Hari Raya Idul adha sering dipahami sebatas ritual penyembelihan hewan qurban. Padahal, di balik gema takbir dan darah yang menetes di tanah, tersimpan pelajaran spiritual dan psikologis yang sangat dalam tentang manusia. Tentang kehilangan, tentang keikhlasan dan tntang keberanian melepaskan sesuatu yang paling dicintai.
Barangkali benar, setiap kita adalah Ibrahim. Kita semua memiliki “Ismail” dalam hidup masing-masing. Sesuatu yang begitu kita cintai, kita banggakan, kita pertahankan mati-matian. Bisa berupa jabatan, ambisi, anak, pasangan, harta, bahkan luka masa lalu yang masih kita pelihara. Dan seperti Ibrahim, manusia sering diuji bukan pada hal yang tidak ia miliki, tetapi justru pada apa yang paling ia cintai.
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab: ‘Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Ayat ini bukan hanya menggambarkan kepatuhan seorang nabi dan anaknya, tetapi juga memperlihatkan pergulatan emosional manusia yang sangat dalam. Secara psikologis, melepaskan sesuatu yang melekat pada diri bukanlah perkara mudah. Manusia memiliki attachment atau keterikatan emosional pada segala hal yang ia cintai dan banggakan. Itulah yang membuatnya merasa aman, berarti, dan utuh. Ketika keterikatan itu terancam hilang, muncullah kecemasan, penolakan, bahkan penderitaan batin.Karena itu, perintah Allah kepada Ibrahim untuk “mengorbankan” Ismail bukan hanya ujian iman, tetapi juga ujian psikologis yang luar biasa. Ibrahim diuji pada batas terdalam cinta seorang ayah. Dari situlah kita belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.
Dalam kehidupan modern, manusia sering terjebak pada ilusi kontrol. Kita ingin segala sesuatu tetap ada dalam genggaman. Kita ingin anak sesuai harapan, pekerjaan berjalan sempurna, hubungan selalu utuh, dan hidup bergerak sesuai rencana. Ketika realitas tidak sesuai ekspektasi, manusia mudah kecewa, marah, bahkan kehilangan arah. Kondisi ini disebut sebagai fear of loss, ketakutan kehilangan yang sering menjadi sumber stres dan kecemasan terdalam manusia. Ironisnya, semakin kuat seseorang menggenggam sesuatu, semakin besar pula rasa takutnya untuk kehilangan.Di titik inilah Islam menawarkan jalan penyembuhan, ikhlas.
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)
Ayat ini menunjukkan bahwa pengorbanan bukan sekadar memberi apa yang tersisa, tetapi merelakan sesuatu yang memiliki nilai emosional bagi diri kita. Qurban bukan tentang kehilangan semata, melainkan tentang memurnikan hati dari keterikatan yang berlebihan kepada dunia.Ikhlas bukan berarti tidak mencintai dunia. Ikhlas adalah kemampuan untuk menyadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan. Bahwa ada saat ketika manusia harus belajar berkata, “Aku mencintainya, tetapi aku tidak boleh diperbudak olehnya.”
Qurban mengajarkan manusia tentang detasemen emosional yang sehat. Bukan menjadi cuek atau tidak peduli, melainkan mampu mencintai tanpa kehilangan Tuhan dalam cintanya. Sebab banyak manusia hancur bukan karena kehilangan sesuatu, tetapi karena menjadikan sesuatu itu pusat hidupnya. Ibrahim,sesungguhnya sedang menunjukkan bentuk tertinggi kesehatan spiritual, ketika cinta kepada Tuhan mampu menata cinta kepada dunia.
Menariknya, dalam perspektif psikologi, kemampuan melepaskan ini berkaitan erat dengan psychological resilience atau daya lenting jiwa. Orang yang sehat secara mental bukanlah mereka yang tidak pernah kehilangan, tetapi mereka yang mampu menerima perubahan, berdamai dengan ketidakpastian, dan tetap memiliki makna hidup setelah kehilangan. Dan itulah yang dilakukan Ibrahim. Ia tidak memberontak, tidak tenggelam dalam ketakutan. Ia percaya bahwa ketaatan tidak akan pernah membuat manusia benar-benar kehilangan. Justru setelah keikhlasan itu mencapai puncaknya, Allah mengganti Ismail dengan sembelihan lain. Seolah Allah ingin menunjukkan bahwa Dia tidak membutuhkan darah dan daging manusia. Yang Allah kehendaki adalah ketakwaan dan kebersihan hati.
Karena itu, qurban sejatinya bukan tentang kambing atau sapi yang disembelih. Yang lebih penting adalah ego yang dipotong, keserakahan yang disembelih, dan keterikatan berlebihan yang dikendalikan.Mungkin hari ini kita tidak diminta menyembelih anak seperti Ibrahim. Tetapi kita diminta menyembelih kesombongan, ambisi yang rakus, dendam yang dipelihara, dan ketakutan yang membuat kita jauh dari Tuhan.Dan setiap kita sedang berjalan menuju tempat penyembelihan masing-masing, tempat di mana hidup memaksa kita memilih antara menggenggam dunia atau belajar percaya kepada Allah. Dan dari situlah manusia belajar bahwa yang membuat hati tenang bukanlah memiliki segalanya, melainkan mampu merelakan apa pun ketika Tuhan memintanya kembali.
Malang, 10 Dzulhijjah 1447H
Novie Anggriani
Menulis, merefleksi diri sendiri
Komentar
Posting Komentar