![]() |
| pic made by canva |
Langit siang itu mendung tipis, angin lembut berhembus dari jendela ruang BK yang setengah terbuka, membawa aroma kertas, tinta printer, dan sedikit bau kayu tua dari meja tempat saya bekerja. Saya sedang sibuk menginput data hasil sosiometri ketika tiga anak perempuan berlari masuk sambil terengah-engah.
“Bu, pinjam alat pel boleh? Ada yang ngompol!” teriak mereka hampir serempak. Saya berhenti mengetik, jari saya menggantung di atas keyboard.
“What? Apa tadi? Ngompol?” Saya menatap mereka lekat-lekat. Mungkin saya salah dengar, “Eh, ngompol? Serius?”, saya berdiri memicingkan mata.
“Beneran, Bu! Pesing bangeettt…” sahut Tika sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung. Tika memang dikenal sebagai anak yang ekspresif.
“Yo wis, sana ambil. Jangan lupa dicuci sampai bersih ya,” kata saya sambil menunjuk sudut tempat alat kebersihan. Mereka langsung berlari kembali seperti pasukan kecil yang sedang dalam misi penyelamatan. Saya masih terpaku, tujuh tahun menjadi guru BK baru kali ini ada anak SMP yang mengompol di kelas. Rasa penasaran menuntun langkah saya menuju kelas 7E, kelas paling heboh yang letaknya di ujung selatan gedung.
****
Kelas itu sudah kacau, meja-meja berserakan sebagian digeser ke belakang. Suasana riuh, bukan hanya karena murid 7E, tapi juga karena anak-anak kelas sebelah yang ikut kepo. Di dekat meja guru, seorang anak duduk berjongkok di atas koran. Rambutnya keriting, wajahnya bundar dan lesu. Nat, gumam saya lirih. Anak yang sejak awal sekolah memang menarik perhatian kami para Guru. Ia jarang bicara, lebih sering duduk sendiri menatap kosong atau melihat lalu-lalang anak lain dari depan ruang BK.
“Pak…” saya menjawil lengan wali kelasnya yang tampak kacau
“Duh, mumet aku, Bu,” katanya sambil menepuk jidatnya sendiri
“Nat ya yang ngompol?” saya bertanya pelan, beliau mengangguk
“Iya. Tapi nggak mau diajak ke toilet, ndreprok wae nang kono. Jajal dibujuki, Bu. Mumet aku.”
Saya dekati Nat perlahan, bau pesing tercium samar-samar. Beberapa anak menatap sinis, ada yang gelisah, ada pula yang memutar wajah ke arah jendela. Sembari berjongkok sejajar dengannya, “Nat, ayo ke toilet yuk. Biar bersih, nyaman,” ajak saya lembut. Ia menggeleng pelan, menunduk makin dalam. Memeluk lututnya erat-erat, lalu saya sodorkan sarung milik musholla.
“Ini bisa dipakai. Yuk, Ibu bantu.”
Perlahan, Nat bangkit dan berjalan ke toilet. Saya menatap punggungnya yang gemetar ringan.
***
Di kelas, anak-anak langsung mengelilingi saya, seperti genangan air yang mencari titik tumpahnya.
“Bu, itu gara-gara pas disuruh maju jawab kuis, eh tiba-tiba dia kejang trus ngompol,” kata ketua kelas
“Awalnya kaget, Bu, terus baunya… parah banget!” sambung yang lain.
Saya angkat tangan pelan, memberi kode untuk tenang, “anak-anak, kalian tahu nggak kadang seseorang tidak memilih untuk punya kondisi seperti itu. Kalau Nat bisa memilih, dia pasti juga ingin seperti kalian. Sehat, happy, nggak sakit seperti tadi.” Mereka diam, berpikir
Saya lanjutkan, “tapi justru lewat kejadian ini, kita bisa belajar hal penting. Toleransi, kepedulian, empati. Tidak semua orang punya kekuatan untuk memahami, tapi kita bisa belajar.” ada yang mengangguk, ada yang terdiam, tapi saya tahu hati mereka mulai terbuka.
***
Minggu-minggu berikutnya, kejadian serupa tetap terjadi. Nat beberapa kali kejang dan mengompol tapi tidak lagi disambut dengan keributan. Anak-anak sudah siap, bahkan mereka membeli alat pel serta karbol dari uang kas dan meletakkannya di sudut kelas dengan label “Untuk Keadaan Darurat, Jangan Dipakai Mainan!!”
Nat tidak dipindah kelas, Ia diterima, Ia dijaga. Kelas itu berubah dari yang dulu suka gaduh dan saling menyalahkan, menjadi kelompok kecil yang saling peduli.
****
“Nat, kamu sering kejang begitu?” tanya saya suatu hari saat ia duduk didepan ruang BK. Ia hanya menunduk, sesekali menyeka air mata yang tak bisa ia tahan.
“Bu, saya pengin terus sekolah. Jangan dikeluarkan ya, Bu.”
Saya tepuk pundaknya pelan, “nggak ada yang mau mengeluarkan kamu, nduk. Ibu janji.”
Hari itu kami memanggil orang tuanya.
Ayahnya datang mengenakan jaket lusuh dan senyum kikuk, “waktu kecil sering kejang, Bu Guru. Pernah jatuh dari sepeda juga tapi sudah jarang sekarang. Kami bawa ke puskesmas, katanya ndakpapa”
“Kenapa nggak dibawa ke RSUD?”
“Biaya, Bu Guru. Jauh juga dari sini”
Saya sarankan untuk mengurus Jamkesda, “sudah gadis Pak, harus ditangani. Nanti bisa mempengaruhi mentalnya", Bapak Nat mengangguk. Saya berpesan agar tidak membiarkan Nat naik sepeda sendiri, Bapak Nat berjanji.
Sejak rutin kontrol ke dokter. Nat mengalami banyak sekali kemajuan, saya amati ia mulai punya teman, mulai berbicara dan mau bercerita, mulai tersenyum dan lebih percaya diri. Ia tumbuh, pelan tapi pasti.
***
Nat mengajarkan saya bahwa kekurangan bukanlah hambatan mutlak dalam pendidikan, melainkan pintu masuk untuk menanamkan nilai-nilai yang lebih dalam yakni rasa hormat, penerimaan, dan cinta kasih. Di balik keterbatasannya, Nat hadir sebagai guru kehidupan bagi teman-temannya. Dukungan dari keluarga, Guru dan teman sangat penting untuk menghindarkannya dari rasa rendah diri berkepanjangan.
Sebagai orang tua yuk kita mulai dengan mendengarkan anak-anak, bahkan ketika mereka diam. Menciptakan lingkungan yang menerima dan tidak cepat menghakimi. Membangun komunikasi dan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan layanan kesehatan sebagai upaya intervensi dini.
Sebagai Guru, apabila ada murid seperti Nat jangan diabaikan. Jadilah jembatan bagi mereka untuk tetap sekolah, tetap hidup dengan harga diri, dan tetap merasa dicintai. Sebab anak bukan hanya murid, mereka adalah cermin kecil yang menunjukkan siapa kita sebagai orang dewasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar