SEKOLAH ONLINE


ini bukan Yanto ya..

Pas perintah lock down karena covid diumumkan oleh Presiden, Yanto pas lulus SD dan sudah ketrima di SMP. Pak kepala sekolah bilang saat rapat wali murid, yang duduknya harus berjauhan seperti mau senam kesegaran jasmani bahwa anak-anak harus punya HP jenis smartphone atau laptop untuk sekolah online. Parjo bapaknya Yanto memutar otak gimana caranya bisa membeli HP yang bagus untuk sekolah online. HP miliknya hanya bisa untuk telpon dan sms saja, bukan HP pintar seperti di layar yang ditayangkan pak Kepsek tadi. 

Setelah nego dengan pak mandor, Parjo dapat pinjaman uang yang bayarnya dipotong upah selama duapuluh empat minggu. Beres, pikir Parjo. Ternyata urusan HP belum selesai, supaya bisa dipakai sekolah smartphone baru itu harus diisi pulsa sama kuota internet. Berhubung upahnya sudah dipotong cicilan HP, maka jatah uang belanja Narsih (emaknya Yanto) ya otomatis berkurang dan harus dikurangi lagi buat kuotanya HP Yanto. Narsih ngomel-ngomel tapi ya mau gimana lagi, demi masa depan anak biar pinter.

***

Setelah punya HP bagus, Yanto jadi betah lama-lama dikamar. Setiap ditanya sama Narsih katanya dia lagi belajar dan mengerjakan tugas dari sekolahnya. Tak jarang sore-sore gitu, Yanto dijemput temannya untuk mengerjakan tugas kelompokan. Pulang larut malam kadang menjelang pagi. Parjo sama Narsih ya percaya saja, wong perginya bawa tas sekolah sama buku pasti mau belajar. Bangga mereka punya anak yang rajin kayak Yanto. Narsih sudah nggak ngomel lagi jatah belanjanya dipotong kuota sama cicilan HP, pinter gitu anaknya. Wis rapopo, amanlah makan bisa ngirit dulu, pikir narsih.

Sampai suatu hari di siang yang terik ibu guru berseragam coklat datang ke rumah mereka, mengabarkan kalau Yanto nggak pernah hadir saat pembelajaran daring, dia juga nggak pernah mengerjakan tugas yang diberikan guru sama sekali. Badala...

Dipanggillah si Yanto yang lagi "belajar" dikamar lalu diinterogasi sama Narsih. Dihadapan bu guru si Yanto akhirnya ngaku kalau selama ini dia cuman main game sama sosmed di smartphone barunya. Kalau keluar sampe malam itu buat push rank, nyari wifi yang lancar di warung dekat bendungan. Kepala Narsih berkunang-kunang, kalau misal bisa dimasukkan lagi ke perut rasanya pengen dia makan aja lagi si Yanto biar nggak bikin naik pitam. Ibu guru cantik didepannya tiba-tiba membayang jadi banyak dan meleot meleot nggak jelas sebelum semuanya gelap.

***

Yanto adalah anak dari keluarga pekerja keras. Ayahnya rela berhutang, ibunya rela potong belanja dapur, semua demi satu hal yakni pendidikan anaknya. Tapi rupanya, niat baik bisa salah sasaran kalau tak disertai pendampingan. Smartphone bisa jadi jembatan atau jurang. Dan Yanto seperti banyak anak lain tergelincir dalam jurang dunia maya. Kasus Yanto bukan tentang bermain game hingga lupa waktu. Tapi soal ketidaksiapan sistem dan keluarga dalam mendampingi anak saat teknologi datang tiba-tiba. Saat sekolah berpindah ke layar, tapi orang tua masih berada di dunia nyata. Terus bekerja keras, tanpa tahu dunia digital seperti apa yang sedang mengurung anak mereka diam-diam.

Kasus Yanto menggambarkan fenomena digital overexposure dan kecanduan game online pada remaja yang tidak disertai literasi digital maupun pendampingan emosional. Menurut Jean Twenge dalam bukunya iGen, remaja saat ini terpapar internet lebih dini namun tanpa regulasi diri yang cukup, sehingga mengalami disregulasi waktu (kehilangan kontrol atas waktu bermain), desensitisasi (tidak peka terhadap tugas dan tanggung jawab) dan disconnection (lebih terhubung ke dunia maya daripada dunia nyata). Hal itu disebabkan diantaranya karena tidak ada digital scaffolding (pendampingan digital) bagi remaja, hambatan komunikasi antara orang tua dan anak serta Orang tua yang tidak memahami dan tidak mau mempelajari tentang teknologi digital yang sedang digandrungi anaknya.

Nah, tugas berat kita sebagai orangtua adalah memberikan pendampingan yang bersahabat, memaksimalkan peran parental control dengan follow akun anak, ngobrol rutin tentang kebiasaan digital mereka, and be their friend. Sambil terus berdoa semoga pemerintah segera menerbitkan kebijakan digital yang aman bagi anak dan remaja, sehingga tercipta ekosistem pembelajaran yang aman dan ramah bagi anak di tengah gempuran teknologi yang ugal-ugalan.

Yanto bukan anak nakal. Ia hanya tersesat dan tak ada yang memandu. Ia bukan tak mau belajar, tapi dunia maya lebih cepat menawarkannya hiburan daripada dunia nyata yang menuntunnya pada tanggung jawab. Di balik kuota dan layar, ada anak-anak yang berjuang sendirian. Jangan biarkan mereka berjalan dalam gelap padahal orang tuanya telah berjuang keras menyalakan lilin.

with love, your counselor - Novie Anggriani, S.Psi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar