Adinda Rahma Salsabila
Kelas 5B SD Plus
Rahmat
Bis melaju perlahan meninggalkan terminal Arjosari,
bayangan ibu semakin kecil dibelakang. Dari jauh kulihat ibu menyeka air
matanya, pun aku tak lagi bisa membendung tangis yang sudah kutahan sejak
kemarin. Kulirik Salman yang duduk dibangku sebelah, memandangku dengan iba.
Tak ada tangis dimata Salman, sebab perjalanan kami ini diantar oleh Ayahnya.
Namaku Maman, kemarin aku baru saja
menerima ijazah kelulusan SD dengan nilai tertinggi se kota Malang. Sebenarnya
aku bisa masuk ke SMP mana saja yang aku mau tapi aku lebih memilih jalan ini,
mondok ke pesantren di Jogjakarta.
Didekat rumahku ada masjid bagus sekali, sejak
kecil aku belajar mengaji disana. Disitulah aku bertemu dengan Pak Haji Ramelan
sang pemilik masjid. Beliau sering bercerita tentang orang-orang sukses yang
merantau. Aku ingin sekali seperti mereka, merantau sepertinya seru. Setiap
kali Haji Ramelan bercerita aku menyimak dengan seksama lalu aku berdoa kepada
Allah agar aku diberi kesempatan untuk merantau. Doaku terkabul, suatu sore
Haji Ramelan memanggilku dan menawari aku untuk mondok ke Jogjakarta. Kata
beliau disana ada pesantren modern yang bagus sekali. Muridnya kalau ngobrol
pakai bahasa asing, wah aku membayangkan keren sekali bukan jika aku bisa bicara
pakai bahasa arab dan inggris dengan fasih. Haji Ramelan jugalah yang
mengenalkan aku dengan Salman, anak seumuranku yang juga akan berangkat ke
Jogjakarta untuk mondok
Sampai dirumah aku sampaikan keinginanku
kepada Ayah dan Ibu. Awalnya Ayahku
menentang keras, nggak ada seorangpun di keluarga besarku yang mondok. Terutama
masalah biaya. Ayahku keberatan jika aku harus merantau jauh sampai ke
Jogjakarta. Pekerjaan ayahku yang hanya penjual makanan keliling tidak
menghasilkan banyak uang, padahal untuk mondok butuh biaya yang tidak sedikit. Tapi
aku sudah bertekad kuat, aku harus keluar dari Malang kalau aku ingin sukses.
Meskipun aku juga nggak tau, seperti apa pesantren itu. Alhamdulillah Ibu
mendukungku seratus persen dan meyakinkan Ayah agar aku bisa mondok ke Jogja.
Dan disinilah aku sekarang, diatas bis
Malang Indah menuju kota impianku untuk mencari ilmu, seorang diri. Saat
kupejamkan mata untuk mengusir sedih, terbayang wajah Ibu yang tadi pagi
memelukku sambil meminta maaf karena tak bisa mengantar sampai Jogja. Aku
paham, Bu...ibu harus bekerja keras agar aku bisa merantau. Aku janji,
Bu...kelak akan kubawa Ibu mengunjungi ka’bah seperti cita-cita Ibu. Lambat
laun kurasakan laju bis semakin kencang dan membuatku tertidur sepanjang
perjalanan menuju Jogjakarta.
Kurasakan bahuku diguncang oleh seseorang
yang ternyata Salman, “Man, bangun. Persiapan kata Ayah sebentar lagi kita
sampai”. Saat mataku terbuka dengan sempurna bis sudah berhenti di terminal
Jogjakarta. Dari terminal kami bertiga naik becak ke pesantren, hatiku rasanya
campur aduk kala itu antara sedih, senang, ingin menangis dan ingin tertawa.
Entahlah, tapi tekatku sudah bulat aku pantang pulang sebelum berhasil. Aku
ingin membahagiakan ibuku. Maka ketika semua kawanku dinatar oleh orangtuanya
dan aku sendirian mengurus ini dan itu tak jadi masalah bagiku. Aku harus
berhasil, aku harus menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, aku tak boleh manja.
Itu adalah kisahku tiga puluh tahun lalu,
hari ini dari lantai sebelas ruang kerjaku tampak kota Jakarta diguyur hujan
deras. Setelah enam tahun di pesantren, dengan segala keterbatasan karena
kondisi ekonomi orangtuaku yang kurang mampu. Aku melanjutkan kuliah dengan
menempuh berbagai cara. Berburu beasiswa, menulis resensi di koran, menjadi
guru mengaji semua kulakukan agar aku bisa terus kuliah tanpa merepotkan Ibu.
Dan kau tau, bahwa jika kau bersungguh-sungguh maka akan tercapailah apa yang
kau inginkan.
Dan disinilah aku sekarang, menjadi CEO sebuah perusahaan besar yang cabangnya tersebar diseluruh Indonesia. Aku, Maman si anak pesantren yang miskin itu berhasil menembus keterbatasan berkat ridho dan doa ibuku serta kesungguhan untuk selalu melakukan yang terbaik yang aku mampu. Ah, tiba-tiba aku rindu sekali dengan Ibu padahal baru seminggu yang lalu kami pulang dari makkah untuk berumroh. Iya, aku telah berhasil mewujudkan impian Ibuku untuk mengunjungi baitullah.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar