarang, diatas bis Malang Indah menuju kota impianku untuk mencari ilmu, seorang diri. Saat kupejamkan mata untuk mengusir sedih, terbayang wajah Ibu yang tadi pagi memelukku sambil meminta maaf karena tak bisa mengantar sampai Jogja. Aku paham, Bu...ibu harus bekerja keras agar aku bisa merantau. Aku janji, Bu...kelak akan kubawa Ibu mengunjungi ka’bah seperti cita-cita Ibu. Lambat laun kurasakan laju bis semakin kencang dan membuatku tertidur sepanjang perjalanan menuju Jogjakarta.

Kurasakan bahuku diguncang oleh seseorang yang ternyata Salman, “Man, bangun. Persiapan kata Ayah sebentar lagi kita sampai”. Saat mataku terbuka dengan sempurna bis sudah berhenti di terminal Jogjakarta. Dari terminal kami bertiga naik becak ke pesantren, hatiku rasanya campur aduk kala itu antara sedih, senang, ingin menangis dan ingin tertawa. Entahlah, tapi tekatku sudah bulat aku pantang pulang sebelum berhasil. Aku ingin membahagiakan ibuku. Maka ketika semua kawanku dinatar oleh orangtuanya dan aku sendirian mengurus ini dan itu tak jadi masalah bagiku. Aku harus berhasil, aku harus menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, aku tak boleh manja.

Itu adalah kisahku tiga puluh tahun lalu, hari ini dari lantai sebelas ruang kerjaku tampak kota Jakarta diguyur hujan deras. Setelah enam tahun di pesantren, dengan segala keterbatasan karena kondisi ekonomi orangtuaku yang kurang mampu. Aku melanjutkan kuliah dengan menempuh berbagai cara. Berburu beasiswa, menulis resensi di koran, menjadi guru mengaji semua kulakukan agar aku bisa terus kuliah tanpa merepotkan Ibu. Dan kau tau, bahwa jika kau bersungguh-sungguh maka akan tercapailah apa yang kau inginkan.

Dan disinilah aku sekarang, menjadi CEO sebuah perusahaan besar yang cabangnya tersebar diseluruh Indonesia. Aku, Maman si anak pesantren yang miskin itu berhasil menembus keterbatasan berkat ridho dan doa ibuku serta kesungguhan untuk selalu melakukan yang terbaik yang aku mampu. Ah, tiba-tiba aku rindu sekali dengan Ibu padahal baru seminggu yang lalu kami pulang dari makkah untuk berumroh. Iya, aku telah berhasil mewujudkan impian Ibuku untuk mengunjungi baitullah.***



 

Rabu, 01 Oktober 2025

PPT Mengenal Diri Mengelola Bahagia

 































































MENGENAL DIRI, MENGELOLA BAHAGIA

 

Disampaikan dalam Webinar Ikatan Keluarga Besar Istri (IKBI) 

PT Sinegri Gula Nusantara

Kamis, 2 Oktober 2025

 




KARENA IBU BEGITU BERHARGA

Dalam sebuah keluarga Ibu memegang banyak peran sekaligus, penghangat rumah, pengatur keuangan, tempat curhat, sekaligus guru pertama bagi anak-anak. Peran ini luar biasa, tapi juga menguras energi, emosi, dan pikiran. Seringkali, di tengah semua itu, kita lupa satu hal penting yakni mengenal dan merawat diri sendiri.
Itulah mengapa tema webinar ini, “Mengenal Diri, Mengelola Bahagia”, menjadi sangat relevan.

Kita tidak bisa terus memberi jika diri kita sendiri kosong. Rasa lelah, emosi yang naik turun, dan stres yang datang silih berganti seringkali muncul karena kita belum benar-benar memahami diri kita sendiri, apa yang memicu kita, apa kekuatan kita, dan apa yang perlu kita perbaiki.

Mengenal diri bukanlah hal mewah. Ini adalah langkah dasar agar kita bisa menjadi ibu dan istri yang lebih tenang, bahagia, dan hadir sepenuhnya untuk keluarga. Dari sini, kita belajar berhenti menyalahkan diri, dan mulai mensyukuri apa yang sudah kita miliki.

Webinar ini adalah undangan hangat untuk Ibu-ibu hebat anggota IKBI:
yuk, ambil jeda sejenak. Temukan kembali arah, dan pelan-pelan pulang dari rasa lelah dan stres.

Dengan bantuan alat sederhana seperti Analisis SWOT dan Jendela Johari, kita bisa belajar memahami diri dengan lebih jujur, mengelola emosi dengan lebih bijak, dan memperkuat hubungan dalam keluarga.

Tujuan kita bukan menjadi sempurna. Cukup menemukan versi terbaik diri kita agar kita bisa kembali ke rumah dengan hati yang penuh, dan menjadi sumber ketenangan bagi keluarga.


MENGAPA PENTING MENGENAL DIRI?

Mengenal diri bukan sekadar tahu siapa kita, tapi memahami isi hati, pikiran, dan potensi kita. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai perjalanan menuju aktualisasi diri menjadi versi terbaik dari diri kita. Kita semua punya potensi itu, hanya saja perlu dikenali dan dikembangkan.

Perjalanan ini bertahap: mulai dari kebutuhan dasar, rasa aman, cinta, penghargaan, hingga akhirnya mencapai potensi diri sepenuhnya. Ketika Ibu mulai mengenali:

  • Kekuatan, Ibu akan lebih percaya diri dan merasa berharga
  • Kelemahan, Ibu punya kesempatan untuk bertumbuh
  • Potensi tersembunyi, Ibu bisa berkembang lebih jauh dari yang dibayangkan

Ibu yang mengenal dirinya dengan baik akan lebih utuh secara emosional. Ia tidak lagi bergantung pada penilaian orang lain, tapi mampu memberi dari dalam dirinya sendiri.

 

MANFAAT MENGENAL DIRI

  1. Lebih mampu mengelola emosi dan stress Saat tahu apa yang memicu emosi, kita jadi lebih siap menghadapinya.
  2. Lebih bijak dalam mengambil Keputusan Karena kita tahu apa yang penting dan sesuai dengan nilai hidup kita.
  3. Hubungan lebih hangat dan sehat Karena kita lebih mudah memahami dan berempati pada orang lain.

 

ANALISIS DIRI vs MENGHAKIMI DIRI

Penting untuk membedakan ini:

Analisis diri itu membangun → “Saya kurang disiplin, mungkin saya perlu mulai dari jadwal sederhana.”

Menghakimi diri itu menjatuhkan → “Saya pemalas, tidak becus jadi ibu.”

Fokus analisis diri adalah memperbaiki, bukan menyalahkan.

 

HATI-HATI DENGAN SELF-DIAGNOSIS

Mencari tahu diri itu baik. Tapi memberi label pada diri sendiri seperti “saya depresi” atau “saya bipolar” tanpa bantuan profesional bisa berbahaya. Kalau memang merasa kewalahan, tidak apa-apa mencari bantuan. Itu justru bentuk keberanian, bukan kelemahan.

 

ALAT UNTUK MENGENAL DIRI

1. Analisis SWOT

  • Kekuatan: apa yang sudah Ibu kuasai
  • Kelemahan: apa yang perlu diperbaiki
  • Peluang: kesempatan dari lingkungan
  • Ancaman: hambatan dari luar

2. Jendela Johari Membantu kita melihat diri dari sudut pandang sendiri dan orang lain. Kadang, ada hal tentang diri kita yang justru lebih terlihat oleh orang lain.

 

MENGENAL DIRI = MERAWAT DIRI

Setelah tahu kekuatan dan kelemahan, langkah berikutnya adalah merawat diri. Self-care itu bukan kemewahan. Self-care adalah kebutuhan. Bukan harus ke spa.
Cukup hal kecil yang mengisi ulang energi kita.

Contoh sederhana:

  • Berhenti scroll 5 menit, ganti dengan tarik napas atau dzikir
  • Menulis satu hal yang disyukuri sebelum tidur
  • Memberi batas waktu untuk pekerjaan rumah

Dan satu hal penting: tidak perlu merasa bersalah saat merawat diri.
Karena Ibu yang terjaga, akan lebih mampu menjaga keluarga.

 

LANGKAH NYATA KE DEPAN

  • Kembangkan kekuatan yang sudah ada
  • Kelola kelemahan tanpa menyalahkan diri
  • Manfaatkan peluang di sekitar
  • Terima diri apa adanya, sambil terus bertumbuh

Tidak perlu perubahan besar. Cukup langkah kecil yang konsisten.

 

PERTANYAAN REFLEKSI

Setelah ini, apa satu hal kecil yang bisa Ibu mulai untuk lebih mengenal diri sendiri? Mungkin mulai menulis jurnal, atau meminta feedback jujur dari orang terdekat. Mari kita saling menguatkan dalam komunitas IKBI. Berbagi cerita, belajar bersama, dan bertumbuh bersama. Karena Ibu yang bahagia, akan menciptakan keluarga yang bahagia.

Dengan penuh cinta, Novie Anggriani Herman, S.Psi

 




 

 

Kamis, 25 September 2025

SIKAT GIGI UNTUK KANAN

 






Sedikit dari kita, bisa jadi bernilai besar bagi mereka - ovi

Pagi itu, Bu Nur menyerahkan buku laporan keuangan Beasiswa "Bintang Guruku" ke tanganku setelah menandatanganinya. Tertera saldo sekian juta rupiah untuk bulan ini. Beberapa anak telah dibelikan sepatu dan tas. Alhamdulillah, program beasiswa yang kami gagas delapan tahun lalu itu masih berjalan hingga hari ini. Awalnya hanya dimulai oleh kami bertiga (aku, Bu Nur dan Pak Luk) kini hampir semua guru telah menjadi donatur tetap. Menerima buku itu mengingatkanku pada suatu siang beberapa tahun lalu, yang menjadi cikal bakal beasiswa ini.

***

"Aku nggak tahan sama bau anak itu, Bu Nur. Padahal sudah kuingatkan sikat gigi sebelum ke sekolah," keluh seorang guru setelah keluar dari kelas 7A.

"Iya, ya ampun. Anak itu kok kayak nggak mandi. Kasihan dijauhi teman-temannya," timpal guru lain. Aku melirik Bu Nur yang duduk di sebelahku. Senyumnya canggung, menahan perasaan tak nyaman.

"Siapa?" bisikku pelan.

"Kanan," jawab Bu Nur pendek, menyebut nama siswa baru yang sedang jadi 'trending topic' ruang guru pagi itu.

***

Bel istirahat berbunyi, aku melangkah ke kelas 7A mencari anak baru bernama Kanan. Tiga anak tersisa di dalam kelas saat aku datang, dua gadis dan seorang anak lelaki yang duduk di pojok ruang kelas. Terpekur sendirian.

"Tidak ke kantin, Nduk?" tanyaku sambil menyalami dua gadis yang tergopoh mencium tanganku

"Lagi puasa, Bu," jawab salah satu gadis, aku tersenyum dan memuji lalu berjalan mendekati anak lelaki yang duduk terpaku seperti patung di pojokan kelas. Rambutnya kusut, seragamnya kucel dan bau menyengat saat didekatnya.

"Tidak istirahat, Le?". Ia menggeleng pelan lalu berkata, "nggak bawa sangu, Bu." Aku tersenyum, "ini ada donat, makanlah". Ia menerimanya dengan ragu, menggigit pelan sambil melirikku.

"Le, boleh nggak kalau saya dan Bu Nur main ke rumahmu?" tanyaku. Ia berpikir sebentar, lalu mengangguk.

***

Mencari rumah Kanan tidak mudah, kami sempat kesasar beberapa kali sampai menemukan rumah itu yang ternyata berdiri dibelakang sebuah rumah besar. Kami terpaku cukup lama didepan sebuah bangunan reyot yang pintu depannya disangga dengan dua bilah bambu. Rumah itu berlantai tanah, terdapat sebuah lemari tua serta bangku kayu panjang. Seorang perempuan muda tergopoh-gopoh mendatangi kami dari samping rumah sambil menggendong bayi. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai ibunya Kanan.

"Kanan nakal, Bu Guru?" tanyanya cemas.

"Tidak, Bu. Kami hanya ingin silaturahmi," jawabku sambil memperkenalkan diri sebagai guru BK dan Bu Nur, wali kelas anaknya. Kami mengobrol cukup lama, menggali data latar belakang Kanan sehari-hari sembari menyelipkan pesan-pesan terkait pentingnya kebersihan dan kerja sama antara keluarga dan sekolah.

Dalam perjalanan pulang, Bu Nur yang sangat melankolis itu menangis sesenggukan tak tega menyaksikan kondisi keluarga Kanan. Saya juga speechless, ndak bisa ngomong apa-apa lagi. Tiba-tiba bu Nur berkata, "Din, ayo mampir swalayan. Kita beli sikat gigi"

***

Kami kembali ke sekolah dengan sekantong besar kresek berisi sabun, odol, peralatan mandi, sedikit sembako, dan makanan ringan hasil urunan saya dengan Bu Nur.

Siang itu terik sekali. Bayangkan, saya yang seukuran botol yakult naik motor pinjaman membonceng Bu Nur yang gemoy, terus muter-muter nyari rumah Kanan lalu mampir pasar dan kembali ke sekolah. Tenggorokanku rasanya seperti tercekik, saking hausnya.

"Opo kuwi?" tanya Pak Luk

"Odol," jawabku sekenanya sambil membuka tutup botol air mineral, dan meneguknya dengan nikmat. Melihat wajahku yang kesal karena Pak Luk terus bertanya sementara aku hampir dehidrasi, Bu Nur berinisiatif menceritakan kisah petualangan kami siang itu. Tiba-tiba tanpa diminta, Pak Luk mengeluarkan dompet dari saku belakang celana kempolnya dan menyerahkan selembar uang seratus ribu padaku, "Aku melu urunan, Din."

Aku hampir tersedak, melongo saat menerima uang itu. Dan entah sejak kapan Bu Budipur dan Bu Bondan memperhatikan kami bertiga, tetiba mereka berdua juga mengangsurkan lembaran merah dan biru padaku.

"eh...piye ki maksudnya", aku bingung

"ngene Din, kamu belio buku kas terus cateten uang-uang kami itu nanti aku sama Luk dan Bu Bondan ngajak yang lain. Bu Nur ketuanya. Banyak loh anak-anak yang nggak mampu tapi nggak dapat beasiswa dari pemerintah. Di kelasku juga ada", itu suara Bu Budipur. Bu Bondan mengangguk-angguk sambil mengunyah donat.

***

Dari sinilah gerakan beasiswa "Bintang Guruku" bermula. Dari kami bertiga, lalu disusul Bu Budipur, Bu Bondan, Bu Endang lantas berkembang menjadi gerakan kolektif yang hampir semua guru menjadi donatur tetap, tanpa ditagih tanpa diminta. Sukarela dan ikhlas lillahi ta'ala.

Tak hanya Kanan yang terbantu, banyak anak-anak lain yang sepatunya rusak, tasnya sobek, atau baju sekolahnya kekecilan bisa kembali percaya diri. Laporan keuangan kami sampaikan secara terbuka setiap bulan.

***

Inisiatif kecil seperti ini akhirnya bukan tentang Kanan, tetapi membuka ruang empati yang lebih luas. Ini aksi nyata dari intervensi preventif berbasis lingkungan sekolah, yang tidak harus dimulai dari program besar melainkan dari kepekaan hati para pendidik.

Sejatinya, value seorang Guru bukan hanya kemampuannya mengajar, tetapi kepekaan dalam melihat yang tak tampak seperti aroma tubuh, raut canggung, atau diam yang bukan sekadar diam.

Gerakan "Bintang Guruku" adalah contoh nyata pendidikan berbasis cinta kasih. Maka jangan abaikan keluhan kecil, bisa jadi itu pintu masuk untuk menyentuh hidup anak didik kita. Mari menjadi bagian dari mata rantai kebaikan.

Catatan kecil konselor sekolah - Novie Anggriani, S.Psi

****

I have written this story in a book at 2020, I rewrote it now as a beautiful memory of friendship and brotherhood for 15 years at a public junior high school in east Kediri.

***

Ps : Din adalah panggilan sayang teman-temanku di sekolah tempat aku mengabdi selama 15 tahun, karena aku datang paling akhir waktu itu. it's mean, bontot. Dan kebetulan anakku yang bungsu bernama Din. Jadilah aku dipanggil Din pula oleh mereka.

Rabu, 24 September 2025

MODUL PENYIAPAN SEKOLAH INKLUSIF BAGI GURU DAN KS

        

        

Anak adalah anugerah, termasuk mereka yang terlahir dengan kebutuhan khusus menjadi landasan utama pentingnya pendidikan inklusif, pendidikan untuk semua. Kondisi seperti down syndrome atau hambatan perkembangan lainnya bukan merupakan aib, melainkan bagian dari takdir yang harus diterima dan dicintai. Dalam konteks pendidikan, Peserta Didik Penyandang Disabilitas (PDPD) juga memiliki potensi keberhasilan yang sama besar dengan anak-anak tipikal, asalkan mendapatkan penanganan dan pendidikan yang tepat. Oleh karena itu, persepsi dan perspektif positif dari orang tua, guru, serta masyarakat sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang dan kemandirian mereka.


Terdapat empat prinsip utama layanan pendidikan yang harus diberikan kepada setiap peserta didik, yaitu:

  • To live: Setiap peserta didik berhak untuk hidup dan mengembangkan potensi diri tanpa dibatasi oleh kondisi fisik, mental, atau emosional.

  • To love: Peserta didik harus merasa aman dan terlindungi dari perundungan, serta mengikuti pembelajaran dalam lingkungan yang ramah.

  • To play: Setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar dan ekstrakurikuler.

  • To work: Setiap peserta didik berhak mengembangkan potensi dirinya agar kelak mampu memasuki dunia kerja dan menjadi individu yang mandiri.


Konsep ini sejalan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, di mana keragaman, termasuk dalam hal kebutuhan khusus tidak menjadi penghalang bagi persatuan dan interaksi sosial. Guru dan sistem pendidikan harus mampu mengakomodasi keberagaman ini untuk menumbuhkan sikap toleransi dan kepedulian.


Data menunjukkan (didalam modul kami sajikan data yang dimaksud) bahwa sebagian besar PDPD di Indonesia belum mendapatkan akses pendidikan yang layak. Keterbatasan jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB), seperti yang terlihat di Kabupaten Kediri, menjadi salah satu faktor penghambat. Hal ini menimbulkan urgensi bagi pendidikan inklusif sebagai solusi alternatif.


Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan akses seluas-luasnya bagi semua anak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi. Dalam sistem ini, PDBK belajar bersama-sama dengan anak-anak reguler di sekolah umum terdekat. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan potensi PDBK dan menumbuhkan rasa empati, kolaborasi, serta kepercayaan diri pada semua peserta didik.


Berikut saya sematkan link untuk Modul Penyiapan Sekolah Inklusif Bagi Guru dan Kepala Sekolah sebagai referensi, semoga bermanfaat...

https://sites.google.com/view/sekolah-inklusif/sekolah-inklusif



NAT – Kejang, Ompol, dan Penerimaan

    

Langit siang itu mendung tipis, angin lembut berhembus dari jendela ruang BK yang setengah terbuka, membawa aroma kertas, tinta printer, dan sedikit bau kayu tua dari meja tempat saya bekerja. Saya sedang sibuk menginput data hasil sosiometri ketika tiga anak perempuan berlari masuk sambil terengah-engah. 

“Bu, pinjam alat pel boleh? Ada yang ngompol!” teriak mereka hampir serempak. Saya berhenti mengetik, jari saya menggantung di atas keyboard. 

“What? Apa tadi? Ngompol?” Saya menatap mereka lekat-lekat. Mungkin saya salah dengar, “Eh, ngompol? Serius?”, saya berdiri memicingkan mata.

“Beneran, Bu! Pesing bangeettt…” sahut Tika sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung. Tika memang dikenal sebagai anak yang ekspresif.

“Yo wis, sana ambil. Jangan lupa dicuci sampai bersih ya,” kata saya sambil menunjuk sudut tempat alat kebersihan. 

Mereka langsung berlari kembali seperti pasukan kecil yang sedang dalam misi penyelamatan. Saya masih terpaku, tujuh tahun menjadi guru BK baru kali ini ada anak SMP yang mengompol di kelas. 

Rasa penasaran menuntun langkah saya menuju kelas 7E, kelas paling heboh yang letaknya di ujung selatan gedung. 
****

Kelas itu sudah kacau saat saya sampai, meja-meja berserakan sebagian digeser ke belakang. Suasana riuh, bukan hanya karena murid 7E, tapi juga karena anak-anak kelas sebelah yang ikut kepo. Di dekat meja guru, seorang anak duduk berjongkok di atas koran. Rambutnya keriting, wajahnya bundar dan lesu. Nat, gumam saya lirih. Anak yang sejak awal sekolah memang menarik perhatian kami para Guru. Ia jarang bicara, lebih sering duduk sendiri menatap kosong atau melihat lalu-lalang anak lain dari depan ruang BK.

“Pak…” saya menjawil lengan wali kelasnya yang tampak kacau
“Duh, mumet aku, Bu,” katanya sambil menepuk jidatnya sendiri
“Nat ya yang ngompol?” saya bertanya pelan, beliau mengangguk
“Iya. Tapi nggak mau diajak ke toilet, ndreprok wae nang kono. Jajal dibujuki, Bu. Mumet aku.” 

Saya dekati Nat perlahan, bau pesing tercium samar-samar. Beberapa anak menatap sinis, ada yang gelisah, ada pula yang memutar wajah ke arah jendela. Sembari berjongkok sejajar dengannya, “Nat, ayo ke toilet yuk. Biar bersih, nyaman,” ajak saya lembut. Ia menggeleng pelan, menunduk makin dalam. Memeluk lututnya erat-erat, lalu saya sodorkan sarung milik musholla.

“Ini bisa dipakai. Yuk, Ibu bantu.” Perlahan, Nat bangkit dan berjalan ke toilet. Saya menatap punggungnya yang gemetar ringan. 
***

Di kelas, anak-anak langsung mengelilingi saya, seperti genangan air yang mencari titik tumpahnya.

“Bu, itu gara-gara pas disuruh maju jawab kuis, eh tiba-tiba dia kejang trus ngompol,” kata ketua kelas
“Awalnya kaget, Bu, terus baunya… parah banget!” sambung yang lain.

Saya angkat tangan pelan, memberi kode untuk tenang, “anak-anak, kalian tahu nggak kadang seseorang tidak memilih untuk punya kondisi seperti itu. Kalau Nat bisa memilih, dia pasti juga ingin seperti kalian. Sehat, happy, nggak sakit seperti tadi.” Mereka diam, berpikir

Saya lanjutkan, “tapi justru lewat kejadian ini, kita bisa belajar hal penting. Toleransi, kepedulian, empati. Tidak semua orang punya kekuatan untuk memahami, tapi kita bisa belajar.” ada yang mengangguk, ada yang terdiam, tapi saya tahu hati mereka mulai terbuka. 
***

Minggu-minggu berikutnya, kejadian serupa tetap terjadi. Nat beberapa kali kejang dan mengompol tapi tidak lagi disambut dengan keributan. Anak-anak sudah siap, bahkan mereka membeli alat pel serta karbol dari uang kas dan meletakkannya di sudut kelas dengan label “Untuk Keadaan Darurat, Jangan Dipakai Mainan!!” 

Nat tidak dipindah kelas, Ia diterima, Ia dijaga. Kelas itu berubah dari yang dulu suka gaduh dan saling menyalahkan, menjadi kelompok kecil yang saling peduli.
****

“Nat, kamu sering kejang begitu?” tanya saya suatu hari saat ia duduk didepan ruang BK. Ia hanya menunduk, sesekali menyeka air mata yang tak bisa ia tahan.
“Bu, saya pengin terus sekolah. Jangan dikeluarkan ya, Bu.” 

Saya tepuk pundaknya pelan, “nggak ada yang mau mengeluarkan kamu, nduk. Ibu janji.” 

Hari itu kami memanggil orang tuanya. 

Ayahnya datang mengenakan jaket lusuh dan senyum kikuk, “waktu kecil sering kejang, Bu Guru. Pernah jatuh dari sepeda juga tapi sudah jarang sekarang. Kami bawa ke puskesmas, katanya ndakpapa”
“Kenapa nggak dibawa ke RSUD?” 
“Biaya, Bu Guru. Jauh juga dari sini” 
Saya sarankan untuk mengurus Jamkesda, “sudah gadis Pak, harus ditangani. Nanti bisa mempengaruhi mentalnya", Bapak Nat mengangguk. Saya berpesan agar tidak membiarkan Nat naik sepeda sendiri, Bapak Nat berjanji. 

Sejak rutin kontrol ke dokter. Nat mengalami banyak sekali kemajuan, saya amati ia mulai punya teman, mulai berbicara dan mau bercerita, mulai tersenyum dan lebih percaya diri. Ia tumbuh, pelan tapi pasti.
***

Nat mengajarkan saya bahwa kekurangan bukanlah hambatan mutlak dalam pendidikan, melainkan pintu masuk untuk menanamkan nilai-nilai yang lebih dalam yakni rasa hormat, penerimaan, dan cinta kasih. Di balik keterbatasannya, Nat hadir sebagai guru kehidupan bagi teman-temannya. Dukungan dari keluarga, Guru dan teman sangat penting untuk menghindarkannya dari rasa rendah diri berkepanjangan. 

Sebagai orang tua yuk kita mulai dengan mendengarkan anak-anak, bahkan ketika mereka diam. Menciptakan lingkungan yang menerima dan tidak cepat menghakimi. Membangun komunikasi dan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan layanan kesehatan sebagai upaya intervensi dini. 

Sebagai Guru, apabila ada murid seperti Nat jangan diabaikan. Jadilah jembatan bagi mereka untuk tetap sekolah, tetap hidup dengan harga diri, dan tetap merasa dicintai. Sebab anak bukan hanya murid, mereka adalah cermin kecil yang menunjukkan siapa kita sebagai orang dewasa.


Catatan kecil konselor sekolah - Novie Anggriani, S.Psi