Kamis, 02 April 2026

APAKAH GURU MEMANG TEMPATNYA SALAH?

 


Ada semacam beban tak terlihat yang sering menempel pada siapa pun yang memilih menjadi guru. Apalagi akhir-akhir ini setiap ada masalah di dunia pendidikan, telunjuk mengarah ke Guru. Anak tidak disiplin, guru yang disorot. Nilai literasi nasional turun, kemampuan guru dipertanyakan. Target numerasi tidak tercapai, metode mengajar guru yang dipersoalkan. Anak kurang sopan di rumah, sekolah ikut disalahkan. Terjadi perundungan antar siswa, guru dianggap lalai mengawasi. Orang tua kesulitan mendampingi belajar di rumah, guru juga yang diminta mencari solusi. Bahkan ketika anak kecanduan gawai atau terlalu lama bermain media sosial, lagi-lagi sekolah yang ikut ditarik dalam pusaran kritik.

 

Bahkan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketika di lapangan muncul kendala seperti makanan datang terlambat, distribusi belum rapi, atau menu yang dinilai kurang sesuai. Komplain dan keluhan sering kali langsung diarahkan ke sekolah. Guru ikut kena imbasnya, karena merekalah yang paling dekat dengan siswa dan orang tua, padahal program tersebut berada di luar kendali mereka. Seolah-olah, apa pun yang terjadi pada anak, di dalam maupun di luar sekolah muaranya tetap satu, GURU. Guru menjadi pihak yang paling mudah disalahkan sekaligus tempat menumpuk harapan yang kadang terasa berlebihan.

 

Padahal, kenyataannya pendidikan jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Kita sering lupa bahwa di balik seragam dan gelar profesionalnya, guru tetap manusia biasa yang bisa lelah, bisa salah, dan punya keterbatasan. Mereka masuk kelas sambil membawa banyak hal diantaranya tumpukan administrasi, tuntutan kurikulum yang terus berubah, sampai menghadapi banyak murid dengan karakter yang berbeda-beda. Rasanya tidak adil kalau seluruh keberhasilan atau kegagalan seorang anak dibebankan hanya ke pundak guru saja.

 

Faktanya, sekolah hanyalah salah satu bagian dari kehidupan anak. Setelah pulang, mereka kembali ke rumah dengan nilai-nilai yang dibentuk keluarga, bergaul di lingkungan yang ikut memengaruhi cara berpikir, dan hidup di zaman dengan arus informasi yang begitu deras. Di tengah situasi yang sekompleks itu, rasanya tidak adil jika kita berharap guru bisa jadi “tukang sihir” yang menyelesaikan semuanya sendirian. Sering kali kita terlalu fokus pada hasil akhir yang sempurna, tanpa benar-benar memahami proses panjang dan tekanan yang mereka hadapi setiap hari di dalam kelas.

 

Tentu saja, ini bukan berarti guru anti kritik atau tidak perlu dievaluasi. Ruang kelas adalah tempat belajar bagi semua, termasuk bagi gurunya, sehingga perbaikan dan proses bertumbuh itu memang perlu terus berjalan. Namun, ketika guru dijadikan satu-satunya pihak yang disalahkan, kita justru kehilangan kesempatan untuk melihat persoalan pendidikan secara lebih utuh. Jika guru dituntut selalu sempurna tanpa ruang untuk keliru, yang muncul bukan pendidikan yang hangat dan kreatif, melainkan suasana kaku yang penuh rasa takut.

 

Pendidikan pada dasarnya adalah kerja bersama antara orang tua, sekolah, dan lingkungan yang saling terhubung dalam satu napas yang sama. Kita tidak bisa meletakkan seluruh beban masa depan anak hanya di pundak guru di kelas, sementara rumah dan lingkungan sekitarnya berjalan ke arah yang berbeda. Bayangkan sebuah jembatan, sekolah adalah salah satu tiang penyangganya, namun pondasi utamanya ada di rumah, dan lintasannya adalah lingkungan sosial tempat anak tumbuh. Jika salah satu sisi rapuh atau tidak peduli, maka perjalanan anak menuju kedewasaan akan goyah.

 

Oleh karena itu, sinergi yang harmonis antar semua pihak menjadi kunci, karena pendidikan bukan tentang siapa yang paling dominan, melainkan tentang bagaimana kita semua mau melangkah beriringan demi kebaikan anak-anak kita. Rasanya akan jauh lebih berarti jika seluruh pilar saling mendekat untuk memperbaiki apa yang masih kurang. Mungkin pertanyaan yang lebih penting untuk kita renungkan hari ini bukan lagi tentang siapa yang harus disalahkan, tapi apa yang bisa kita lakukan bersama agar pendidikan berjalan lebih baik. Masa depan anak-anak kita ditentukan oleh siapa yang benar-benar hadir, terlibat, dan berjalan bersama mereka.


*)catatan kecil seorang Guru, yang masih terus belajar menjadi guru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar