Menjaga Lisan, Menjaga Hati, dan Menjaga Marwah Sesama






Dalam kehidupan sosial, tidak semua luka lahir dari tindakan yang tampak jahat. Sebagian justru tumbuh perlahan melalui percakapan-percakapan yang dianggap biasa, cerita yang diteruskan tanpa verifikasi, prasangka yang dibicarakan tanpa kehati-hatian, atau informasi yang berpindah dari satu lingkaran ke lingkaran lain atas nama kedekatan dan keakraban.

Persoalan dalam sebuah fitnah sering kali bukan hanya tentang siapa yang memulai, melainkan juga tentang bagaimana sebuah kabar diperlakukan setelah ia diterima. Apakah ia dihentikan dengan kebijaksanaan, diklarifikasi kepada pihak yang bersangkutan, atau justru diteruskan kepada orang-orang lain yang sebelumnya bahkan tidak mengetahui persoalan tersebut.

Di sinilah pentingnya tabayyun - sikap memeriksa dan mengklarifikasi informasi secara langsung kepada pihak terkait sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Tabayyun bukan hanya ajaran agama, tetapi juga prinsip etika komunikasi yang sangat rasional. Sebab suatu informasi tidak akan pernah menjadi jelas apabila hanya diputar di antara orang-orang yang sama-sama tidak mengetahui kebenarannya.

Ironisnya, dalam banyak situasi sosial, seseorang justru memilih membicarakan sebuah isu kepada pihak ketiga atau keempat dibandingkan mengonfirmasikannya kepada orang yang menjadi objek pembicaraan. Akibatnya, informasi yang awalnya terbatas menjadi semakin luas, sementara kebenaran justru semakin kabur. Orang-orang yang sebelumnya tidak mengetahui apa pun akhirnya ikut mengetahui, ikut berasumsi, bahkan terkadang ikut menilai.

Gordon Allport dan Leo Postman menyebut ini rumor transmission yang dijelaskan bahwa rumor akan semakin cepat menyebar ketika informasi memiliki muatan emosional tinggi tetapi minim kejelasan fakta. Dalam proses penyebarannya, informasi biasanya mengalami tiga hal yaitu leveling (pengurangan fakta), sharpening (penekanan pada bagian tertentu yang menarik), dan assimilation (penyesuaian cerita sesuai persepsi atau prasangka penerima). Akibatnya, semakin banyak sebuah kabar dibicarakan tanpa konfirmasi langsung, semakin jauh pula informasi itu dari kebenaran aslinya.

Fenomena ini juga diperkuat oleh teori social conformity, yaitu kecenderungan manusia mengikuti arus percakapan kelompok agar tetap merasa diterima secara sosial. Tidak sedikit orang akhirnya ikut membahas suatu isu bukan karena memahami faktanya, tetapi karena terdorong oleh dinamika lingkungan sosial. Padahal secara moral, diam dari pembicaraan yang belum jelas sering kali jauh lebih bijaksana dibandingkan ikut larut di dalamnya. Al-Qur’an memberikan pelajaran yang sangat mendalam mengenai hal ini.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya membuat kalian menyesali perbuatan itu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa menerima informasi tanpa verifikasi dapat berujung pada ketidakadilan sosial dan penyesalan moral. Verifikasi dalam Islam tidak berhenti pada mendengar dari banyak orang, melainkan mencari kejelasan dari sumber yang benar dan pihak yang terkait langsung. Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman:

“Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kalian merasa jijik.” 
(QS. Al-Hujurat: 12)

Perumpamaan dalam ayat diatas menunjukkan bahwa agama memandang lisan bukan sebagai perkara sederhana. Kata-kata mungkin tidak meninggalkan luka fisik, tetapi dapat meninggalkan beban psikologis yang panjang. Kondisi ini dikenal sebagai social pain, yaitu rasa sakit emosional akibat penolakan sosial, penghinaan, atau rusaknya reputasi. Menariknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa otak manusia memproses luka sosial melalui mekanisme yang mirip dengan rasa sakit fisik. Karena itu, menjaga ucapan sesungguhnya bukan hanya bagian dari adab religius, melainkan juga bentuk empati dan kecerdasan emosional. Tidak semua hal yang didengar harus diteruskan, tidak semua hal yang diketahui harus dibicarakan, dan tidak semua prasangka layak dijadikan konsumsi sosial.

Di tengah dunia yang semakin mudah mempercepat penyebaran informasi, kemampuan untuk menahan lisan, melakukan tabayyun, dan menjaga kehormatan sesama menjadi bentuk kedewasaan yang semakin bernilai. Sebab integritas seseorang sering kali tidak terlihat ketika ia berbicara tentang kebaikan, tetapi ketika ia memegang informasi buruk tentang orang lain, apakah ia memilih mengklarifikasi dengan bijak, menghentikan penyebarannya, atau justru memperluasnya. Sejatinya, martabat manusia tidak hanya dijaga oleh apa yang dilakukan tangan, tetapi juga oleh apa yang dibiarkan keluar dari lisan. Dan mungkin, salah satu bentuk kemuliaan akhlak yang paling sunyi adalah kemampuan menjaga kehormatan orang lain, bahkan ketika orang itu tidak hadir di hadapan kita.


Novie Anggriani
Menulis, menasehati diri sendiri


Komentar