SIKAT GIGI UNTUK KANAN


 



Sedikit dari kita, bisa jadi bernilai besar bagi mereka - ovi

Pagi itu, Bu Nur menyerahkan buku laporan keuangan Beasiswa "Bintang Guruku" ke tanganku setelah menandatanganinya. Tertera saldo sekian juta rupiah untuk bulan ini. Beberapa anak telah dibelikan sepatu dan tas. Alhamdulillah, program beasiswa yang kami gagas delapan tahun lalu itu masih berjalan hingga hari ini. Awalnya hanya dimulai oleh kami bertiga (aku, Bu Nur dan Pak Luk) kini hampir semua guru telah menjadi donatur tetap. Menerima buku itu mengingatkanku pada suatu siang beberapa tahun lalu, yang menjadi cikal bakal beasiswa ini.

***

"Aku nggak tahan sama bau anak itu, Bu Nur. Padahal sudah kuingatkan sikat gigi sebelum ke sekolah," keluh seorang guru setelah keluar dari kelas 7A.

"Iya, ya ampun. Anak itu kok kayak nggak mandi. Kasihan dijauhi teman-temannya," timpal guru lain. Aku melirik Bu Nur yang duduk di sebelahku. Senyumnya canggung, menahan perasaan tak nyaman.

"Siapa?" bisikku pelan.

"Kanan," jawab Bu Nur pendek, menyebut nama siswa baru yang sedang jadi 'trending topic' ruang guru pagi itu.

***

Bel istirahat berbunyi, aku melangkah ke kelas 7A mencari anak baru bernama Kanan. Tiga anak tersisa di dalam kelas saat aku datang, dua gadis dan seorang anak lelaki yang duduk di pojok ruang kelas. Terpekur sendirian.

"Tidak ke kantin, Nduk?" tanyaku sambil menyalami dua gadis yang tergopoh mencium tanganku

"Lagi puasa, Bu," jawab salah satu gadis, aku tersenyum dan memuji lalu berjalan mendekati anak lelaki yang duduk terpaku seperti patung di pojokan kelas. Rambutnya kusut, seragamnya kucel dan bau menyengat saat didekatnya.

"Tidak istirahat, Le?". Ia menggeleng pelan lalu berkata, "nggak bawa sangu, Bu." Aku tersenyum, "ini ada donat, makanlah". Ia menerimanya dengan ragu, menggigit pelan sambil melirikku.

"Le, boleh nggak kalau saya dan Bu Nur main ke rumahmu?" tanyaku. Ia berpikir sebentar, lalu mengangguk.

***

Mencari rumah Kanan tidak mudah, kami sempat kesasar beberapa kali sampai menemukan rumah itu yang ternyata berdiri dibelakang sebuah rumah besar. Kami terpaku cukup lama didepan sebuah bangunan reyot yang pintu depannya disangga dengan dua bilah bambu. Rumah itu berlantai tanah, terdapat sebuah lemari tua serta bangku kayu panjang. Seorang perempuan muda tergopoh-gopoh mendatangi kami dari samping rumah sambil menggendong bayi. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai ibunya Kanan.

"Kanan nakal, Bu Guru?" tanyanya cemas.

"Tidak, Bu. Kami hanya ingin silaturahmi," jawabku sambil memperkenalkan diri sebagai guru BK dan Bu Nur, wali kelas anaknya. Kami mengobrol cukup lama, menggali data latar belakang Kanan sehari-hari sembari menyelipkan pesan-pesan terkait pentingnya kebersihan dan kerja sama antara keluarga dan sekolah.

Dalam perjalanan pulang, Bu Nur yang sangat melankolis itu menangis sesenggukan tak tega menyaksikan kondisi keluarga Kanan. Saya juga speechless, ndak bisa ngomong apa-apa lagi. Tiba-tiba bu Nur berkata, "Din, ayo mampir swalayan. Kita beli sikat gigi"

***

Kami kembali ke sekolah dengan sekantong besar kresek berisi sabun, odol, peralatan mandi, sedikit sembako, dan makanan ringan hasil urunan saya dengan Bu Nur.

Siang itu terik sekali. Bayangkan, saya yang seukuran botol yakult naik motor pinjaman membonceng Bu Nur yang gemoy, terus muter-muter nyari rumah Kanan lalu mampir pasar dan kembali ke sekolah. Tenggorokanku rasanya seperti tercekik, saking hausnya.

"Opo kuwi?" tanya Pak Luk

"Odol," jawabku sekenanya sambil membuka tutup botol air mineral, dan meneguknya dengan nikmat. Melihat wajahku yang kesal karena Pak Luk terus bertanya sementara aku hampir dehidrasi, Bu Nur berinisiatif menceritakan kisah petualangan kami siang itu. Tiba-tiba tanpa diminta, Pak Luk mengeluarkan dompet dari saku belakang celana kempolnya dan menyerahkan selembar uang seratus ribu padaku, "Aku melu urunan, Din."

Aku hampir tersedak, melongo saat menerima uang itu. Dan entah sejak kapan Bu Budipur dan Bu Bondan memperhatikan kami bertiga, tetiba mereka berdua juga mengangsurkan lembaran merah dan biru padaku.

"eh...piye ki maksudnya", aku bingung

"ngene Din, kamu belio buku kas terus cateten uang-uang kami itu nanti aku sama Luk dan Bu Bondan ngajak yang lain. Bu Nur ketuanya. Banyak loh anak-anak yang nggak mampu tapi nggak dapat beasiswa dari pemerintah. Di kelasku juga ada", itu suara Bu Budipur. Bu Bondan mengangguk-angguk sambil mengunyah donat.

***

Dari sinilah gerakan beasiswa "Bintang Guruku" bermula. Dari kami bertiga, lalu disusul Bu Budipur, Bu Bondan, Bu Endang lantas berkembang menjadi gerakan kolektif yang hampir semua guru menjadi donatur tetap, tanpa ditagih tanpa diminta. Sukarela dan ikhlas lillahi ta'ala.

Tak hanya Kanan yang terbantu, banyak anak-anak lain yang sepatunya rusak, tasnya sobek, atau baju sekolahnya kekecilan bisa kembali percaya diri. Laporan keuangan kami sampaikan secara terbuka setiap bulan.

***

Inisiatif kecil seperti ini akhirnya bukan tentang Kanan, tetapi membuka ruang empati yang lebih luas. Ini aksi nyata dari intervensi preventif berbasis lingkungan sekolah, yang tidak harus dimulai dari program besar melainkan dari kepekaan hati para pendidik.

Sejatinya, value seorang Guru bukan hanya kemampuannya mengajar, tetapi kepekaan dalam melihat yang tak tampak seperti aroma tubuh, raut canggung, atau diam yang bukan sekadar diam.

Gerakan "Bintang Guruku" adalah contoh nyata pendidikan berbasis cinta kasih. Maka jangan abaikan keluhan kecil, bisa jadi itu pintu masuk untuk menyentuh hidup anak didik kita. Mari menjadi bagian dari mata rantai kebaikan.

Catatan kecil konselor sekolah - Novie Anggriani, S.Psi

****

I have written this story in a book at 2020, I rewrote it now as a beautiful memory of friendship and brotherhood for 15 years at a public junior high school in east Kediri.

***

Ps : Din adalah panggilan sayang teman-temanku di sekolah tempat aku mengabdi selama 15 tahun, karena aku datang paling akhir waktu itu. it's mean, bontot. Dan kebetulan anakku yang bungsu bernama Din. Jadilah aku dipanggil Din pula oleh mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar