Pembahasan mengenai kepemimpinan selalu menarik, buku-buku leadership laris manis dicetak ulang berkali kali, media sosial dipenuhi kutipan motivasi tentang pentingnya menjadi pemimpin yang visioner, berpengaruh, dan inspiratif. Hari ini kita hidup di era menjadi leader terlihat begitu menarik, keren. Di tengah budaya yang menempatkan pemimpin sebagai pusat perhatian, ada satu aspek penting yang justru jarang dibahas, yakni bagaimana menjadi pengikut (follower) yang berkualitas. Kata “pengikut” sering kali dipandang hanya sebagai pelaksana perintah, tidak memiliki inisiatif, serta berada di bawah bayang-bayang pemimpin.
Sebuah organisasi tidak hanya membutuhkan pemimpin yang baik, tetapi juga pengikut yang aktif dan mampu berpikir mandiri (independent critical thinking). Pengikut terbaik bukanlah mereka yang hanya tunduk pada atasan, melainkan orang yang kritis, memiliki inisiatif, serta berani terlibat dalam penyelesaian masalah organisasi. Artinya, menjadi pengikut bukan sekadar patuh, tetapi bagaimana seseorang ikut bertanggung jawab terhadap keberhasilan bersama. Pengikut yang baik harus memiliki keberanian untuk mendukung pemimpin sekaligus berani untuk mengingatkan ketika pemimpin mulai keliru. Hubungan antara pemimpin dan pengikut seharusnya bukan hubungan “atasan dan bawahan” semata, melainkan kemitraan untuk mencapai tujuan bersama.
Menjadi pengikut yang berkualitas membutuhkan kedewasaan dalam berpikir dan bersikap. Seorang anak buah (pengikut) harus tetap berkontribusi secara maksimal, mampu menempatkan kepentingan bersama di atas ego pribadi. Ia tahu kapan perlu menyampaikan pendapat, kapan harus mendengar, serta bagaimana memberi masukan tanpa menjatuhkan orang lain. Dalam konsep courageous followership (Ira Chaleff), pengikut yang baik bukanlah orang yang pasif atau sangat patuh, melainkan individu yang tetap kritis, memiliki keberanian moral, dan mampu menjadi penyeimbang bagi pemimpin. Mereka berani mendukung, tetapi juga berani mengingatkan ketika arah organisasi mulai melenceng dari nilai dan tujuan bersama.
Dalam konteks pendidikan, tidak ada sekolah yang maju hanya karena kepala sekolahnya hebat. Sebaik apa pun program yang dirancang Kepala Sekolah tidak akan berjalan tanpa orang-orang yang bisa bekerja bersama, saling mendukung, dan memiliki tanggung jawab terhadap tujuan organisasi. Visi yang bagus akan terdengar meyakinkan di ruang rapat, tetapi jika timnya tidak solid hanya akan menjadi slogan saja.
Kepala sekolah memang memegang arah kebijakan, tetapi kelangsungan sekolah sesungguhnya ditopang oleh banyak orang. Guru dan tenaga kependidikan yang memiliki followership yang baik tidak hanya menjalankan instruksi, tetapi juga mampu memberi ide, menjaga budaya sekolah, dan tetap profesional meski tidak selalu berada di depan. Gurunya sabar mendampingi murid, staf administrasi bekerja dengan tertib dan disiplin. Semua pegawai menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab tanpa harus diawasi, mereka akan menjaga suasana kerja tetap sehat dan nyaman. Inilah contoh nyata pengikut berkualitas yang kerap luput dari perhatian, keberadaan merekalah yang membuat iklim sekolah tetap berjalan dengan baik.
Oleh karena itu, mari mulai membangun budaya followership yang baik. Nampaknya semakin sedikit di era ini orang-orang yang mampu mendukung atasan dengan integritas, bertanggung jawab, dan tetap profesional tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian.
Budaya organisasi yang baik tidak akan terbangun di tangan pemimpin hebat saja, namun tumbuh dari hadirnya orang-orang yang memahami kapan harus memimpin, dan kapan harus mengikuti dengan dewasa demi tercapainya tujuan bersama. Organisasi bertahan karena ada orang-orang yang bersedia bekerja dengan tulus meski tidak selalu mendapat sorotan, tidak dibangun oleh satu orang yang paling menonjol (one man show), melainkan oleh orang-orang yang mampu bekerja bersama tanpa sibuk berebut panggung.
*Novie Anggriani, S.Psi.,M.Psi.T
Konsultan Pendidikan dan Pengembangan Organisasi
KREA Consulting - Jalan Sunan Ampel 1 Kota Kediri

Komentar
Posting Komentar