MENGENAL
DIRI, MENGELOLA BAHAGIA
NOVIE
ANGGRIANI
Disampaikan
dalam Webinar Ikatan Keluarga Besar Istri (IKBI) PT Sinegri Gula Nusantara
Kamis, 2
Oktober 2025
KARENA IBU BEGITU BERHARGA,
Di dalam
setiap rumah tangga, Ibu adalah jantung, manajer keuangan, konselor, sekaligus
madrasah pertama bagi anak-anak. Peran ganda yang mulia ini menuntut energi,
kesabaran, dan pengorbanan yang luar biasa. Namun, dalam hiruk-pikuk peran
tersebut, kita sebagai istri dan ibu seringkali lupa satu hal paling mendasar
dan krusial: mengenal dan merawat diri sendiri. Inilah yang membuat tema
webinar kali ini, “Mengenal Diri Mengelola Bahagia”, menjadi sangat penting dan
relevan.
Kita tidak
bisa mengisi gelas orang lain (keluarga) jika gelas kita (diri sendiri) kosong.
Kelelahan, emosi yang tak stabil, dan badai stres yang sering melanda, sebagian
besar berakar dari ketidakpahaman kita terhadap pemicu diri sendiri, terhadap
kekuatan yang kita miliki, dan kelemahan yang perlu kita hadapi.
Mengenal diri
sendiri bukanlah kemewahan, melainkan langkah awal yang fundamental untuk
menjadi ibu dan istri yang lebih tenang, bahagia, dan bermanfaat bagi keluarga.
Ini adalah cara kita berhenti menyalahkan diri sendiri atas kekurangan, dan
mulai bersyukur atas anugerah dan potensi yang telah diberikan-Nya.
Webinar ini
hadir sebagai undangan tulus bagi Ibu-ibu hebat anggota IKBI : Mari kita ambil
jeda sejenak. Mari kita temukan 'peta' untuk pulang dari badai stres. Dengan
memahami diri secara jujur melalui alat sederhana seperti Analisis SWOT dan
Jendela Johari, semoga kita bisa mengelola emosi dan stres dengan lebih
bijaksana, mengambil keputusan yang lebih tepat, dan pada akhirnya, memperkuat
hubungan dalam keluarga.
Tujuan kita
sederhana : bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menemukan versi terbaik
diri kita, sehingga kita dapat kembali ke rumah dengan energi penuh, dan
menjadi sumber ketenangan serta kebahagiaan sejati bagi seluruh keluarga. Mari
kita mulai perjalanan penuh makna ini, bersama komunitas IKBI.
MENGAPA PENTING MENGENAL DIRI?
Mengenal diri
bukan hanya tentang mengetahui nama atau tanggal lahir, tapi tentang memahami
pikiran, perasaan, dan potensi terdalam kita. Ini adalah cara untuk bersyukur
atas anugerah yang telah diberikan-Nya. Dalam ranah psikologi, perjalanan
mengenal diri erat kaitannya dengan konsep Aktualisasi Diri (Self-Actualization)
yang dipopulerkan oleh bapak psikologi humanistik, Abraham Maslow. Maslow
menyusun kebutuhan manusia dalam bentuk piramida yang dikenal sebagai Hierarki
Kebutuhan. Ia berpendapat bahwa setiap individu memiliki dorongan atau
kebutuhan bawaan untuk naik ke puncak piramida tersebut, yaitu untuk mencapai
potensi penuh mereka menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Hierarki Menuju
Puncak:
1.
Kebutuhan Dasar Fisiologis (Makan, tidur, pakaian)
2.
Kebutuhan Keamanan (Kestabilan, perlindungan)
3.
Kebutuhan Rasa Cinta dan Kepemilikan (Belongingness)
4.
Kebutuhan Penghargaan (Esteem) (Pengakuan, status,
kepercayaan diri)
5.
Kebutuhan Aktualisasi Diri (Memenuhi potensi diri)
Maslow
meyakini bahwa seseorang hanya dapat benar-benar fokus pada Aktualisasi Diri yaitu
hidup yang bermakna, kreatif, dan penuh potensi setelah kebutuhan pada
tingkat-tingkat di bawahnya (fisiologis, keamanan, cinta, dan penghargaan)
terpenuhi.
Proses
"Mengenal Diri" yang kita bahas adalah langkah esensial menuju
aktualisasi diri ini. Ketika seorang ibu mengenali kekuatan (strength)
dan kelemahan (weakness)-nya (seperti dalam Analisis SWOT), ia sedang
melakukan inventarisasi sumber daya internalnya untuk mendaki piramida Maslow.
Ø Mengenal
Kekuatan : Seorang ibu yang mengenali kekuatan dirinya, misalnya pandai
mengatur keuangan atau mahir memasak, tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar
(fisiologis/keamanan), tetapi juga dapat bergerak ke tingkat Penghargaan
(merasa kompeten dan dihargai).
Ø Mengenal
Kelemahan & Potensi : Mengenal kelemahan dan potensi tersembunyi (Unknown
Self pada Johari Window) adalah dorongan untuk bertumbuh dan berkreasi.
Inilah esensi aktualisasi diri. Ibu yang teraktualisasi mampu menyeimbangkan
peran domestik dengan hasrat pribadinya misalnya, dari hanya sekadar memasak (skill
yang memenuhi kebutuhan dasar) menjadi membuka kelas memasak online atau
menulis buku resep (kreativitas yang memenuhi potensi penuh).
Ibu yang
teraktualisasi adalah ibu yang utuh dan mandiri secara emosional. Ia tidak lagi
mencari validasi dari luar, melainkan memberi dari kelimpahan yang ia miliki di
dalam dirinya. Dengan demikian, ia mampu memberi energi positif, ketenangan,
dan kebahagiaan sejati kepada seluruh anggota keluarga.
MANFAAT UTAMA DARI MENGENAL DIRI SENDIRI ADALAH:
1.
Mengelola Emosi dan Stres : Ketika Ibu tahu apa yang memicu
kecemasan atau kemarahan, Ibu bisa mengatasinya lebih baik. Seperti kata
pepatah, "Ketika Ibu mengenal diri, Ibu akan menemukan peta untuk pulang
dari badai stres"
Contoh: Ibu
tahu bahwa kondisi rumah yang berantakan membuat Ibu mudah stres dan marah.
Dengan mengenalinya, Ibu bisa membuat jadwal bersih-bersih yang realistis atau
meminta bantuan suami/anak untuk mencegah stres memuncak
2.
Mengambil Keputusan dengan Bijak: Memahami nilai-nilai dan tujuan
hidup membantu Ibu membuat pilihan yang tepat, baik untuk diri sendiri maupun
keluarga
3.
Menguatkan Hubungan: Ketika Ibu memahami diri sendiri, Ibu akan
lebih mudah berempati dan berkomunikasi efektif dengan suami dan anak-anak.
BEDAKAN ANTARA SELF ANALYSIS, SELF JUDGMENT DAN SELF DIAGNOSTIC
Analisis Diri (Self-Analysis) = Proses yang Membangun
Analisis Diri
adalah kegiatan reflektif dan sistematis yang fokus pada pemahaman dan
perbaikan. Ini adalah proses yang jujur untuk mengidentifikasi siapa diri kita,
mengapa kita bereaksi seperti itu, dan potensi apa yang kita miliki. Karakteristik
Utama Analisis Diri yang Sehat karena :
- Berorientasi pada Pertumbuhan (Growth-Oriented)
: Tujuannya adalah untuk menemukan solusi dan strategi. Ketika Ibu
menemukan kelemahan (misalnya, mudah cemas), fokusnya adalah mencari
teknik pengelolaan emosi (misalnya, teknik pernapasan atau dzikir).
- Sistematis dan Terstruktur : Menggunakan
alat bantu seperti SWOT atau Jendela Johari memberikan kerangka kerja.
Analisis dilakukan pada empat kuadran atau empat jendela, memastikan
penilaian yang lebih komprehensif, bukan hanya fokus pada satu kekurangan.
- Menerima Ketidaksempurnaan: Analisis diri
dimulai dari premis bahwa "Tidak ada yang sempurna", dan ini
adalah langkah untuk lebih mengenal diri. Proses ini mendorong Ibu untuk
mencintai proses, bukan hanya hasil akhir.
- Mencari Insight : fokus pada
pertanyaan "Mengapa ini terjadi?" dan "Bagaimana saya bisa
memanfaatkannya?" (misalnya, "Peluang apa yang bisa saya
manfaatkan dari lingkungan?"
Berbeda
dengan analisis diri yang bertujuan membangun, Self-Judgment cenderung
menghambat pertumbuhan dan merusak kesehatan mental. Penghakiman diri adalah
tindakan emosional yang seringkali dipicu oleh standar kesempurnaan yang tidak
realistis.
|
PERNYATAAN |
ANALISIS DIRI |
PENGHAKIMAN DIRI |
|
"Saya memiliki
kelemahan yaitu kurang disiplin waktu. Saya perlu membuat jadwal
sederhana." |
"Saya
pemalas dan tidak berguna karena selalu menunda pekerjaan. Saya ini memang
tidak becus menjadi ibu." |
|
|
FOKUS |
Mengelola
kelemahan, bukan menyalahkan diri |
Menghukum
diri sendiri, menjatuhkan label negatif yang permanen, dan terjebak dalam
rasa bersalah (guilt). |
|
HASIL |
Motivasi
untuk berubah, dan menerima diri sepenuhnya8. |
Menurunnya
kepercayaan diri dan memicu stres atau depresi. |
Diagnosis Diri (Self-Diagnosis) = Membahayakan Diri
Diagnosis
diri adalah upaya yang berbahaya untuk mendiagnosis diri sendiri dengan
gangguan mental (misalnya, bipolar, ADHD, atau kecemasan klinis) hanya
berdasarkan informasi yang didapat dari internet atau pengalaman personal.
|
FUNGSI |
ANALISIS DIRI |
DIAGNOSIS DIRI |
|
Alat untuk
pertumbuhan pribadi. |
Mengambil
peran profesional kesehatan mental. |
|
|
BATASAN |
Menyatakan
kelemahan (misalnya, "mudah cemas" 9). |
Menyatakan
kondisi klinis (misalnya, "Saya menderita Bipolar Disorder deh
kayaknya"). |
|
REKOMENDASI |
Jika
kelemahan sudah mengganggu fungsi harian, langkah selanjutnya adalah mencari
Konsultan Pendidikan atau Konselor Keluarga. |
Mengobati
diri sendiri berdasarkan asumsi, yang bisa berakibat salah penanganan dan
menunda bantuan profesional yang tepat. |
Intinya, analisis
diri yang sehat akan mengantar Ibu pada pertanyaan refleksi "Satu hal
kecil apa yang akan Ibu mulai lakukan untuk lebih mengenal diri sendiri?".
Sementara itu, Self-Judgment akan menjebak Ibu, dan Self-Diagnosis
akan mengarahkan Ibu pada label yang tidak akurat, tanpa solusi yang tepat.
Selalu prioritaskan mencari bantuan dari profesional jika masalah emosi atau
mental sudah mengganggu kualitas hidup.
Batasan: Analisis Diri vs. Self-Diagnosis/Self-Judgment
Sangat penting untuk membedakan Analisis Diri yang sehat dengan
tindakan yang merugikan:
|
TUJUAN |
ANALISIS DIRI YANG SEHAT |
SELF-DIAGNOSIS & SELF-JUDGMENT YANG BERBAHAYA |
|
Insight dan
Perbaikan. |
Memberi
label penyakit mental atau Menghakimi/Menyalahkan Diri. |
|
|
FOKUS |
Mengidentifikasi
kekurangan yang dapat diperbaiki |
Terjebak
pada kekurangan dengan label negatif yang permanen. |
|
AKSI |
Mencari
cara mengelola kelemahan (misalnya, mudah cemas? Coba teknik pernapasan) |
Menarik
diri, merasa tidak berharga, dan menolak meminta bantuan profesional. |
SLIDE 11
ALAT UNTUK MENGENAL DIRI LEBIH DALAM
Dua alat yang
bisa Ibu gunakan untuk menganalisis dan membuka diri adalah Analisis SWOT dan
Jendela Johari (Johari Window). Ibu bisa melakukan SWOT secara mandiri, tetapi
meminta feedback jujur dari suami atau teman dekat dapat membantu
memvalidasi apakah kekuatan (S) Ibu benar-benar terlihat oleh orang lain. Jendela
Johari menuntut keterlibatan orang lain karena kuadran Blind Self (Diri Buta
adalah hal yang orang lain tahu tentang Ibu, tapi Ibu tidak tahu) hanya dapat
diungkap melalui umpan balik yang jujur (feedback) dari mereka. Membuka
diri dan mendengarkan masukan adalah langkah untuk mengenal diri secara utuh
ANALISIS SWOT (KEKUATAN, KELEMAHAN, PELUANG, ANCAMAN)
Analisis SWOT
adalah alat strategis yang biasanya digunakan dalam dunia bisnis, namun sangat
efektif untuk analisis diri. SWOT memetakan kondisi diri Ibu saat ini dan
merencanakan langkah ke depan. Ingat, tidak ada manusia yang sempurna; ini
adalah langkah awal untuk perbaikan melalui empat kuadran :
A. Internal
(Diri Sendiri):
1.
Strengths (Kekuatan): Kelebihan atau keunggulan diri yang sudah
Ibu kuasai.
2.
Weaknesses (Kelemahan): Kekurangan internal yang perlu Ibu
perbaiki atau kelola.
B.
Eksternal (Lingkungan):
3.
Opportunities (Peluang): Faktor-faktor di luar diri yang bisa Ibu
manfaatkan.
4.
Threats (Ancaman): Hambatan dari luar yang bisa menghambat tujuan
Ibu.
|
KATEGORI |
PERTANYAAN KUNCI |
CONTOH (IBU RUMAH TANGGA) |
|
|
S |
STRENGTHS
(KEKUATAN) |
"Apa
kelebihan/keunggulan diri saya?" |
Pandai
memasak, terampil mengatur keuangan rumah tangga, sabar mengajari anak. |
|
W |
WEAKNESSES
(KELEMAHAN) |
"Apa
kekurangan yang perlu saya perbaiki?" |
Mudah
cemas, kurang disiplin waktu, sering menunda pekerjaan, sulit berkata
"tidak". |
|
O |
OPPORTUNITIES
(PELUANG) |
"Peluang
apa yang bisa saya manfaatkan dari lingkungan?" |
Adanya
komunitas IKBI, tetangga yang ingin kursus masak, program sekolah online
untuk menambah skill, tren menjual makanan beku. |
|
T |
THREATS
(ANCAMAN) |
"Apa
hambatan dari luar yang bisa menghambat?" |
Kesibukan
anak yang tiba-tiba padat, lingkungan sosial yang toxic (suka
membandingkan), harga bahan pokok yang naik, munculnya pesaing jika Ibu
berbisnis. |
Tips: Buatlah daftar kecil dari poin-poin ini untuk diri Ibu
sendiri!
MEMBUKA DIRI DENGAN JENDELA JOHARI (JOHARI WINDOW)
Jendela Johari (Johari Window)
Jendela
Johari adalah model grafis tentang kesadaran diri yang digunakan untuk memahami
dan meningkatkan komunikasi interpersonal. Model ini diciptakan pada tahun 1955
oleh dua psikolog Amerika, Joseph Luft dan Harry Ingham (nama
"Johari" berasal dari gabungan nama mereka). Tujuan awalnya adalah
membantu peserta dalam kelompok pelatihan untuk lebih memahami dinamika hubungan
mereka. Jendela Johari membagi informasi tentang diri menjadi empat kuadran
berdasarkan apa yang diketahui oleh diri sendiri dan apa yang diketahui oleh
orang lain (Known to Self/Others, Unknown to Self/Others).
Jendela
Johari adalah model sederhana untuk membantu Ibu memahami hubungan Ibu dengan
orang lain dan diri sendiri melalui kesadaran diri. Model ini membagi
pengetahuan tentang diri Ibu ke dalam empat kuadran :
1.
OPEN SELF (Diri Terbuka): Informasi tentang Ibu yang diketahui
oleh Ibu sendiri dan orang lain. Ini termasuk kepribadian, skill, atau
fakta yang mudah terlihat (misalnya: Ibu adalah istri planters).
2.
BLIND SELF (Diri Buta): Informasi tentang Ibu yang orang lain
tahu, TAPI Ibu tidak tahu. Misalnya, Ibu tidak sadar bahwa Ibu sering berbicara
terlalu cepat saat panik, tetapi suami atau teman Ibu menyadarinya.
3.
HIDDEN SELF (Diri Tersembunyi): Informasi tentang Ibu yang Ibu
tahu, TAPI orang lain tidak tahu. Ini bisa berupa rahasia, impian yang belum
terwujud, atau rasa tidak aman yang Ibu sembunyikan (misalnya: Ibu sebenarnya
ingin sekali melanjutkan kuliah S2, tapi belum pernah mengungkapkannya).
4.
UNKNOWN SELF (Diri Tak Dikenal) : Informasi tentang Ibu yang TIDAK
Ibu dan orang lain tahu. Ini adalah potensi atau bakat tersembunyi yang baru
akan muncul di situasi baru (misalnya: Ibu baru tahu pandai membuat kerajinan
tangan setelah ikut workshop
secara tidak sengaja).
Cara Praktis Menggunakan Jendela Johari
1.
Analisis Diri (Self): Ibu pilih 6 kata sifat dari daftar di atas
yang paling menggambarkan diri Ibu.
2.
Analisis Orang Lain (Others) : Minta suami, atau teman
dekat yang Ibu percaya, untuk memilih 6 kata sifat dari daftar ini yang menurut
mereka paling menggambarkan Ibu. Kemudian, petakan hasilnya ke dalam Jendela
Johari :
a.
Open Self (Diri Terbuka): Kata yang dipilih oleh Ibu dan orang
lain. (Area ini menunjukkan kesamaan pandangan).
b.
Blind Self (Diri Buta) : Kata yang dipilih oleh orang lain TAPI
TIDAK Ibu. (Area ini memerlukan feedback agar Ibu sadar).
c.
Hidden Self (Diri Tersembunyi): Kata yang dipilih oleh Ibu TAPI
TIDAK orang lain. (Area ini perlu Ibu buka/komunikasikan agar orang lain tahu)
Dengan
membuka diri (memperluas OPEN SELF dan mengurangi kuadran lain), Ibu akan
mencapai hubungan dan komunikasi yang lebih kuat, baik dengan diri sendiri
maupun orang lain. Ini bisa dilakukan dengan memberi feedback
(mengurangi BLIND SELF) dan membuka diri atau bercerita (mengurangi HIDDEN
SELF).
Kata-kata ini dapat membantu Ibu dan pasangan/teman dalam
memberikan feedback dan mengidentifikasi karakteristik diri, baik yang
sudah diketahui maupun yang masih tersembunyi.
56 Kata Sifat Asli Jendela Johari
|
No. |
Kata Sifat (Indonesia) |
Kata Sifat (Inggris) |
No. |
Kata Sifat (Indonesia) |
Kata Sifat (Inggris) |
|
1 |
Mampu |
Able |
29 |
Logis |
Logical |
|
2 |
Dapat Diterima |
Accepting |
30 |
Mencintai |
Loving |
|
3 |
Adaptif |
Adaptable |
31 |
Dewasa |
Mature |
|
4 |
Berani |
Bold |
32 |
Termotivasi |
Motivated |
|
5 |
Tenang |
Calm |
33 |
Gugup |
Nervous |
|
6 |
Peduli |
Caring |
34 |
Peka |
Observant |
|
7 |
Ceria |
Cheerful |
35 |
Terorganisir |
Organized |
|
8 |
Cerdas |
Clever |
36 |
Sabar |
Patient |
|
9 |
Kompleks |
Complex |
37 |
Kuat |
Powerful |
|
10 |
Percaya Diri |
Confident |
38 |
Bangga |
Proud |
|
11 |
Kooperatif |
Cooperative |
39 |
Tenang (Diam) |
Quiet |
|
12 |
Pemberani |
Courageous |
40 |
Reflektif |
Reflective |
|
13 |
Ramah |
Friendly |
41 |
Santai |
Relaxed |
|
14 |
Bergantung |
Dependent |
42 |
Religius |
Religious |
|
15 |
Bermartabat |
Dignified |
43 |
Responsif |
Responsive |
|
16 |
Enerjik |
Energetic |
44 |
Mencari |
Searching |
|
17 |
Ekstrovert |
Extroverted |
45 |
Mandiri |
Self-Assertive |
|
18 |
Penakut |
Fearful |
46 |
Sadar Diri |
Self-Conscious |
|
19 |
Suka Memberi |
Giving |
47 |
Sensitif |
Sensitive |
|
20 |
Bahagia |
Happy |
48 |
Sentimentil |
Sentimental |
|
21 |
Suka Menolong |
Helpful |
49 |
Tulus |
Sincere |
|
22 |
Imajinatif |
Imaginative |
50 |
Pintar |
Smart |
|
23 |
Tidak Dewasa |
Immature |
51 |
Spontan |
Spontaneous |
|
24 |
Independen |
Independent |
52 |
Simpatik |
Sympathetic |
|
25 |
Cerdik |
Ingenious |
53 |
Tegang |
Tense |
|
26 |
Introvert |
Introverted |
54 |
Dapat Dipercaya |
Trustworthy |
|
27 |
Baik Hati |
Kind |
55 |
Hangat |
Warm |
|
28 |
Tahu |
Knowing |
56 |
Bijaksana |
Wise |
JEMBATAN BAHAGIA, MENGENAL DIRI = MERAWAT DIRI
(Tujuan: Menghubungkan Kelemahan (W) yang teridentifikasi
(misalnya cemas, tidak disiplin waktu) dengan solusi praktis yaitu Self-Care.)
Ibu-ibu, setelah kita tahu di mana Kelemahan kita, kita harus
ingat: mengenal diri bukanlah tentang menyalahkan diri, tapi tentang memberi
diri kita bahan bakar yang tepat. Inilah cara kita menerjemahkan self-knowledge
(mengenal diri) menjadi self-management (mengelola bahagia).
SELF MANAGEMENT
1.
Self-Care Bukan Kemewahan, Tapi Kebutuhan. Self-Care bagi ibu rumah
tangga bukanlah pergi ke spa setiap minggu. Self-Care adalah mengisi
ulang tangki energi kita agar kita bisa memberi tanpa burnout. Ingat,
Ibu adalah madrasah pertama. Sebuah sekolah tidak akan bisa mendidik jika
bangunannya roboh atau gurunya sakit. Ibu adalah 'bangunan' dan 'guru' itu.
2.
Menghadapi "Rasa Bersalah Ibu" (Mom Guilt). Kelemahan
terbesar banyak ibu adalah rasa bersalah saat mengambil waktu untuk diri
sendiri. Ini adalah internal threat (ancaman internal) yang harus kita
hadapi. Kenali Guilt sebagai alarm palsu : ketika rasa bersalah datang,
tarik napas dan ingatkan diri bahwa Self-care bukan egois, tapi
investasi. Saya istirahat sejenak agar saya bisa membersamai anak dan suami
dengan senyum, bukan amarah.
Self-Care 5 Menit yang Realistis
Jika Ibu
mengidentifikasi kelemahan 'Kurang disiplin waktu' atau 'Mudah stres', maka self-care
harus dimulai dari yang sangat kecil dan mudah dijangkau. Contoh Aksi
Nyata (Sesuai Konteks IRT):
1.
Stop Scroll 5 Menit: Alihkan 5 menit waktu scroll
media sosial untuk mendengarkan dzikir atau teknik pernapasan saat mencuci
piring atau menjemur pakaian.
2.
Jurnal Rasa Syukur : Sebelum tidur, tulis satu hal baik yang
terjadi hari ini (Gratitude Journal). Ini mengalihkan fokus dari kekurangan (weakness)
ke anugerah (strength).
3.
Batas Waktu Bekerja : tetapkan jam 9 malam sebagai batas akhir
pekerjaan rumah. Setelah itu, 30 menit sepenuhnya untuk diri sendiri (membaca,
minum teh, atau mengobrol ringan dengan suami).
MENCIPTAKAN VERSI TERBAIK DIRI
Setelah
mengenal diri lebih dalam, saatnya membuat rencana aksi nyata. Ingat, perubahan
kecil yang konsisten lebih bermakna daripada target besar yang tidak realistis.
Berikut adalah langkah-langkah nyata yang bisa Ibu lakukan :
1.
Bangun Kekuatan: Fokus mengembangkan apa yang sudah Ibu kuasai.
Jika Ibu pandai memasak, Ibu bisa mulai belajar food photography atau
membuka kelas memasak online
2.
Hadapi Kelemahan: Kelola kelemahan, jangan menyalahkan diri. Jika
Ibu mudah cemas, coba teknik pernapasan atau dzikir. Jika kurang disiplin
waktu, mulailah dengan membuat jadwal sederhana.
3.
Manfaatkan Peluang: Berani mencoba hal baru yang sesuai dengan
kekuatan Ibu. Bergabung dengan komunitas IKBI, ikut webinar, atau mulai hobi
yang tertunda.
4.
Terima Diri Sepenuhnya : Belajarlah mencintai proses, bukan hanya
hasil akhir. Ingat, "Tidak ada yang sempurna. Itulah indahnya menjadi
manusia".
SATU LANGKAH KE DEPAN
Perjalanan
mengenal diri dimulai dari satu langkah kecil yang konsisten. Tidak perlu
sempurna, yang penting dimulai dengan niat yang tulus. Pertanyaan
Refleksi :
Ø
Setelah webinar ini, satu hal kecil apa yang akan Ibu-ibu mulai
lakukan untuk lebih mengenal diri sendiri?
Mungkin Ibu
akan mulai menulis jurnal gratitude setiap malam atau meminta feedback
jujur dari suami tentang satu hal yang bisa diperbaiki? Mari saling mendukung
dalam komunitas IKBI ini, berbagi cerita, dan tumbuh bersama.
Ibu-ibu hebat, mari terus belajar dan berkembang bersama. Sampai
jumpa lagi!
Dengan penuh cinta,
Novie Anggriani Herman, S.Psi

.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar