
Beberapa murid saya (SMP) punya kebiasaan “promote my number”, saling mempromosikan nomor Whatsapp teman ke temannya lalu ke temannya lagi ke teman temannya terus saja begitu sampai tidak terdeteksi ujungnya.
Tapi kebiasaan ini tidak baik karena mereka belum matang secara emosional, belum paham resiko kemajuan teknologi dimana mereka adalah target kejahatan cyber bagi penjahat dunia maya. Diantara resiko cyber yang berpotensi membahayakan kesehatan jiwa anak adalah resiko kontak dari kebiasaan promote my number ini. Penjahat cyber yang berkeliaran didunia maya biasanya menggunakan identitas palsu. Modus kejahatan ini disebut cyber grooming.
Dari berbagai sumber yang saya baca cyber grooming adalah sebuah upaya orang dewasa untuk membangun ikatan emosional dengan seorang anak atau remaja agar bisa dimanipulasi atau dieksploitasi bahkan dilecehkan. Tujuan utama cyber grooming adalah mendapatkan kepercayaan dari anak untuk mendapatkan data pribadi dan keintiman dengan mereka (seperti percakapan seksual, gambar, atau video). Nah, kemudian akan dijadikan alat untuk mengancam dan memeras korbannya.
....
Sebagai konselor, saya pernah menangani kasus cyber grooming yang menimpa Mawar, siswi SMP kelas 8. Kasus ini bermula dari kebiasaan Mawar mempromosikan nomor teleponnya di media sosial.
Tak lama setelahnya, Mawar dihubungi oleh seorang laki-laki yang mengaku bernama Bento. Bento ini cerdas, ia tahu cara mendekati Mawar. Awalnya, ia mengaku sebagai teman sebaya dari kota lain, dan intens menjalin komunikasi dengan Mawar. Ia selalu memuji dan memberikan perhatian lebih, membuat Mawar merasa nyaman, dihargai, dan perlahan jatuh hati.
Saat Mawar sudah merasa sangat nyaman, pelecehan pun dimulai. Modusnya halus, dari percakapan teks, berlanjut ke telepon, hingga akhirnya ia mengajak Mawar melakukan panggilan video yang tanpa disadari Mawar, direkam oleh Bento. Rekaman inilah yang kemudian dijadikan alat untuk memeras dan mengancam Mawar. Akibatnya, Mawar mengalami trauma berat hingga tak berani keluar rumah.
Dari kasus Mawar, saya melihat beberapa poin penting yang perlu kita pahami bersama, diantaranya :
1. Pentingnya Komunikasi Terbuka. Banyak kasus seperti Mawar yang baru terungkap setelah anak mengalami trauma mendalam. Ini terjadi karena anak merasa takut, malu, atau tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Di sinilah peran kita sebagai orangtua dan guru sangat vital. Mulailah membangun hubungan yang hangat dan terbuka dengan anak. Jadikan diri kita sebagai tempat pertama bagi anak untuk berbagi cerita, baik suka maupun duka.
2. Grooming Bukan Hanya Soal Orang Asing. Pelaku grooming biasanya membangun hubungan emosional yang kuat dengan korban. Mereka bisa saja orang yang dikenal dekat, bahkan yang dianggap sebagai orang baik. Mereka sangat pandai memanipulasi emosi dan membangun kepercayaan, sehingga korban tidak sadar bahwa mereka sedang dimanfaatkan. Jadi, jangan hanya mewaspadai orang asing, tapi juga kenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat.
3. Edukasi Seksual yang Sehat dan Tepat. Kita perlu mengajarkan anak-anak tentang batas-batas pribadi sejak dini. Beri pemahaman bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh atau meminta hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman. Ajari mereka untuk berani berkata "tidak" dan segera melapor jika ada hal mencurigakan.
4. Perhatikan Perubahan Perilaku Anak. Tanda-tanda grooming seringkali terlihat dari perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih tertutup, mudah marah, menarik diri dari teman dan keluarga, atau mengalami penurunan prestasi di sekolah. Jangan remehkan perubahan kecil ini. Segera ajak anak bicara dari hati ke hati dan berikan dukungan penuh.
Kasus Mawar mungkin terlihat menakutkan, tapi ada harapan. Berkat dukungan penuh dari orangtuanya, Mawar berhasil melewati masa-masa sulit dan memulai proses pemulihan. Ini membuktikan bahwa kehadiran dan peran aktif kita sangatlah penting dalam melindungi anak-anak dari bahaya cyber grooming. Mari kita mulai bergerak bersama, menjaga anak-anak kita agar tetap aman, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
*)dari berbagai sumber, pic taken from google
Catatan kecil konselor remaja,
Novie Anggriani,S.Psi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar