Belakangan
ini rasanya kok "ngeri-ngeri sedap" ya kalau mau mencoba hal
baru yang lagi tren. Begitu kita posting foto pakai sepatu lari atau pegang
raket tenis, ada saja perasaan sungkan jangan-jangan kita dicap cuma
ikut-ikutan alias FOMO. Saya bahkan sempat membaca status seorang teman yang
sedang belajar tenis, tapi dia sibuk sekali memberi penjelasan bahwa dia nggak
lagi FOMO. Saya jadi berpikir, sejak kapan FOMO selalu kita anggap sebagai
sesuatu yang buruk? Memangnya kenapa kalau kita FOMO untuk urusan yang baik?
Istilah
FOMO (fear of missing out) memang sering dipahami sebagai kecemasan
sosial: takut ketinggalan tren, takut tidak relevan, takut tidak “ikut dalam
arus”. Dalam banyak konteks, ini memang bisa melelahkan. Orang jadi memaksakan
diri, membandingkan hidupnya dengan orang lain, dan akhirnya merasa tidak
pernah cukup. Tapi, apakah semua bentuk FOMO harus ditolak mentah-mentah? Bukankah
dalam beberapa situasi, FOMO justru bisa menjadi pintu masuk menuju hal-hal
baik?
Ingat
nggak, sebenarnya sejak kecil kita sudah akrab dengan “FOMO”, hanya saja dulu
kita tidak menyebutnya dengan istilah itu. Waktu musim layangan, kita ikut main
layangan. Saat lagi tren main kelereng, kita ikut nimbrung di tanah lapang,
seru-seruan tanpa mikir kalah menang. Bahkan ketika hujan turun, kita ikut lari
keluar, basah-basahan bersama teman-teman, tertawa tanpa beban.
Apakah
itu salah? Tidak juga. Lalu kenapa sekarang, ketika kita sudah dewasa, “ikut
mencoba sesuatu yang sedang ramai” justru sering diberi label negatif?
Bayangkan
seseorang yang awalnya tidak pernah olahraga. Lalu ia melihat teman-temannya
mulai lari pagi, ikut kelas yoga, atau belajar tenis. Lalu ia ikut bergerak,
mencoba, memulai. Dalam konteks ini, FOMO bukan lagi tentang tekanan sosial,
melainkan tentang dorongan untuk bertumbuh. Tidak semua orang lahir dengan
motivasi yang tinggi untuk hidup sehat secara mandiri. Kadang kita memang butuh
trigger dari lingkungan sekitar.
Kalau
melihat postingan teman-teman yang segar setelah olahraga pagi membuat kita
merasa tertinggal dan akhirnya memutuskan untuk beranjak dari kasur, bukankah
itu sebuah pencapaian? Takut ketinggalan tren atau FOMO dalam konteks ini
sebenarnya bukan musuh, melainkan pintu gerbang. Kita butuh percikan dari luar
untuk menyalakan api di dalam diri, dan sering kali percikan itu datang dari
rasa penasaran melihat orang lain melakukannya
Kita
sering lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kita belajar dari melihat,
meniru, dan terinspirasi. Tidak semua “ikut-ikutan” itu dangkal. Kadang,
justru dari ikut-ikutan itulah seseorang menemukan kebiasaan baru yang lebih
sehat, lingkungan baru yang lebih suportif, bahkan versi diri yang lebih baik.
Masalahnya
mungkin bukan pada FOMO itu sendiri, tetapi pada arah dan kesadaran kita saat
meresponsnya. Jika FOMO membuat kita membeli hal yang tidak kita butuhkan,
memaksakan gaya hidup di luar kemampuan, atau terus-menerus merasa kurang, ya
itu jelas perlu diwaspadai. Tapi jika FOMO mendorong kita untuk mulai bergerak,
belajar hal baru, atau merawat diri dengan lebih baik, lalu kenapa harus
dipermasalahkan?
Dunia
ini sudah cukup melelahkan jika kita harus terus-menerus membedah niat orang
lain atau merasa terbebani dengan penilaian mereka. Jika ada seseorang yang
mulai mengatur pola makan atau rajin bergerak meski hanya bertahan sebulan
karena tren, itu tetap sebulan yang jauh lebih berkualitas daripada tidak
bergerak sama sekali. Jadi, tidak perlu terlalu pusing kalau ada yang bilang
kita cuma FOMO. Toh, jauh lebih baik kita ikut-ikutan berkeringat daripada
konsisten dalam kemalasan.
Pada
akhirnya, hidup bukan tentang alasan kita memulai hal baik, tapi tentang sejauh
mana hal tersebut membawa manfaat bagi diri sendiri. Mari kita berdamai dengan
rasa takut ketinggalan itu, asalkan yang kita kejar adalah kebiasaan yang
membangun. Karena terkadang, cara paling efektif untuk memulai langkah pertama
yang sulit adalah dengan berani mengakui bahwa kita memang ingin ikut merasakan
manfaat baik yang sedang dirasakan orang lain.
Kadang
kita terlalu cepat memberi cap, tanpa benar-benar memahami proses di baliknya. Mungkin,
daripada sibuk menilai apakah sesuatu itu FOMO atau bukan, kita bisa mulai
bertanya dengan cara yang lebih jujur: “Apakah ini membuat hidup saya lebih
baik?” Kalau jawabannya iya, berarti tidak masalah jika itu berawal dari FOMO.
Karena
pada akhirnya, yang kita butuhkan bukanlah citra bahwa kita selalu autentik
sejak awal, melainkan keberanian untuk terus bergerak meski kadang dimulai dari
sekadar ingin “ikut merasakan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar