Kamis, 02 April 2026

APAKAH GURU MEMANG TEMPATNYA SALAH?

 


Ada semacam beban tak terlihat yang sering menempel pada siapa pun yang memilih menjadi guru. Apalagi akhir-akhir ini setiap ada masalah di dunia pendidikan, telunjuk mengarah ke Guru. Anak tidak disiplin, guru yang disorot. Nilai literasi nasional turun, kemampuan guru dipertanyakan. Target numerasi tidak tercapai, metode mengajar guru yang dipersoalkan. Anak kurang sopan di rumah, sekolah ikut disalahkan. Terjadi perundungan antar siswa, guru dianggap lalai mengawasi. Orang tua kesulitan mendampingi belajar di rumah, guru juga yang diminta mencari solusi. Bahkan ketika anak kecanduan gawai atau terlalu lama bermain media sosial, lagi-lagi sekolah yang ikut ditarik dalam pusaran kritik.

 

Bahkan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketika di lapangan muncul kendala seperti makanan datang terlambat, distribusi belum rapi, atau menu yang dinilai kurang sesuai. Komplain dan keluhan sering kali langsung diarahkan ke sekolah. Guru ikut kena imbasnya, karena merekalah yang paling dekat dengan siswa dan orang tua, padahal program tersebut berada di luar kendali mereka. Seolah-olah, apa pun yang terjadi pada anak, di dalam maupun di luar sekolah muaranya tetap satu, GURU. Guru menjadi pihak yang paling mudah disalahkan sekaligus tempat menumpuk harapan yang kadang terasa berlebihan.

 

Padahal, kenyataannya pendidikan jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Kita sering lupa bahwa di balik seragam dan gelar profesionalnya, guru tetap manusia biasa yang bisa lelah, bisa salah, dan punya keterbatasan. Mereka masuk kelas sambil membawa banyak hal diantaranya tumpukan administrasi, tuntutan kurikulum yang terus berubah, sampai menghadapi banyak murid dengan karakter yang berbeda-beda. Rasanya tidak adil kalau seluruh keberhasilan atau kegagalan seorang anak dibebankan hanya ke pundak guru saja.

 

Faktanya, sekolah hanyalah salah satu bagian dari kehidupan anak. Setelah pulang, mereka kembali ke rumah dengan nilai-nilai yang dibentuk keluarga, bergaul di lingkungan yang ikut memengaruhi cara berpikir, dan hidup di zaman dengan arus informasi yang begitu deras. Di tengah situasi yang sekompleks itu, rasanya tidak adil jika kita berharap guru bisa jadi “tukang sihir” yang menyelesaikan semuanya sendirian. Sering kali kita terlalu fokus pada hasil akhir yang sempurna, tanpa benar-benar memahami proses panjang dan tekanan yang mereka hadapi setiap hari di dalam kelas.

 

Tentu saja, ini bukan berarti guru anti kritik atau tidak perlu dievaluasi. Ruang kelas adalah tempat belajar bagi semua, termasuk bagi gurunya, sehingga perbaikan dan proses bertumbuh itu memang perlu terus berjalan. Namun, ketika guru dijadikan satu-satunya pihak yang disalahkan, kita justru kehilangan kesempatan untuk melihat persoalan pendidikan secara lebih utuh. Jika guru dituntut selalu sempurna tanpa ruang untuk keliru, yang muncul bukan pendidikan yang hangat dan kreatif, melainkan suasana kaku yang penuh rasa takut.

 

Pendidikan pada dasarnya adalah kerja bersama antara orang tua, sekolah, dan lingkungan yang saling terhubung dalam satu napas yang sama. Kita tidak bisa meletakkan seluruh beban masa depan anak hanya di pundak guru di kelas, sementara rumah dan lingkungan sekitarnya berjalan ke arah yang berbeda. Bayangkan sebuah jembatan, sekolah adalah salah satu tiang penyangganya, namun pondasi utamanya ada di rumah, dan lintasannya adalah lingkungan sosial tempat anak tumbuh. Jika salah satu sisi rapuh atau tidak peduli, maka perjalanan anak menuju kedewasaan akan goyah.

 

Oleh karena itu, sinergi yang harmonis antar semua pihak menjadi kunci, karena pendidikan bukan tentang siapa yang paling dominan, melainkan tentang bagaimana kita semua mau melangkah beriringan demi kebaikan anak-anak kita. Rasanya akan jauh lebih berarti jika seluruh pilar saling mendekat untuk memperbaiki apa yang masih kurang. Mungkin pertanyaan yang lebih penting untuk kita renungkan hari ini bukan lagi tentang siapa yang harus disalahkan, tapi apa yang bisa kita lakukan bersama agar pendidikan berjalan lebih baik. Masa depan anak-anak kita ditentukan oleh siapa yang benar-benar hadir, terlibat, dan berjalan bersama mereka.


*)catatan kecil seorang Guru, yang masih terus belajar menjadi guru

SISI HANGAT FOMO, KARENA HAL BAIK LAYAK UNTUK DIIKUTI

 



Belakangan ini rasanya kok "ngeri-ngeri sedap" ya kalau mau mencoba hal baru yang lagi tren. Begitu kita posting foto pakai sepatu lari atau pegang raket tenis, ada saja perasaan sungkan jangan-jangan kita dicap cuma ikut-ikutan alias FOMO. Saya bahkan sempat membaca status seorang teman yang sedang belajar tenis, tapi dia sibuk sekali memberi penjelasan bahwa dia nggak lagi FOMO. Saya jadi berpikir, sejak kapan FOMO selalu kita anggap sebagai sesuatu yang buruk? Memangnya kenapa kalau kita FOMO untuk urusan yang baik?

 

Istilah FOMO (fear of missing out) memang sering dipahami sebagai kecemasan sosial: takut ketinggalan tren, takut tidak relevan, takut tidak “ikut dalam arus”. Dalam banyak konteks, ini memang bisa melelahkan. Orang jadi memaksakan diri, membandingkan hidupnya dengan orang lain, dan akhirnya merasa tidak pernah cukup. Tapi, apakah semua bentuk FOMO harus ditolak mentah-mentah? Bukankah dalam beberapa situasi, FOMO justru bisa menjadi pintu masuk menuju hal-hal baik?

 

Ingat nggak, sebenarnya sejak kecil kita sudah akrab dengan “FOMO”, hanya saja dulu kita tidak menyebutnya dengan istilah itu. Waktu musim layangan, kita ikut main layangan. Saat lagi tren main kelereng, kita ikut nimbrung di tanah lapang, seru-seruan tanpa mikir kalah menang. Bahkan ketika hujan turun, kita ikut lari keluar, basah-basahan bersama teman-teman, tertawa tanpa beban.

 

Apakah itu salah? Tidak juga. Lalu kenapa sekarang, ketika kita sudah dewasa, “ikut mencoba sesuatu yang sedang ramai” justru sering diberi label negatif?

 

Bayangkan seseorang yang awalnya tidak pernah olahraga. Lalu ia melihat teman-temannya mulai lari pagi, ikut kelas yoga, atau belajar tenis. Lalu ia ikut bergerak, mencoba, memulai. Dalam konteks ini, FOMO bukan lagi tentang tekanan sosial, melainkan tentang dorongan untuk bertumbuh. Tidak semua orang lahir dengan motivasi yang tinggi untuk hidup sehat secara mandiri. Kadang kita memang butuh trigger dari lingkungan sekitar.

 

Kalau melihat postingan teman-teman yang segar setelah olahraga pagi membuat kita merasa tertinggal dan akhirnya memutuskan untuk beranjak dari kasur, bukankah itu sebuah pencapaian? Takut ketinggalan tren atau FOMO dalam konteks ini sebenarnya bukan musuh, melainkan pintu gerbang. Kita butuh percikan dari luar untuk menyalakan api di dalam diri, dan sering kali percikan itu datang dari rasa penasaran melihat orang lain melakukannya

 

Kita sering lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kita belajar dari melihat, meniru, dan terinspirasi. Tidak semua “ikut-ikutan” itu dangkal. Kadang, justru dari ikut-ikutan itulah seseorang menemukan kebiasaan baru yang lebih sehat, lingkungan baru yang lebih suportif, bahkan versi diri yang lebih baik.

 

Masalahnya mungkin bukan pada FOMO itu sendiri, tetapi pada arah dan kesadaran kita saat meresponsnya. Jika FOMO membuat kita membeli hal yang tidak kita butuhkan, memaksakan gaya hidup di luar kemampuan, atau terus-menerus merasa kurang, ya itu jelas perlu diwaspadai. Tapi jika FOMO mendorong kita untuk mulai bergerak, belajar hal baru, atau merawat diri dengan lebih baik, lalu kenapa harus dipermasalahkan?

 

Dunia ini sudah cukup melelahkan jika kita harus terus-menerus membedah niat orang lain atau merasa terbebani dengan penilaian mereka. Jika ada seseorang yang mulai mengatur pola makan atau rajin bergerak meski hanya bertahan sebulan karena tren, itu tetap sebulan yang jauh lebih berkualitas daripada tidak bergerak sama sekali. Jadi, tidak perlu terlalu pusing kalau ada yang bilang kita cuma FOMO. Toh, jauh lebih baik kita ikut-ikutan berkeringat daripada konsisten dalam kemalasan.

 

Pada akhirnya, hidup bukan tentang alasan kita memulai hal baik, tapi tentang sejauh mana hal tersebut membawa manfaat bagi diri sendiri. Mari kita berdamai dengan rasa takut ketinggalan itu, asalkan yang kita kejar adalah kebiasaan yang membangun. Karena terkadang, cara paling efektif untuk memulai langkah pertama yang sulit adalah dengan berani mengakui bahwa kita memang ingin ikut merasakan manfaat baik yang sedang dirasakan orang lain.

 

Kadang kita terlalu cepat memberi cap, tanpa benar-benar memahami proses di baliknya. Mungkin, daripada sibuk menilai apakah sesuatu itu FOMO atau bukan, kita bisa mulai bertanya dengan cara yang lebih jujur: “Apakah ini membuat hidup saya lebih baik?” Kalau jawabannya iya, berarti tidak masalah jika itu berawal dari FOMO.

 

Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukanlah citra bahwa kita selalu autentik sejak awal, melainkan keberanian untuk terus bergerak meski kadang dimulai dari sekadar ingin “ikut merasakan”.



Minggu, 29 Maret 2026

Seni Memilih Pesantren: Tentang Mencari Kecocokan, Bukan Mengejar Kesempurnaan


Dalam dunia pendidikan, utamanya pendidikan berbasis pesantren, seringkali calon wali santri terjebak pada dikotomi "baik" dan "buruk" saat hendak menentukan mau mondok dimana anaknya. Fenomena ini sering saya jumpai ketika orang tua membandingkan Pesantren A dan Pesantren B hanya berdasarkan asumsi mereka sendiri. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa membandingkan kualitas pesantren secara umum, tanpa menyelaraskannya dengan kebutuhan calon santri, bisa membuat sudut pandang kita menjadi kurang utuh dalam melihat efektivitas pendidikan itu sendiri.

Dari perjalanan saya, suami dan anak-anak di empat pesantren berbeda, kami belajar bahwa tidak ada standar tunggal untuk menyebut sebuah pesantren 'bagus'. Efektivitas pendidikan di sana adalah soal kecocokan tentang bagaimana karakter unik seorang anak bertemu dengan lingkungan yang tepat untuk bertumbuh.

​Setiap pesantren memiliki Distinctive Excellence atau keunggulan komparatif yang berbeda. Secara teoritis, sebuah lembaga pendidikan tidak dirancang untuk memuaskan semua aspek perkembangan manusia sekaligus dalam skala maksimal. Kita harus memahami bahwa pesantren bukan sebuah pabrik untuk mencetak produk yang seragam, melainkan ekosistem yang memiliki spesialisasi. Ada pondok yang menitikberatkan pada linguistic intelligence dan disiplin perilaku (seperti Gontor). Ada yang fokus pada spiritual-religious depth melalui hafalan Al-Qur'an (seperti Baitul Quran). Ada pula yang mengedepankan kemandirian organisasi dan moderasi pemikiran.

Secara psikologis, kapasitas serap seorang anak dan kapasitas asuh sebuah lembaga memiliki limitasi. Jika sebuah pesantren dipaksa untuk menjadi "hebat dalam segala hal" (hafal 30 juz, mahir 3 bahasa asing, juara olimpiade sains, sekaligus ahli kitab kuning dalam waktu bersamaan) maka risiko yang muncul adalah pembiasan fokus. Hasilnya bukan excellence, melainkan mediokritas (rata-rata) di semua bidang. Oleh karena itu, pesantren yang bijak adalah yang berani menentukan: "Di bidang inilah kami akan mencetak ahli." Dan orang tua yang bijak adalah yang mampu mengidentifikasi: "Di bidang inilah anak saya ingin bertumbuh." Tanpa keselarasan ini, keunggulan sehebat apa pun akan terasa seperti beban bagi santri.

Dalam konteks pendidikan, kita mengenal konsep Person-Environment (P-E) Fit, konsep ini mengacu pada tingkat kesesuaian antara karakteristik siswa (seperti kemampuan, kebutuhan, minat, nilai-nilai, dan gaya belajar) dengan karakteristik lingkungan belajar (kurikulum, metode pengajaran, budaya sekolah, dan harapan guru). Konsep ini menegaskan bahwa perilaku dan keberhasilan belajar adalah hasil interaksi antara karakteristik personal anak dengan tuntutan lingkungannya. Memaksakan anak masuk ke pesantren 'terbaik' tanpa mempertimbangkan P-E Fit ibarat memasukkan kunci yang salah ke dalam lubang pintu; seberapa kuat pun kita memutarnya, pintu itu tidak akan terbuka, malah kuncinya yang berisiko patah

Memilih pesantren bukan sekadar mencari yang "terbaik" secara umum, tapi mencari yang paling "klik" dengan kebutuhan unik setiap anak. Anak yang sangat butuh lingkungan kekeluargaan (Affiliation) mungkin akan "layu" di pondok yang terlalu kaku dan kompetitif. Sebaliknya, anak dengan jiwa kepemimpinan kuat justru akan "bersinar" di pondok dengan organisasi santri yang otonom dan dinamis seperti di Gontor atau Mu’allimin.
Pada akhirnya, kunci memilih pesantren yang "pas" adalah melakukan profiling ganda: mengenali motivasi utama anak serta memahami ke mana arah mayoritas alumni dan budaya keseharian pondok tersebut. Langkah profiling ini bukan untuk mencari siapa yang lebih unggul, melainkan untuk menemukan 'mitra' terbaik bagi tumbuh kembang anak. Dengan pemahaman ini, kita perlu menggeser paradigma dari kompetisi antar-lembaga menjadi kolaborasi ekosistem. Tidak ada pondok yang "paling bagus" secara absolut. Yang ada adalah pondok yang "paling tepat" sebagai mitra orang tua dalam mengoptimalkan potensi spesifik anak.
Pengalaman keluarga kami yang bersentuhan dengan berbagai model pesantren membuktikan bahwa keberagaman kurikulum adalah kekayaan, bukan untuk diperdebatkan mana yang lebih unggul. Mari berhenti menjadi pengamat yang hanya melihat kulit luar dan mulailah menjadi orang tua yang analitis. Fokus utama kita bukan lagi mencari 'pesantren sempurna', melainkan melakukan pemetaan kebutuhan yang nyata bagi anak." ​Kenali potensi anak, pahami visi keluarga, dan selami karakteristik pondok. Karena pada akhirnya, keberhasilan pendidikan pesantren bukan diukur dari menterengnya nama lembaga di ijazah, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai di dalamnya terinternalisasi dalam karakter anak kita.

Catatan wali santri, ibu biasa yang sedang belajar menulis...

Jumat, 27 Maret 2026

Moral Hazard dalam Sepiring MBG: Ketika Gizi Anak Menjadi Komoditas

 


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) datang dengan janji besar yakni memutus rantai stunting dan meningkatkan kapasitas kognitif generasi masa depan. Secara administratif, keterlibatan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan upaya untuk memudahkan distribusi nutrisi tanpa membebani guru dengan urusan dapur. Namun, di balik struktur yang terlihat rapi ini, muncul sebuah ancaman laten yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar masalah logistik: Moral Hazard.

Moral hazard terjadi ketika satu pihak mengambil risiko lebih besar atau berperilaku ceroboh karena tahu konsekuensi atas risiko tersebut akan ditanggung oleh pihak lain. Dalam konteks MBG, ketika SPPG ditunjuk sebagai penyedia, terjadi jarak yang lebar antara anggaran triliunan rupiah dengan kenyataan di atas meja makan siswa. Di celah jarak itulah, integritas sering kali dikorbankan demi efisiensi biaya dan keuntungan sepihak.


Nutrisi yang Terdistorsi dan Asimetri Informasi

Dari pengamatan di berbagai satuan pendidikan, saya menemukan realitas yang cukup kontras. Ada jurang lebar antara visi mulia di atas kertas dengan eksekusi di lapangan yang sering kali "salah langkah." Di sinilah moral hazard bekerja melalui asimetri informasi: pemerintah pusat memegang data administratif yang terlihat sempurna, namun penyedia di lapangan adalah satu-satunya yang tahu persis kualitas bahan baku yang sebenarnya mereka olah.

Harapan kita adalah melihat protein berkualitas tinggi masuk ke tubuh anak didik untuk mendukung perkembangan otak mereka. Namun, laporan mengenai porsi makanan yang menyusut, menu yang tidak memenuhi standar gizi seimbang, hingga temuan makanan basi mencerminkan perilaku "nakal" oknum penyedia yang memanfaatkan lemahnya pengawasan harian. Ketika makanan dipandang hanya sebagai unit logistik untuk memenuhi kontrak, maka esensi "bergizi" itu sendiri sering kali menguap demi mengejar margin keuntungan.


Dilema Pengawasan: Siapa yang Menanggung Risiko?

Sentralisasi melalui SPPG sebenarnya bertujuan menciptakan standar nasional. Namun, model ini justru rentan menciptakan "pembiaran" di tingkat lokal. Karena sekolah diposisikan hanya sebagai penerima manfaat murni, ada kecenderungan penyedia merasa tidak memiliki akuntabilitas langsung kepada siswa atau orang tua. Inilah titik kritis moral hazard tersebut:

  • Erosi Empati: Ketika penyajian makanan tidak dilakukan dengan "sentuhan kasih sayang" pendidik di sekolah melainkan melalui kontrak pihak ketiga, aspek pemenuhan hak anak sering kali kalah oleh logika untung-rugi.
  • Risiko yang Dialihkan: Jika makanan yang dikirimkan tidak layak atau kurang gizi, penyedia mungkin merasa risiko reputasi mereka kecil selama laporan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) terlihat rapi. Sementara itu, risiko jangka panjang berupa kegagalan tumbuh kembang sepenuhnya ditanggung oleh siswa dan masa depan bangsa.
  • Standar yang "Lentur": Tanpa integritas moral yang kuat, standar keamanan pangan dianggap sebagai beban biaya tambahan yang bisa dipangkas.


Keadilan bagi SPPG yang Amanah

Lebih dari itu semua, sangat penting bagi kita untuk tetap bersikap adil dalam melihat potret di lapangan. Di tengah kritik ini, kita tetap harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada banyak SPPG yang tetap menjaga amanah. Masih banyak pengelola yang bekerja dengan hati, memastikan setiap butir nasi dan potongan protein sampai ke tangan siswa dalam keadaan segar, bersih, dan sesuai standar gizi.

Para pejuang gizi yang jujur ini membuktikan bahwa sistem distribusi pusat sebenarnya bisa berjalan dengan sangat baik jika dibarengi dengan integritas moral yang kuat. Kehadiran mereka adalah bukti bahwa moral hazard bukanlah penyakit sistemik yang tidak bisa disembuhkan, melainkan penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh segelintir oknum. Justru karena adanya SPPG yang amanah inilah, perilaku oknum yang "nakal" menjadi terlihat sangat kontras dan tidak bisa ditoleransi. Kita perlu melindungi para penyedia yang jujur ini dengan cara menindak tegas mereka yang curang, agar standar kualitas nasional tetap terjaga.


Mengembalikan Hak Nutrisi Anak

Sebagai praktisi pendidikan, saya melihat bahwa gizi bukan sekadar angka kalori, melainkan instrumen pembentuk kepercayaan anak terhadap sistem. Jika anak-anak kita setiap hari disuguhi makanan yang tidak layak, kita secara tidak langsung sedang mengajari mereka bahwa kualitas dan kejujuran adalah hal yang bisa ditoleransi dalam pelayanan publik.

Kita tidak boleh membiarkan sekolah menjadi objek pasif yang bungkam. Mekanisme kontrol harus ditarik kembali ke akar rumput. Satuan pendidikan harus diberikan wewenang penuh untuk melakukan audit kualitas secara harian dan memiliki hak veto untuk menolak distribusi jika ditemukan ketidaksesuaian standar gizi maupun kebersihan.

MBG adalah investasi masa depan yang terlalu berharga untuk dikorupsi oleh mentalitas pemburu rente. Kita tidak butuh sekadar makan gratis yang asal kenyang; kita butuh asupan yang bermartabat dan penuh integritas. Jangan biarkan moral hazard merampas nutrisi otak anak-anak kita. Mari kita pastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan negara benar-benar berubah menjadi kecerdasan, bukan sekadar angka di buku rekening para spekulan.***

 




Minggu, 15 Februari 2026

BELAJAR DARI GAGALNYA JD.ID DIREKTURNYA SUKA BOHONG??





LATAR BELAKANG 
Dibangun pada tahun 1998 dengan nama Jingdong Century Trading.co sebagai toko yang menjual barang elektronik dan belum menjadi e-commerce. Barang dagangan yang mereka jual adalah disk magnet optical. Tahun 2004 mulailah membuat website B2C pertamanya yang rilis dengan nama Jalaser.com. 

Pada tahun 2007 berubah nama lagi menjadi Jingdong Mall. Sebenarnya konsepnya sama dengan yang lama, yakni toko elektronik atau toko offline yang dijadikan online store. Di tahun 2008, JD mall berubah menjadi offer general merchandise, toko yang awalnya hanya menjual barang elektronik menjadi full e-commerce platform sehingga tahun 2010 menjadi benar-benar e-commers. 

Pada tahun 2014 JD.com memulai ekspansi globalnya dan di tahun yang sama JD.com resmi meluncurkan JD.id di Indonesia yang merupakan langkah strategis perusahaan dalam mengembangkan bisnisnya di Asia Tenggara. Sejak itu, JD.id terus berkembang pesat dan memperluas kategori produknya dari produk elektronik hingga produk fashion, kecantikan, makanan dan minuman, serta produk-produk kesehatan dan kebugaran. JD.id juga berfokus pada memberikan pengalaman belanja yang nyaman dan aman bagi para pelanggan dengan menghadirkan layanan pengiriman yang cepat dan dapat dipercaya. 

Sejak diluncurkan pada tahun 2015 JD.id terus mengalami pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 2018, JD.id meraih penghargaan sebagai "E-commerce Terbaik" dalam ajang Indonesia E-commerce Awards. Penghargaan ini merupakan bukti dari kualitas pelayanan dan produk yang ditawarkan oleh JD.id. Perkembangan e-commerce menjadi salah satu industry yang paling cepat di Indonesia dimana penetrasinya 76% diatas China (menit ke 3:32). Padahal market elektronik dan garansi produk dijamin ori hanya dipegang oleh JD.id, mereka juga memiliki logistic center bernama JDL.Express Indonesia yang memiliki 11 gudang, 250 drop point dan 3 ribu kurir tapi ternyata gagal di Indonesia. 

Apa penyebabnya? 

PERMASALAHAN ORGANISASI 
Asumsi Raymond Chins dalam video ini, faktor kegagalan JD.id adalah karena dua hal yakni gagal adaptasi behavior market dan gagal saing dengan competitor lain seperti Tokopedia dan shopee (menit ke 4:20). 

Fenomena umum di dunia start up, banyak founder start up yang jago bikin PPT (menit ke 4:45) mereka pintar mengemas sebuah data atau situasi bisnis menjadi lebih indah dari kenyataannya. Sejalan dengan statement Richard Liu pendiri JD.com bahwa 40 VP yang ada di JD.id suka bohong tentang keadaan yang sebenarnya tidak baik-baik saja dilaporkan baik-baik saja (menit ke 5:05) inilah yang menjadi salah satu penyebab gagalnya JD.id. Padahal seharusnya good strategic need good people to create good execution yang membutuhkan orang-orang jujur dan berkarakter good corporate governance dan berintegritas. 

ANALISIS FAKTOR PERILAKU ORGANISASI 
Good Corporate Governance (GCG) merupakan suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang bertujuan untuk mengelola risiko, mengatur pola hubungan harmonis antara perusahaan dan pemangku kepentingan, serta menciptakan pengawasan efektif berdasarkan keseimbangan hak dan tanggung jawab. 

Menurut Komite Cadburry (dalam Tjager et al, 2003, hal.26), Good Corporate Governance adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya . 

Dalam kasus JD.id ini, pola hubungan antara perusahaan dengan pemangku kepentingan tidaklah didasari dengan karakter yang jujur dan integritas tinggi oleh para VP nya. Padahal prinsip-prinsip GCG meliputi profesionalisme, kewajaran, transparansi, akuntabilitas, serta tanggung jawab. Selain itu, GCG juga mencakup komitmen terhadap teamwork, integrity, professionalism, dan service excellence (anggita, 2023). 

Sementara itu integritas dalam kepemimpinan menjadi perhatian yang makin berkembang dalam bisnis dan organisasi (Kanungo & Mendonca, 1996) Dalam kasus Jd.id ini, Dimana para VP mengemas laporan yang tidak sesuai realitas menyebabkan eksekusi yang tidak tepat dan berakhir dengan ditutupnya JD.id ini merugikan banyak pihak yang telibat didalamnya, termasuk konsumen. 

Dunia bisnis menjadi ajang pertarungan tentang komitmen menjunjung tinggi nilai-nilai etis di tengah-tengah perburuan meraih sukses dilihat dari tolok ukur ekonomi yang kasat mata. Dunia bisnis memberikan banyak peluang untuk bisa melakukan segala cara demi meraih keuntungan sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Makin besar suatu bisnis, akan makin besar peluang untuk menentukan apa yang akan dilakukannya, termasuk dengan mengabaikan kewajiban-kewajiban etis yang mengikatnya untuk diamalkan. 

Dalam dunia kerja, kata integritas bukan hanya masalah kejujuran, masalah etis dan moral, bahwa orang tidak berbohong atau tidak melakukan hal-hal tidak bermoral. Integrity berkaitan juga dengan kinerja, suatu pencapaian hasil baik yang dicapai dengan selalu menjunjung tinggi kejujuran dan nilai-nilai moral lainnya. Kata integrity berasal dari akar kata “integrated”, yang berarti berbagai bagian dari karakter dan keterampilan berperan aktif dalam diri kita, yang tampak dari keputusankeputusan dan tindakan-tindakan kita (Lee, 2006). 

Untuk dapat menghasilkan kinerja baik di tempat kerja, seseorang harus memiliki dalam dirinya kemampuan-kemapuan seperti, jujur, berani, berdaya juang, membangun hubungan baik, pandai mengorganisasikan diri sendiri, teratur, dan terencana dengan baik. Seorang pemimpin selalu menjadi pusat perhatian, pedoman, dan acuan bagi semua anggota dalam organisasi. Hal-hal yang diputuskan atau dilakukannya selalu menjadi referensi bagi para anggota dalam bertindak termasuk para pemangku kepentingan, dalam kasus ID.id ini adalah pemegang saham. Hal-hal yang diperhatikan khususnya menyangkut konsistensi antara perkataan dan tindakannya, cara dia menangani masalah, menghadapi keluhan karyawan dan pelanggan, dan pertimbangan-pertimbangan yang digunakannya ketika hendak memutuskan sesuatu. 

Ketika kebijakan yang diambil ternyata keliru, dimana secara terang-terangan atau samarsamar mengabaikan aspek-aspek etis, maka seluruh karyawan atau bawahan ikut terbawa untuk mewujudkan keburukan atau kekeliruan yang terkandaung dalam kebijakan itu. 

KESIMPULAN 
Fokus utama dari video ini adalah membahas kegagalan JD.ID di Indonesia dan dugaan kebohongan dari direktur JD.ID terkait dengan kinerja perusahaan dan alasan penutupan bisnis mereka di Indonesia. Video ini juga memberikan pelajaran yang dapat diambil dari kasus JD.ID, termasuk pentingnya pemahaman mendalam tentang pasar lokal dan perubahan perilaku konsumen. 

Maka yang bisa kita pelajari dari kasus JD.id ini adalah : Good people matters, good character good integrity. Seseorang yang memiliki integritas dapat menunjukkan bahwa mereka membuat pilihan-pilihan etis dalam kehidupan mereka tiap hari. Mereka aktif mempromosikan integritas melalui sikap dan tindakan pribadi mereka, kepercayaan dan komitmen pada nilai inti organisasi (Gauss, 2000). 

Secara lebih jelas hal ini dikemukakan oleh Simons (2002), bahwa integrity merupakan sebuah pola yang kelihatan dimana adanya kesamaan antara kata dan perbuatan. Adaptasi market, bahwa strategi yang sukses di suatu negara belum tentu bisa dibawa atau diadaptasi ke negara lain. 

REFERENSI 
Link Video : https://www.youtube.com/watch?v=XAsI0MDrkdE. Raymond Chin 
https://employers.glints.com/id-id/blog/5-prinsip-good-corporate-governance-gcg/ https://media.neliti.com/media/publications/167005-ID-integritas-personal-dan-kepemimpinan-eti.pdf http://etheses.iainkediri.ac.id/7454/3/931418218_bab2.pdf https://repository.unsri.ac.id/53105/1/Perilaku%20Organisasi%20Revisi%20Final.pdf

Sabtu, 04 Oktober 2025

“MERANTAU”

 

Adinda Rahma Salsabila

Kelas 5B SD Plus Rahmat

 


Bis melaju perlahan meninggalkan terminal Arjosari, bayangan ibu semakin kecil dibelakang. Dari jauh kulihat ibu menyeka air matanya, pun aku tak lagi bisa membendung tangis yang sudah kutahan sejak kemarin. Kulirik Salman yang duduk dibangku sebelah, memandangku dengan iba. Tak ada tangis dimata Salman, sebab perjalanan kami ini diantar oleh Ayahnya.

Namaku Maman, kemarin aku baru saja menerima ijazah kelulusan SD dengan nilai tertinggi se kota Malang. Sebenarnya aku bisa masuk ke SMP mana saja yang aku mau tapi aku lebih memilih jalan ini, mondok ke pesantren di Jogjakarta.

Didekat rumahku ada masjid bagus sekali, sejak kecil aku belajar mengaji disana. Disitulah aku bertemu dengan Pak Haji Ramelan sang pemilik masjid. Beliau sering bercerita tentang orang-orang sukses yang merantau. Aku ingin sekali seperti mereka, merantau sepertinya seru. Setiap kali Haji Ramelan bercerita aku menyimak dengan seksama lalu aku berdoa kepada Allah agar aku diberi kesempatan untuk merantau. Doaku terkabul, suatu sore Haji Ramelan memanggilku dan menawari aku untuk mondok ke Jogjakarta. Kata beliau disana ada pesantren modern yang bagus sekali. Muridnya kalau ngobrol pakai bahasa asing, wah aku membayangkan keren sekali bukan jika aku bisa bicara pakai bahasa arab dan inggris dengan fasih. Haji Ramelan jugalah yang mengenalkan aku dengan Salman, anak seumuranku yang juga akan berangkat ke Jogjakarta untuk mondok

Sampai dirumah aku sampaikan keinginanku kepada Ayah dan Ibu.  Awalnya Ayahku menentang keras, nggak ada seorangpun di keluarga besarku yang mondok. Terutama masalah biaya. Ayahku keberatan jika aku harus merantau jauh sampai ke Jogjakarta. Pekerjaan ayahku yang hanya penjual makanan keliling tidak menghasilkan banyak uang, padahal untuk mondok butuh biaya yang tidak sedikit. Tapi aku sudah bertekad kuat, aku harus keluar dari Malang kalau aku ingin sukses. Meskipun aku juga nggak tau, seperti apa pesantren itu. Alhamdulillah Ibu mendukungku seratus persen dan meyakinkan Ayah agar aku bisa mondok ke Jogja.

Dan disinilah aku sekarang, diatas bis Malang Indah menuju kota impianku untuk mencari ilmu, seorang diri. Saat kupejamkan mata untuk mengusir sedih, terbayang wajah Ibu yang tadi pagi memelukku sambil meminta maaf karena tak bisa mengantar sampai Jogja. Aku paham, Bu...ibu harus bekerja keras agar aku bisa merantau. Aku janji, Bu...kelak akan kubawa Ibu mengunjungi ka’bah seperti cita-cita Ibu. Lambat laun kurasakan laju bis semakin kencang dan membuatku tertidur sepanjang perjalanan menuju Jogjakarta.

Kurasakan bahuku diguncang oleh seseorang yang ternyata Salman, “Man, bangun. Persiapan kata Ayah sebentar lagi kita sampai”. Saat mataku terbuka dengan sempurna bis sudah berhenti di terminal Jogjakarta. Dari terminal kami bertiga naik becak ke pesantren, hatiku rasanya campur aduk kala itu antara sedih, senang, ingin menangis dan ingin tertawa. Entahlah, tapi tekatku sudah bulat aku pantang pulang sebelum berhasil. Aku ingin membahagiakan ibuku. Maka ketika semua kawanku dinatar oleh orangtuanya dan aku sendirian mengurus ini dan itu tak jadi masalah bagiku. Aku harus berhasil, aku harus menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, aku tak boleh manja.

Itu adalah kisahku tiga puluh tahun lalu, hari ini dari lantai sebelas ruang kerjaku tampak kota Jakarta diguyur hujan deras. Setelah enam tahun di pesantren, dengan segala keterbatasan karena kondisi ekonomi orangtuaku yang kurang mampu. Aku melanjutkan kuliah dengan menempuh berbagai cara. Berburu beasiswa, menulis resensi di koran, menjadi guru mengaji semua kulakukan agar aku bisa terus kuliah tanpa merepotkan Ibu. Dan kau tau, bahwa jika kau bersungguh-sungguh maka akan tercapailah apa yang kau inginkan.

Dan disinilah aku sekarang, menjadi CEO sebuah perusahaan besar yang cabangnya tersebar diseluruh Indonesia. Aku, Maman si anak pesantren yang miskin itu berhasil menembus keterbatasan berkat ridho dan doa ibuku serta kesungguhan untuk selalu melakukan yang terbaik yang aku mampu. Ah, tiba-tiba aku rindu sekali dengan Ibu padahal baru seminggu yang lalu kami pulang dari makkah untuk berumroh. Iya, aku telah berhasil mewujudkan impian Ibuku untuk mengunjungi baitullah.***



 

Rabu, 01 Oktober 2025

PPT Mengenal Diri Mengelola Bahagia

 































































MENGENAL DIRI, MENGELOLA BAHAGIA

 

Disampaikan dalam Webinar Ikatan Keluarga Besar Istri (IKBI) 

PT Sinegri Gula Nusantara

Kamis, 2 Oktober 2025

 




KARENA IBU BEGITU BERHARGA

Dalam sebuah keluarga Ibu memegang banyak peran sekaligus, penghangat rumah, pengatur keuangan, tempat curhat, sekaligus guru pertama bagi anak-anak. Peran ini luar biasa, tapi juga menguras energi, emosi, dan pikiran. Seringkali, di tengah semua itu, kita lupa satu hal penting yakni mengenal dan merawat diri sendiri.
Itulah mengapa tema webinar ini, “Mengenal Diri, Mengelola Bahagia”, menjadi sangat relevan.

Kita tidak bisa terus memberi jika diri kita sendiri kosong. Rasa lelah, emosi yang naik turun, dan stres yang datang silih berganti seringkali muncul karena kita belum benar-benar memahami diri kita sendiri, apa yang memicu kita, apa kekuatan kita, dan apa yang perlu kita perbaiki.

Mengenal diri bukanlah hal mewah. Ini adalah langkah dasar agar kita bisa menjadi ibu dan istri yang lebih tenang, bahagia, dan hadir sepenuhnya untuk keluarga. Dari sini, kita belajar berhenti menyalahkan diri, dan mulai mensyukuri apa yang sudah kita miliki.

Webinar ini adalah undangan hangat untuk Ibu-ibu hebat anggota IKBI:
yuk, ambil jeda sejenak. Temukan kembali arah, dan pelan-pelan pulang dari rasa lelah dan stres.

Dengan bantuan alat sederhana seperti Analisis SWOT dan Jendela Johari, kita bisa belajar memahami diri dengan lebih jujur, mengelola emosi dengan lebih bijak, dan memperkuat hubungan dalam keluarga.

Tujuan kita bukan menjadi sempurna. Cukup menemukan versi terbaik diri kita agar kita bisa kembali ke rumah dengan hati yang penuh, dan menjadi sumber ketenangan bagi keluarga.


MENGAPA PENTING MENGENAL DIRI?

Mengenal diri bukan sekadar tahu siapa kita, tapi memahami isi hati, pikiran, dan potensi kita. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai perjalanan menuju aktualisasi diri menjadi versi terbaik dari diri kita. Kita semua punya potensi itu, hanya saja perlu dikenali dan dikembangkan.

Perjalanan ini bertahap: mulai dari kebutuhan dasar, rasa aman, cinta, penghargaan, hingga akhirnya mencapai potensi diri sepenuhnya. Ketika Ibu mulai mengenali:

  • Kekuatan, Ibu akan lebih percaya diri dan merasa berharga
  • Kelemahan, Ibu punya kesempatan untuk bertumbuh
  • Potensi tersembunyi, Ibu bisa berkembang lebih jauh dari yang dibayangkan

Ibu yang mengenal dirinya dengan baik akan lebih utuh secara emosional. Ia tidak lagi bergantung pada penilaian orang lain, tapi mampu memberi dari dalam dirinya sendiri.

 

MANFAAT MENGENAL DIRI

  1. Lebih mampu mengelola emosi dan stress Saat tahu apa yang memicu emosi, kita jadi lebih siap menghadapinya.
  2. Lebih bijak dalam mengambil Keputusan Karena kita tahu apa yang penting dan sesuai dengan nilai hidup kita.
  3. Hubungan lebih hangat dan sehat Karena kita lebih mudah memahami dan berempati pada orang lain.

 

ANALISIS DIRI vs MENGHAKIMI DIRI

Penting untuk membedakan ini:

Analisis diri itu membangun → “Saya kurang disiplin, mungkin saya perlu mulai dari jadwal sederhana.”

Menghakimi diri itu menjatuhkan → “Saya pemalas, tidak becus jadi ibu.”

Fokus analisis diri adalah memperbaiki, bukan menyalahkan.

 

HATI-HATI DENGAN SELF-DIAGNOSIS

Mencari tahu diri itu baik. Tapi memberi label pada diri sendiri seperti “saya depresi” atau “saya bipolar” tanpa bantuan profesional bisa berbahaya. Kalau memang merasa kewalahan, tidak apa-apa mencari bantuan. Itu justru bentuk keberanian, bukan kelemahan.

 

ALAT UNTUK MENGENAL DIRI

1. Analisis SWOT

  • Kekuatan: apa yang sudah Ibu kuasai
  • Kelemahan: apa yang perlu diperbaiki
  • Peluang: kesempatan dari lingkungan
  • Ancaman: hambatan dari luar

2. Jendela Johari Membantu kita melihat diri dari sudut pandang sendiri dan orang lain. Kadang, ada hal tentang diri kita yang justru lebih terlihat oleh orang lain.

 

MENGENAL DIRI = MERAWAT DIRI

Setelah tahu kekuatan dan kelemahan, langkah berikutnya adalah merawat diri. Self-care itu bukan kemewahan. Self-care adalah kebutuhan. Bukan harus ke spa.
Cukup hal kecil yang mengisi ulang energi kita.

Contoh sederhana:

  • Berhenti scroll 5 menit, ganti dengan tarik napas atau dzikir
  • Menulis satu hal yang disyukuri sebelum tidur
  • Memberi batas waktu untuk pekerjaan rumah

Dan satu hal penting: tidak perlu merasa bersalah saat merawat diri.
Karena Ibu yang terjaga, akan lebih mampu menjaga keluarga.

 

LANGKAH NYATA KE DEPAN

  • Kembangkan kekuatan yang sudah ada
  • Kelola kelemahan tanpa menyalahkan diri
  • Manfaatkan peluang di sekitar
  • Terima diri apa adanya, sambil terus bertumbuh

Tidak perlu perubahan besar. Cukup langkah kecil yang konsisten.

 

PERTANYAAN REFLEKSI

Setelah ini, apa satu hal kecil yang bisa Ibu mulai untuk lebih mengenal diri sendiri? Mungkin mulai menulis jurnal, atau meminta feedback jujur dari orang terdekat. Mari kita saling menguatkan dalam komunitas IKBI. Berbagi cerita, belajar bersama, dan bertumbuh bersama. Karena Ibu yang bahagia, akan menciptakan keluarga yang bahagia.

Dengan penuh cinta, Novie Anggriani Herman, S.Psi

 




 

 

Kamis, 25 September 2025

SIKAT GIGI UNTUK KANAN

 






Sedikit dari kita, bisa jadi bernilai besar bagi mereka - ovi

Pagi itu, Bu Nur menyerahkan buku laporan keuangan Beasiswa "Bintang Guruku" ke tanganku setelah menandatanganinya. Tertera saldo sekian juta rupiah untuk bulan ini. Beberapa anak telah dibelikan sepatu dan tas. Alhamdulillah, program beasiswa yang kami gagas delapan tahun lalu itu masih berjalan hingga hari ini. Awalnya hanya dimulai oleh kami bertiga (aku, Bu Nur dan Pak Luk) kini hampir semua guru telah menjadi donatur tetap. Menerima buku itu mengingatkanku pada suatu siang beberapa tahun lalu, yang menjadi cikal bakal beasiswa ini.

***

"Aku nggak tahan sama bau anak itu, Bu Nur. Padahal sudah kuingatkan sikat gigi sebelum ke sekolah," keluh seorang guru setelah keluar dari kelas 7A.

"Iya, ya ampun. Anak itu kok kayak nggak mandi. Kasihan dijauhi teman-temannya," timpal guru lain. Aku melirik Bu Nur yang duduk di sebelahku. Senyumnya canggung, menahan perasaan tak nyaman.

"Siapa?" bisikku pelan.

"Kanan," jawab Bu Nur pendek, menyebut nama siswa baru yang sedang jadi 'trending topic' ruang guru pagi itu.

***

Bel istirahat berbunyi, aku melangkah ke kelas 7A mencari anak baru bernama Kanan. Tiga anak tersisa di dalam kelas saat aku datang, dua gadis dan seorang anak lelaki yang duduk di pojok ruang kelas. Terpekur sendirian.

"Tidak ke kantin, Nduk?" tanyaku sambil menyalami dua gadis yang tergopoh mencium tanganku

"Lagi puasa, Bu," jawab salah satu gadis, aku tersenyum dan memuji lalu berjalan mendekati anak lelaki yang duduk terpaku seperti patung di pojokan kelas. Rambutnya kusut, seragamnya kucel dan bau menyengat saat didekatnya.

"Tidak istirahat, Le?". Ia menggeleng pelan lalu berkata, "nggak bawa sangu, Bu." Aku tersenyum, "ini ada donat, makanlah". Ia menerimanya dengan ragu, menggigit pelan sambil melirikku.

"Le, boleh nggak kalau saya dan Bu Nur main ke rumahmu?" tanyaku. Ia berpikir sebentar, lalu mengangguk.

***

Mencari rumah Kanan tidak mudah, kami sempat kesasar beberapa kali sampai menemukan rumah itu yang ternyata berdiri dibelakang sebuah rumah besar. Kami terpaku cukup lama didepan sebuah bangunan reyot yang pintu depannya disangga dengan dua bilah bambu. Rumah itu berlantai tanah, terdapat sebuah lemari tua serta bangku kayu panjang. Seorang perempuan muda tergopoh-gopoh mendatangi kami dari samping rumah sambil menggendong bayi. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai ibunya Kanan.

"Kanan nakal, Bu Guru?" tanyanya cemas.

"Tidak, Bu. Kami hanya ingin silaturahmi," jawabku sambil memperkenalkan diri sebagai guru BK dan Bu Nur, wali kelas anaknya. Kami mengobrol cukup lama, menggali data latar belakang Kanan sehari-hari sembari menyelipkan pesan-pesan terkait pentingnya kebersihan dan kerja sama antara keluarga dan sekolah.

Dalam perjalanan pulang, Bu Nur yang sangat melankolis itu menangis sesenggukan tak tega menyaksikan kondisi keluarga Kanan. Saya juga speechless, ndak bisa ngomong apa-apa lagi. Tiba-tiba bu Nur berkata, "Din, ayo mampir swalayan. Kita beli sikat gigi"

***

Kami kembali ke sekolah dengan sekantong besar kresek berisi sabun, odol, peralatan mandi, sedikit sembako, dan makanan ringan hasil urunan saya dengan Bu Nur.

Siang itu terik sekali. Bayangkan, saya yang seukuran botol yakult naik motor pinjaman membonceng Bu Nur yang gemoy, terus muter-muter nyari rumah Kanan lalu mampir pasar dan kembali ke sekolah. Tenggorokanku rasanya seperti tercekik, saking hausnya.

"Opo kuwi?" tanya Pak Luk

"Odol," jawabku sekenanya sambil membuka tutup botol air mineral, dan meneguknya dengan nikmat. Melihat wajahku yang kesal karena Pak Luk terus bertanya sementara aku hampir dehidrasi, Bu Nur berinisiatif menceritakan kisah petualangan kami siang itu. Tiba-tiba tanpa diminta, Pak Luk mengeluarkan dompet dari saku belakang celana kempolnya dan menyerahkan selembar uang seratus ribu padaku, "Aku melu urunan, Din."

Aku hampir tersedak, melongo saat menerima uang itu. Dan entah sejak kapan Bu Budipur dan Bu Bondan memperhatikan kami bertiga, tetiba mereka berdua juga mengangsurkan lembaran merah dan biru padaku.

"eh...piye ki maksudnya", aku bingung

"ngene Din, kamu belio buku kas terus cateten uang-uang kami itu nanti aku sama Luk dan Bu Bondan ngajak yang lain. Bu Nur ketuanya. Banyak loh anak-anak yang nggak mampu tapi nggak dapat beasiswa dari pemerintah. Di kelasku juga ada", itu suara Bu Budipur. Bu Bondan mengangguk-angguk sambil mengunyah donat.

***

Dari sinilah gerakan beasiswa "Bintang Guruku" bermula. Dari kami bertiga, lalu disusul Bu Budipur, Bu Bondan, Bu Endang lantas berkembang menjadi gerakan kolektif yang hampir semua guru menjadi donatur tetap, tanpa ditagih tanpa diminta. Sukarela dan ikhlas lillahi ta'ala.

Tak hanya Kanan yang terbantu, banyak anak-anak lain yang sepatunya rusak, tasnya sobek, atau baju sekolahnya kekecilan bisa kembali percaya diri. Laporan keuangan kami sampaikan secara terbuka setiap bulan.

***

Inisiatif kecil seperti ini akhirnya bukan tentang Kanan, tetapi membuka ruang empati yang lebih luas. Ini aksi nyata dari intervensi preventif berbasis lingkungan sekolah, yang tidak harus dimulai dari program besar melainkan dari kepekaan hati para pendidik.

Sejatinya, value seorang Guru bukan hanya kemampuannya mengajar, tetapi kepekaan dalam melihat yang tak tampak seperti aroma tubuh, raut canggung, atau diam yang bukan sekadar diam.

Gerakan "Bintang Guruku" adalah contoh nyata pendidikan berbasis cinta kasih. Maka jangan abaikan keluhan kecil, bisa jadi itu pintu masuk untuk menyentuh hidup anak didik kita. Mari menjadi bagian dari mata rantai kebaikan.

Catatan kecil konselor sekolah - Novie Anggriani, S.Psi

****

I have written this story in a book at 2020, I rewrote it now as a beautiful memory of friendship and brotherhood for 15 years at a public junior high school in east Kediri.

***

Ps : Din adalah panggilan sayang teman-temanku di sekolah tempat aku mengabdi selama 15 tahun, karena aku datang paling akhir waktu itu. it's mean, bontot. Dan kebetulan anakku yang bungsu bernama Din. Jadilah aku dipanggil Din pula oleh mereka.