Kamis, 02 April 2026

SISI HANGAT FOMO, KARENA HAL BAIK LAYAK UNTUK DIIKUTI

 



Belakangan ini rasanya kok "ngeri-ngeri sedap" ya kalau mau mencoba hal baru yang lagi tren. Begitu kita posting foto pakai sepatu lari atau pegang raket tenis, ada saja perasaan sungkan jangan-jangan kita dicap cuma ikut-ikutan alias FOMO. Saya bahkan sempat membaca status seorang teman yang sedang belajar tenis, tapi dia sibuk sekali memberi penjelasan bahwa dia nggak lagi FOMO. Saya jadi berpikir, sejak kapan FOMO selalu kita anggap sebagai sesuatu yang buruk? Memangnya kenapa kalau kita FOMO untuk urusan yang baik?

 

Istilah FOMO (fear of missing out) memang sering dipahami sebagai kecemasan sosial: takut ketinggalan tren, takut tidak relevan, takut tidak “ikut dalam arus”. Dalam banyak konteks, ini memang bisa melelahkan. Orang jadi memaksakan diri, membandingkan hidupnya dengan orang lain, dan akhirnya merasa tidak pernah cukup. Tapi, apakah semua bentuk FOMO harus ditolak mentah-mentah? Bukankah dalam beberapa situasi, FOMO justru bisa menjadi pintu masuk menuju hal-hal baik?

 

Ingat nggak, sebenarnya sejak kecil kita sudah akrab dengan “FOMO”, hanya saja dulu kita tidak menyebutnya dengan istilah itu. Waktu musim layangan, kita ikut main layangan. Saat lagi tren main kelereng, kita ikut nimbrung di tanah lapang, seru-seruan tanpa mikir kalah menang. Bahkan ketika hujan turun, kita ikut lari keluar, basah-basahan bersama teman-teman, tertawa tanpa beban.

 

Apakah itu salah? Tidak juga. Lalu kenapa sekarang, ketika kita sudah dewasa, “ikut mencoba sesuatu yang sedang ramai” justru sering diberi label negatif?

 

Bayangkan seseorang yang awalnya tidak pernah olahraga. Lalu ia melihat teman-temannya mulai lari pagi, ikut kelas yoga, atau belajar tenis. Lalu ia ikut bergerak, mencoba, memulai. Dalam konteks ini, FOMO bukan lagi tentang tekanan sosial, melainkan tentang dorongan untuk bertumbuh. Tidak semua orang lahir dengan motivasi yang tinggi untuk hidup sehat secara mandiri. Kadang kita memang butuh trigger dari lingkungan sekitar.

 

Kalau melihat postingan teman-teman yang segar setelah olahraga pagi membuat kita merasa tertinggal dan akhirnya memutuskan untuk beranjak dari kasur, bukankah itu sebuah pencapaian? Takut ketinggalan tren atau FOMO dalam konteks ini sebenarnya bukan musuh, melainkan pintu gerbang. Kita butuh percikan dari luar untuk menyalakan api di dalam diri, dan sering kali percikan itu datang dari rasa penasaran melihat orang lain melakukannya

 

Kita sering lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kita belajar dari melihat, meniru, dan terinspirasi. Tidak semua “ikut-ikutan” itu dangkal. Kadang, justru dari ikut-ikutan itulah seseorang menemukan kebiasaan baru yang lebih sehat, lingkungan baru yang lebih suportif, bahkan versi diri yang lebih baik.

 

Masalahnya mungkin bukan pada FOMO itu sendiri, tetapi pada arah dan kesadaran kita saat meresponsnya. Jika FOMO membuat kita membeli hal yang tidak kita butuhkan, memaksakan gaya hidup di luar kemampuan, atau terus-menerus merasa kurang, ya itu jelas perlu diwaspadai. Tapi jika FOMO mendorong kita untuk mulai bergerak, belajar hal baru, atau merawat diri dengan lebih baik, lalu kenapa harus dipermasalahkan?

 

Dunia ini sudah cukup melelahkan jika kita harus terus-menerus membedah niat orang lain atau merasa terbebani dengan penilaian mereka. Jika ada seseorang yang mulai mengatur pola makan atau rajin bergerak meski hanya bertahan sebulan karena tren, itu tetap sebulan yang jauh lebih berkualitas daripada tidak bergerak sama sekali. Jadi, tidak perlu terlalu pusing kalau ada yang bilang kita cuma FOMO. Toh, jauh lebih baik kita ikut-ikutan berkeringat daripada konsisten dalam kemalasan.

 

Pada akhirnya, hidup bukan tentang alasan kita memulai hal baik, tapi tentang sejauh mana hal tersebut membawa manfaat bagi diri sendiri. Mari kita berdamai dengan rasa takut ketinggalan itu, asalkan yang kita kejar adalah kebiasaan yang membangun. Karena terkadang, cara paling efektif untuk memulai langkah pertama yang sulit adalah dengan berani mengakui bahwa kita memang ingin ikut merasakan manfaat baik yang sedang dirasakan orang lain.

 

Kadang kita terlalu cepat memberi cap, tanpa benar-benar memahami proses di baliknya. Mungkin, daripada sibuk menilai apakah sesuatu itu FOMO atau bukan, kita bisa mulai bertanya dengan cara yang lebih jujur: “Apakah ini membuat hidup saya lebih baik?” Kalau jawabannya iya, berarti tidak masalah jika itu berawal dari FOMO.

 

Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukanlah citra bahwa kita selalu autentik sejak awal, melainkan keberanian untuk terus bergerak meski kadang dimulai dari sekadar ingin “ikut merasakan”.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar