Ada
semacam beban tak terlihat yang sering menempel pada siapa pun yang memilih menjadi
guru. Apalagi akhir-akhir ini setiap ada masalah di dunia pendidikan, telunjuk mengarah
ke Guru. Anak tidak disiplin, guru yang disorot. Nilai literasi nasional turun,
kemampuan guru dipertanyakan. Target numerasi tidak tercapai, metode mengajar
guru yang dipersoalkan. Anak kurang sopan di rumah, sekolah ikut disalahkan.
Terjadi perundungan antar siswa, guru dianggap lalai mengawasi. Orang tua
kesulitan mendampingi belajar di rumah, guru juga yang diminta mencari solusi.
Bahkan ketika anak kecanduan gawai atau terlalu lama bermain media sosial,
lagi-lagi sekolah yang ikut ditarik dalam pusaran kritik.
Bahkan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketika di lapangan muncul kendala seperti makanan datang terlambat, distribusi belum rapi, atau menu yang dinilai kurang sesuai. Komplain dan keluhan sering kali langsung diarahkan ke sekolah. Guru ikut kena imbasnya, karena merekalah yang paling dekat dengan siswa dan orang tua, padahal program tersebut berada di luar kendali mereka. Seolah-olah, apa pun yang terjadi pada anak, di dalam maupun di luar sekolah muaranya tetap satu, GURU. Guru menjadi pihak yang paling mudah disalahkan sekaligus tempat menumpuk harapan yang kadang terasa berlebihan.
Padahal,
kenyataannya pendidikan jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Kita
sering lupa bahwa di balik seragam dan gelar profesionalnya, guru tetap manusia
biasa yang bisa lelah, bisa salah, dan punya keterbatasan. Mereka masuk kelas
sambil membawa banyak hal diantaranya tumpukan administrasi, tuntutan kurikulum
yang terus berubah, sampai menghadapi banyak murid dengan karakter yang
berbeda-beda. Rasanya tidak adil kalau seluruh keberhasilan atau kegagalan seorang
anak dibebankan hanya ke pundak guru saja.
Faktanya,
sekolah hanyalah salah satu bagian dari kehidupan anak. Setelah pulang, mereka
kembali ke rumah dengan nilai-nilai yang dibentuk keluarga, bergaul di
lingkungan yang ikut memengaruhi cara berpikir, dan hidup di zaman dengan arus
informasi yang begitu deras. Di tengah situasi yang sekompleks itu, rasanya
tidak adil jika kita berharap guru bisa jadi “tukang sihir” yang menyelesaikan
semuanya sendirian. Sering kali kita terlalu fokus pada hasil akhir yang
sempurna, tanpa benar-benar memahami proses panjang dan tekanan yang mereka
hadapi setiap hari di dalam kelas.
Tentu
saja, ini bukan berarti guru anti kritik atau tidak perlu dievaluasi. Ruang
kelas adalah tempat belajar bagi semua, termasuk bagi gurunya, sehingga
perbaikan dan proses bertumbuh itu memang perlu terus berjalan. Namun, ketika
guru dijadikan satu-satunya pihak yang disalahkan, kita justru kehilangan
kesempatan untuk melihat persoalan pendidikan secara lebih utuh. Jika guru
dituntut selalu sempurna tanpa ruang untuk keliru, yang muncul bukan pendidikan
yang hangat dan kreatif, melainkan suasana kaku yang penuh rasa takut.
Pendidikan
pada dasarnya adalah kerja bersama antara orang tua, sekolah, dan lingkungan
yang saling terhubung dalam satu napas yang sama. Kita tidak bisa meletakkan
seluruh beban masa depan anak hanya di pundak guru di kelas, sementara rumah
dan lingkungan sekitarnya berjalan ke arah yang berbeda. Bayangkan sebuah
jembatan, sekolah adalah salah satu tiang penyangganya, namun pondasi utamanya
ada di rumah, dan lintasannya adalah lingkungan sosial tempat anak tumbuh. Jika
salah satu sisi rapuh atau tidak peduli, maka perjalanan anak menuju kedewasaan
akan goyah.
Oleh karena itu, sinergi yang harmonis antar semua pihak menjadi kunci, karena pendidikan bukan tentang siapa yang paling dominan, melainkan tentang bagaimana kita semua mau melangkah beriringan demi kebaikan anak-anak kita. Rasanya akan jauh lebih berarti jika seluruh pilar saling mendekat untuk memperbaiki apa yang masih kurang. Mungkin pertanyaan yang lebih penting untuk kita renungkan hari ini bukan lagi tentang siapa yang harus disalahkan, tapi apa yang bisa kita lakukan bersama agar pendidikan berjalan lebih baik. Masa depan anak-anak kita ditentukan oleh siapa yang benar-benar hadir, terlibat, dan berjalan bersama mereka.
*)catatan kecil seorang Guru, yang masih terus belajar menjadi guru

Tidak ada komentar:
Posting Komentar