Sabtu, 04 Oktober 2025

“MERANTAU”

 

Adinda Rahma Salsabila

Kelas 5B SD Plus Rahmat

 


Bis melaju perlahan meninggalkan terminal Arjosari, bayangan ibu semakin kecil dibelakang. Dari jauh kulihat ibu menyeka air matanya, pun aku tak lagi bisa membendung tangis yang sudah kutahan sejak kemarin. Kulirik Salman yang duduk dibangku sebelah, memandangku dengan iba. Tak ada tangis dimata Salman, sebab perjalanan kami ini diantar oleh Ayahnya.

Namaku Maman, kemarin aku baru saja menerima ijazah kelulusan SD dengan nilai tertinggi se kota Malang. Sebenarnya aku bisa masuk ke SMP mana saja yang aku mau tapi aku lebih memilih jalan ini, mondok ke pesantren di Jogjakarta.

Didekat rumahku ada masjid bagus sekali, sejak kecil aku belajar mengaji disana. Disitulah aku bertemu dengan Pak Haji Ramelan sang pemilik masjid. Beliau sering bercerita tentang orang-orang sukses yang merantau. Aku ingin sekali seperti mereka, merantau sepertinya seru. Setiap kali Haji Ramelan bercerita aku menyimak dengan seksama lalu aku berdoa kepada Allah agar aku diberi kesempatan untuk merantau. Doaku terkabul, suatu sore Haji Ramelan memanggilku dan menawari aku untuk mondok ke Jogjakarta. Kata beliau disana ada pesantren modern yang bagus sekali. Muridnya kalau ngobrol pakai bahasa asing, wah aku membayangkan keren sekali bukan jika aku bisa bicara pakai bahasa arab dan inggris dengan fasih. Haji Ramelan jugalah yang mengenalkan aku dengan Salman, anak seumuranku yang juga akan berangkat ke Jogjakarta untuk mondok

Sampai dirumah aku sampaikan keinginanku kepada Ayah dan Ibu.  Awalnya Ayahku menentang keras, nggak ada seorangpun di keluarga besarku yang mondok. Terutama masalah biaya. Ayahku keberatan jika aku harus merantau jauh sampai ke Jogjakarta. Pekerjaan ayahku yang hanya penjual makanan keliling tidak menghasilkan banyak uang, padahal untuk mondok butuh biaya yang tidak sedikit. Tapi aku sudah bertekad kuat, aku harus keluar dari Malang kalau aku ingin sukses. Meskipun aku juga nggak tau, seperti apa pesantren itu. Alhamdulillah Ibu mendukungku seratus persen dan meyakinkan Ayah agar aku bisa mondok ke Jogja.

Dan disinilah aku sekarang, diatas bis Malang Indah menuju kota impianku untuk mencari ilmu, seorang diri. Saat kupejamkan mata untuk mengusir sedih, terbayang wajah Ibu yang tadi pagi memelukku sambil meminta maaf karena tak bisa mengantar sampai Jogja. Aku paham, Bu...ibu harus bekerja keras agar aku bisa merantau. Aku janji, Bu...kelak akan kubawa Ibu mengunjungi ka’bah seperti cita-cita Ibu. Lambat laun kurasakan laju bis semakin kencang dan membuatku tertidur sepanjang perjalanan menuju Jogjakarta.

Kurasakan bahuku diguncang oleh seseorang yang ternyata Salman, “Man, bangun. Persiapan kata Ayah sebentar lagi kita sampai”. Saat mataku terbuka dengan sempurna bis sudah berhenti di terminal Jogjakarta. Dari terminal kami bertiga naik becak ke pesantren, hatiku rasanya campur aduk kala itu antara sedih, senang, ingin menangis dan ingin tertawa. Entahlah, tapi tekatku sudah bulat aku pantang pulang sebelum berhasil. Aku ingin membahagiakan ibuku. Maka ketika semua kawanku dinatar oleh orangtuanya dan aku sendirian mengurus ini dan itu tak jadi masalah bagiku. Aku harus berhasil, aku harus menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, aku tak boleh manja.

Itu adalah kisahku tiga puluh tahun lalu, hari ini dari lantai sebelas ruang kerjaku tampak kota Jakarta diguyur hujan deras. Setelah enam tahun di pesantren, dengan segala keterbatasan karena kondisi ekonomi orangtuaku yang kurang mampu. Aku melanjutkan kuliah dengan menempuh berbagai cara. Berburu beasiswa, menulis resensi di koran, menjadi guru mengaji semua kulakukan agar aku bisa terus kuliah tanpa merepotkan Ibu. Dan kau tau, bahwa jika kau bersungguh-sungguh maka akan tercapailah apa yang kau inginkan.

Dan disinilah aku sekarang, menjadi CEO sebuah perusahaan besar yang cabangnya tersebar diseluruh Indonesia. Aku, Maman si anak pesantren yang miskin itu berhasil menembus keterbatasan berkat ridho dan doa ibuku serta kesungguhan untuk selalu melakukan yang terbaik yang aku mampu. Ah, tiba-tiba aku rindu sekali dengan Ibu padahal baru seminggu yang lalu kami pulang dari makkah untuk berumroh. Iya, aku telah berhasil mewujudkan impian Ibuku untuk mengunjungi baitullah.***



 

Rabu, 01 Oktober 2025

PPT Mengenal Diri Mengelola Bahagia

 































































MENGENAL DIRI, MENGELOLA BAHAGIA

 

Disampaikan dalam Webinar Ikatan Keluarga Besar Istri (IKBI) 

PT Sinegri Gula Nusantara

Kamis, 2 Oktober 2025

 




KARENA IBU BEGITU BERHARGA

Dalam sebuah keluarga Ibu memegang banyak peran sekaligus, penghangat rumah, pengatur keuangan, tempat curhat, sekaligus guru pertama bagi anak-anak. Peran ini luar biasa, tapi juga menguras energi, emosi, dan pikiran. Seringkali, di tengah semua itu, kita lupa satu hal penting yakni mengenal dan merawat diri sendiri.
Itulah mengapa tema webinar ini, “Mengenal Diri, Mengelola Bahagia”, menjadi sangat relevan.

Kita tidak bisa terus memberi jika diri kita sendiri kosong. Rasa lelah, emosi yang naik turun, dan stres yang datang silih berganti seringkali muncul karena kita belum benar-benar memahami diri kita sendiri, apa yang memicu kita, apa kekuatan kita, dan apa yang perlu kita perbaiki.

Mengenal diri bukanlah hal mewah. Ini adalah langkah dasar agar kita bisa menjadi ibu dan istri yang lebih tenang, bahagia, dan hadir sepenuhnya untuk keluarga. Dari sini, kita belajar berhenti menyalahkan diri, dan mulai mensyukuri apa yang sudah kita miliki.

Webinar ini adalah undangan hangat untuk Ibu-ibu hebat anggota IKBI:
yuk, ambil jeda sejenak. Temukan kembali arah, dan pelan-pelan pulang dari rasa lelah dan stres.

Dengan bantuan alat sederhana seperti Analisis SWOT dan Jendela Johari, kita bisa belajar memahami diri dengan lebih jujur, mengelola emosi dengan lebih bijak, dan memperkuat hubungan dalam keluarga.

Tujuan kita bukan menjadi sempurna. Cukup menemukan versi terbaik diri kita agar kita bisa kembali ke rumah dengan hati yang penuh, dan menjadi sumber ketenangan bagi keluarga.


MENGAPA PENTING MENGENAL DIRI?

Mengenal diri bukan sekadar tahu siapa kita, tapi memahami isi hati, pikiran, dan potensi kita. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai perjalanan menuju aktualisasi diri menjadi versi terbaik dari diri kita. Kita semua punya potensi itu, hanya saja perlu dikenali dan dikembangkan.

Perjalanan ini bertahap: mulai dari kebutuhan dasar, rasa aman, cinta, penghargaan, hingga akhirnya mencapai potensi diri sepenuhnya. Ketika Ibu mulai mengenali:

  • Kekuatan, Ibu akan lebih percaya diri dan merasa berharga
  • Kelemahan, Ibu punya kesempatan untuk bertumbuh
  • Potensi tersembunyi, Ibu bisa berkembang lebih jauh dari yang dibayangkan

Ibu yang mengenal dirinya dengan baik akan lebih utuh secara emosional. Ia tidak lagi bergantung pada penilaian orang lain, tapi mampu memberi dari dalam dirinya sendiri.

 

MANFAAT MENGENAL DIRI

  1. Lebih mampu mengelola emosi dan stress Saat tahu apa yang memicu emosi, kita jadi lebih siap menghadapinya.
  2. Lebih bijak dalam mengambil Keputusan Karena kita tahu apa yang penting dan sesuai dengan nilai hidup kita.
  3. Hubungan lebih hangat dan sehat Karena kita lebih mudah memahami dan berempati pada orang lain.

 

ANALISIS DIRI vs MENGHAKIMI DIRI

Penting untuk membedakan ini:

Analisis diri itu membangun → “Saya kurang disiplin, mungkin saya perlu mulai dari jadwal sederhana.”

Menghakimi diri itu menjatuhkan → “Saya pemalas, tidak becus jadi ibu.”

Fokus analisis diri adalah memperbaiki, bukan menyalahkan.

 

HATI-HATI DENGAN SELF-DIAGNOSIS

Mencari tahu diri itu baik. Tapi memberi label pada diri sendiri seperti “saya depresi” atau “saya bipolar” tanpa bantuan profesional bisa berbahaya. Kalau memang merasa kewalahan, tidak apa-apa mencari bantuan. Itu justru bentuk keberanian, bukan kelemahan.

 

ALAT UNTUK MENGENAL DIRI

1. Analisis SWOT

  • Kekuatan: apa yang sudah Ibu kuasai
  • Kelemahan: apa yang perlu diperbaiki
  • Peluang: kesempatan dari lingkungan
  • Ancaman: hambatan dari luar

2. Jendela Johari Membantu kita melihat diri dari sudut pandang sendiri dan orang lain. Kadang, ada hal tentang diri kita yang justru lebih terlihat oleh orang lain.

 

MENGENAL DIRI = MERAWAT DIRI

Setelah tahu kekuatan dan kelemahan, langkah berikutnya adalah merawat diri. Self-care itu bukan kemewahan. Self-care adalah kebutuhan. Bukan harus ke spa.
Cukup hal kecil yang mengisi ulang energi kita.

Contoh sederhana:

  • Berhenti scroll 5 menit, ganti dengan tarik napas atau dzikir
  • Menulis satu hal yang disyukuri sebelum tidur
  • Memberi batas waktu untuk pekerjaan rumah

Dan satu hal penting: tidak perlu merasa bersalah saat merawat diri.
Karena Ibu yang terjaga, akan lebih mampu menjaga keluarga.

 

LANGKAH NYATA KE DEPAN

  • Kembangkan kekuatan yang sudah ada
  • Kelola kelemahan tanpa menyalahkan diri
  • Manfaatkan peluang di sekitar
  • Terima diri apa adanya, sambil terus bertumbuh

Tidak perlu perubahan besar. Cukup langkah kecil yang konsisten.

 

PERTANYAAN REFLEKSI

Setelah ini, apa satu hal kecil yang bisa Ibu mulai untuk lebih mengenal diri sendiri? Mungkin mulai menulis jurnal, atau meminta feedback jujur dari orang terdekat. Mari kita saling menguatkan dalam komunitas IKBI. Berbagi cerita, belajar bersama, dan bertumbuh bersama. Karena Ibu yang bahagia, akan menciptakan keluarga yang bahagia.

Dengan penuh cinta, Novie Anggriani Herman, S.Psi

 




 

 

Kamis, 25 September 2025

SIKAT GIGI UNTUK KANAN

 






Sedikit dari kita, bisa jadi bernilai besar bagi mereka - ovi

Pagi itu, Bu Nur menyerahkan buku laporan keuangan Beasiswa "Bintang Guruku" ke tanganku setelah menandatanganinya. Tertera saldo sekian juta rupiah untuk bulan ini. Beberapa anak telah dibelikan sepatu dan tas. Alhamdulillah, program beasiswa yang kami gagas delapan tahun lalu itu masih berjalan hingga hari ini. Awalnya hanya dimulai oleh kami bertiga (aku, Bu Nur dan Pak Luk) kini hampir semua guru telah menjadi donatur tetap. Menerima buku itu mengingatkanku pada suatu siang beberapa tahun lalu, yang menjadi cikal bakal beasiswa ini.

***

"Aku nggak tahan sama bau anak itu, Bu Nur. Padahal sudah kuingatkan sikat gigi sebelum ke sekolah," keluh seorang guru setelah keluar dari kelas 7A.

"Iya, ya ampun. Anak itu kok kayak nggak mandi. Kasihan dijauhi teman-temannya," timpal guru lain. Aku melirik Bu Nur yang duduk di sebelahku. Senyumnya canggung, menahan perasaan tak nyaman.

"Siapa?" bisikku pelan.

"Kanan," jawab Bu Nur pendek, menyebut nama siswa baru yang sedang jadi 'trending topic' ruang guru pagi itu.

***

Bel istirahat berbunyi, aku melangkah ke kelas 7A mencari anak baru bernama Kanan. Tiga anak tersisa di dalam kelas saat aku datang, dua gadis dan seorang anak lelaki yang duduk di pojok ruang kelas. Terpekur sendirian.

"Tidak ke kantin, Nduk?" tanyaku sambil menyalami dua gadis yang tergopoh mencium tanganku

"Lagi puasa, Bu," jawab salah satu gadis, aku tersenyum dan memuji lalu berjalan mendekati anak lelaki yang duduk terpaku seperti patung di pojokan kelas. Rambutnya kusut, seragamnya kucel dan bau menyengat saat didekatnya.

"Tidak istirahat, Le?". Ia menggeleng pelan lalu berkata, "nggak bawa sangu, Bu." Aku tersenyum, "ini ada donat, makanlah". Ia menerimanya dengan ragu, menggigit pelan sambil melirikku.

"Le, boleh nggak kalau saya dan Bu Nur main ke rumahmu?" tanyaku. Ia berpikir sebentar, lalu mengangguk.

***

Mencari rumah Kanan tidak mudah, kami sempat kesasar beberapa kali sampai menemukan rumah itu yang ternyata berdiri dibelakang sebuah rumah besar. Kami terpaku cukup lama didepan sebuah bangunan reyot yang pintu depannya disangga dengan dua bilah bambu. Rumah itu berlantai tanah, terdapat sebuah lemari tua serta bangku kayu panjang. Seorang perempuan muda tergopoh-gopoh mendatangi kami dari samping rumah sambil menggendong bayi. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai ibunya Kanan.

"Kanan nakal, Bu Guru?" tanyanya cemas.

"Tidak, Bu. Kami hanya ingin silaturahmi," jawabku sambil memperkenalkan diri sebagai guru BK dan Bu Nur, wali kelas anaknya. Kami mengobrol cukup lama, menggali data latar belakang Kanan sehari-hari sembari menyelipkan pesan-pesan terkait pentingnya kebersihan dan kerja sama antara keluarga dan sekolah.

Dalam perjalanan pulang, Bu Nur yang sangat melankolis itu menangis sesenggukan tak tega menyaksikan kondisi keluarga Kanan. Saya juga speechless, ndak bisa ngomong apa-apa lagi. Tiba-tiba bu Nur berkata, "Din, ayo mampir swalayan. Kita beli sikat gigi"

***

Kami kembali ke sekolah dengan sekantong besar kresek berisi sabun, odol, peralatan mandi, sedikit sembako, dan makanan ringan hasil urunan saya dengan Bu Nur.

Siang itu terik sekali. Bayangkan, saya yang seukuran botol yakult naik motor pinjaman membonceng Bu Nur yang gemoy, terus muter-muter nyari rumah Kanan lalu mampir pasar dan kembali ke sekolah. Tenggorokanku rasanya seperti tercekik, saking hausnya.

"Opo kuwi?" tanya Pak Luk

"Odol," jawabku sekenanya sambil membuka tutup botol air mineral, dan meneguknya dengan nikmat. Melihat wajahku yang kesal karena Pak Luk terus bertanya sementara aku hampir dehidrasi, Bu Nur berinisiatif menceritakan kisah petualangan kami siang itu. Tiba-tiba tanpa diminta, Pak Luk mengeluarkan dompet dari saku belakang celana kempolnya dan menyerahkan selembar uang seratus ribu padaku, "Aku melu urunan, Din."

Aku hampir tersedak, melongo saat menerima uang itu. Dan entah sejak kapan Bu Budipur dan Bu Bondan memperhatikan kami bertiga, tetiba mereka berdua juga mengangsurkan lembaran merah dan biru padaku.

"eh...piye ki maksudnya", aku bingung

"ngene Din, kamu belio buku kas terus cateten uang-uang kami itu nanti aku sama Luk dan Bu Bondan ngajak yang lain. Bu Nur ketuanya. Banyak loh anak-anak yang nggak mampu tapi nggak dapat beasiswa dari pemerintah. Di kelasku juga ada", itu suara Bu Budipur. Bu Bondan mengangguk-angguk sambil mengunyah donat.

***

Dari sinilah gerakan beasiswa "Bintang Guruku" bermula. Dari kami bertiga, lalu disusul Bu Budipur, Bu Bondan, Bu Endang lantas berkembang menjadi gerakan kolektif yang hampir semua guru menjadi donatur tetap, tanpa ditagih tanpa diminta. Sukarela dan ikhlas lillahi ta'ala.

Tak hanya Kanan yang terbantu, banyak anak-anak lain yang sepatunya rusak, tasnya sobek, atau baju sekolahnya kekecilan bisa kembali percaya diri. Laporan keuangan kami sampaikan secara terbuka setiap bulan.

***

Inisiatif kecil seperti ini akhirnya bukan tentang Kanan, tetapi membuka ruang empati yang lebih luas. Ini aksi nyata dari intervensi preventif berbasis lingkungan sekolah, yang tidak harus dimulai dari program besar melainkan dari kepekaan hati para pendidik.

Sejatinya, value seorang Guru bukan hanya kemampuannya mengajar, tetapi kepekaan dalam melihat yang tak tampak seperti aroma tubuh, raut canggung, atau diam yang bukan sekadar diam.

Gerakan "Bintang Guruku" adalah contoh nyata pendidikan berbasis cinta kasih. Maka jangan abaikan keluhan kecil, bisa jadi itu pintu masuk untuk menyentuh hidup anak didik kita. Mari menjadi bagian dari mata rantai kebaikan.

Catatan kecil konselor sekolah - Novie Anggriani, S.Psi

****

I have written this story in a book at 2020, I rewrote it now as a beautiful memory of friendship and brotherhood for 15 years at a public junior high school in east Kediri.

***

Ps : Din adalah panggilan sayang teman-temanku di sekolah tempat aku mengabdi selama 15 tahun, karena aku datang paling akhir waktu itu. it's mean, bontot. Dan kebetulan anakku yang bungsu bernama Din. Jadilah aku dipanggil Din pula oleh mereka.

Rabu, 24 September 2025

MODUL PENYIAPAN SEKOLAH INKLUSIF BAGI GURU DAN KS

        

        

Anak adalah anugerah, termasuk mereka yang terlahir dengan kebutuhan khusus menjadi landasan utama pentingnya pendidikan inklusif, pendidikan untuk semua. Kondisi seperti down syndrome atau hambatan perkembangan lainnya bukan merupakan aib, melainkan bagian dari takdir yang harus diterima dan dicintai. Dalam konteks pendidikan, Peserta Didik Penyandang Disabilitas (PDPD) juga memiliki potensi keberhasilan yang sama besar dengan anak-anak tipikal, asalkan mendapatkan penanganan dan pendidikan yang tepat. Oleh karena itu, persepsi dan perspektif positif dari orang tua, guru, serta masyarakat sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang dan kemandirian mereka.


Terdapat empat prinsip utama layanan pendidikan yang harus diberikan kepada setiap peserta didik, yaitu:

  • To live: Setiap peserta didik berhak untuk hidup dan mengembangkan potensi diri tanpa dibatasi oleh kondisi fisik, mental, atau emosional.

  • To love: Peserta didik harus merasa aman dan terlindungi dari perundungan, serta mengikuti pembelajaran dalam lingkungan yang ramah.

  • To play: Setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar dan ekstrakurikuler.

  • To work: Setiap peserta didik berhak mengembangkan potensi dirinya agar kelak mampu memasuki dunia kerja dan menjadi individu yang mandiri.


Konsep ini sejalan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, di mana keragaman, termasuk dalam hal kebutuhan khusus tidak menjadi penghalang bagi persatuan dan interaksi sosial. Guru dan sistem pendidikan harus mampu mengakomodasi keberagaman ini untuk menumbuhkan sikap toleransi dan kepedulian.


Data menunjukkan (didalam modul kami sajikan data yang dimaksud) bahwa sebagian besar PDPD di Indonesia belum mendapatkan akses pendidikan yang layak. Keterbatasan jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB), seperti yang terlihat di Kabupaten Kediri, menjadi salah satu faktor penghambat. Hal ini menimbulkan urgensi bagi pendidikan inklusif sebagai solusi alternatif.


Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan akses seluas-luasnya bagi semua anak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi. Dalam sistem ini, PDBK belajar bersama-sama dengan anak-anak reguler di sekolah umum terdekat. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan potensi PDBK dan menumbuhkan rasa empati, kolaborasi, serta kepercayaan diri pada semua peserta didik.


Berikut saya sematkan link untuk Modul Penyiapan Sekolah Inklusif Bagi Guru dan Kepala Sekolah sebagai referensi, semoga bermanfaat...

https://sites.google.com/view/sekolah-inklusif/sekolah-inklusif



NAT – Kejang, Ompol, dan Penerimaan

    

Langit siang itu mendung tipis, angin lembut berhembus dari jendela ruang BK yang setengah terbuka, membawa aroma kertas, tinta printer, dan sedikit bau kayu tua dari meja tempat saya bekerja. Saya sedang sibuk menginput data hasil sosiometri ketika tiga anak perempuan berlari masuk sambil terengah-engah. 

“Bu, pinjam alat pel boleh? Ada yang ngompol!” teriak mereka hampir serempak. Saya berhenti mengetik, jari saya menggantung di atas keyboard. 

“What? Apa tadi? Ngompol?” Saya menatap mereka lekat-lekat. Mungkin saya salah dengar, “Eh, ngompol? Serius?”, saya berdiri memicingkan mata.

“Beneran, Bu! Pesing bangeettt…” sahut Tika sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung. Tika memang dikenal sebagai anak yang ekspresif.

“Yo wis, sana ambil. Jangan lupa dicuci sampai bersih ya,” kata saya sambil menunjuk sudut tempat alat kebersihan. 

Mereka langsung berlari kembali seperti pasukan kecil yang sedang dalam misi penyelamatan. Saya masih terpaku, tujuh tahun menjadi guru BK baru kali ini ada anak SMP yang mengompol di kelas. 

Rasa penasaran menuntun langkah saya menuju kelas 7E, kelas paling heboh yang letaknya di ujung selatan gedung. 
****

Kelas itu sudah kacau saat saya sampai, meja-meja berserakan sebagian digeser ke belakang. Suasana riuh, bukan hanya karena murid 7E, tapi juga karena anak-anak kelas sebelah yang ikut kepo. Di dekat meja guru, seorang anak duduk berjongkok di atas koran. Rambutnya keriting, wajahnya bundar dan lesu. Nat, gumam saya lirih. Anak yang sejak awal sekolah memang menarik perhatian kami para Guru. Ia jarang bicara, lebih sering duduk sendiri menatap kosong atau melihat lalu-lalang anak lain dari depan ruang BK.

“Pak…” saya menjawil lengan wali kelasnya yang tampak kacau
“Duh, mumet aku, Bu,” katanya sambil menepuk jidatnya sendiri
“Nat ya yang ngompol?” saya bertanya pelan, beliau mengangguk
“Iya. Tapi nggak mau diajak ke toilet, ndreprok wae nang kono. Jajal dibujuki, Bu. Mumet aku.” 

Saya dekati Nat perlahan, bau pesing tercium samar-samar. Beberapa anak menatap sinis, ada yang gelisah, ada pula yang memutar wajah ke arah jendela. Sembari berjongkok sejajar dengannya, “Nat, ayo ke toilet yuk. Biar bersih, nyaman,” ajak saya lembut. Ia menggeleng pelan, menunduk makin dalam. Memeluk lututnya erat-erat, lalu saya sodorkan sarung milik musholla.

“Ini bisa dipakai. Yuk, Ibu bantu.” Perlahan, Nat bangkit dan berjalan ke toilet. Saya menatap punggungnya yang gemetar ringan. 
***

Di kelas, anak-anak langsung mengelilingi saya, seperti genangan air yang mencari titik tumpahnya.

“Bu, itu gara-gara pas disuruh maju jawab kuis, eh tiba-tiba dia kejang trus ngompol,” kata ketua kelas
“Awalnya kaget, Bu, terus baunya… parah banget!” sambung yang lain.

Saya angkat tangan pelan, memberi kode untuk tenang, “anak-anak, kalian tahu nggak kadang seseorang tidak memilih untuk punya kondisi seperti itu. Kalau Nat bisa memilih, dia pasti juga ingin seperti kalian. Sehat, happy, nggak sakit seperti tadi.” Mereka diam, berpikir

Saya lanjutkan, “tapi justru lewat kejadian ini, kita bisa belajar hal penting. Toleransi, kepedulian, empati. Tidak semua orang punya kekuatan untuk memahami, tapi kita bisa belajar.” ada yang mengangguk, ada yang terdiam, tapi saya tahu hati mereka mulai terbuka. 
***

Minggu-minggu berikutnya, kejadian serupa tetap terjadi. Nat beberapa kali kejang dan mengompol tapi tidak lagi disambut dengan keributan. Anak-anak sudah siap, bahkan mereka membeli alat pel serta karbol dari uang kas dan meletakkannya di sudut kelas dengan label “Untuk Keadaan Darurat, Jangan Dipakai Mainan!!” 

Nat tidak dipindah kelas, Ia diterima, Ia dijaga. Kelas itu berubah dari yang dulu suka gaduh dan saling menyalahkan, menjadi kelompok kecil yang saling peduli.
****

“Nat, kamu sering kejang begitu?” tanya saya suatu hari saat ia duduk didepan ruang BK. Ia hanya menunduk, sesekali menyeka air mata yang tak bisa ia tahan.
“Bu, saya pengin terus sekolah. Jangan dikeluarkan ya, Bu.” 

Saya tepuk pundaknya pelan, “nggak ada yang mau mengeluarkan kamu, nduk. Ibu janji.” 

Hari itu kami memanggil orang tuanya. 

Ayahnya datang mengenakan jaket lusuh dan senyum kikuk, “waktu kecil sering kejang, Bu Guru. Pernah jatuh dari sepeda juga tapi sudah jarang sekarang. Kami bawa ke puskesmas, katanya ndakpapa”
“Kenapa nggak dibawa ke RSUD?” 
“Biaya, Bu Guru. Jauh juga dari sini” 
Saya sarankan untuk mengurus Jamkesda, “sudah gadis Pak, harus ditangani. Nanti bisa mempengaruhi mentalnya", Bapak Nat mengangguk. Saya berpesan agar tidak membiarkan Nat naik sepeda sendiri, Bapak Nat berjanji. 

Sejak rutin kontrol ke dokter. Nat mengalami banyak sekali kemajuan, saya amati ia mulai punya teman, mulai berbicara dan mau bercerita, mulai tersenyum dan lebih percaya diri. Ia tumbuh, pelan tapi pasti.
***

Nat mengajarkan saya bahwa kekurangan bukanlah hambatan mutlak dalam pendidikan, melainkan pintu masuk untuk menanamkan nilai-nilai yang lebih dalam yakni rasa hormat, penerimaan, dan cinta kasih. Di balik keterbatasannya, Nat hadir sebagai guru kehidupan bagi teman-temannya. Dukungan dari keluarga, Guru dan teman sangat penting untuk menghindarkannya dari rasa rendah diri berkepanjangan. 

Sebagai orang tua yuk kita mulai dengan mendengarkan anak-anak, bahkan ketika mereka diam. Menciptakan lingkungan yang menerima dan tidak cepat menghakimi. Membangun komunikasi dan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan layanan kesehatan sebagai upaya intervensi dini. 

Sebagai Guru, apabila ada murid seperti Nat jangan diabaikan. Jadilah jembatan bagi mereka untuk tetap sekolah, tetap hidup dengan harga diri, dan tetap merasa dicintai. Sebab anak bukan hanya murid, mereka adalah cermin kecil yang menunjukkan siapa kita sebagai orang dewasa.


Catatan kecil konselor sekolah - Novie Anggriani, S.Psi

Senin, 25 September 2023

“BOLEHKAH AKU IKUT BELAJAR?”


        
Man Jadda wajada, 
barang siapa bersungguh-sungguh maka akan sampailah dia pada apa yang ia citakan


        Aku pernah menjadi Guru les anak SD saat mengikuti suami yang bertugas di sebuah desa kecil di Malang selatan dan sering ditinggal karena dia harus menyelesaikan kuliah pasca sarjana disela-sela waktunya bekerja. Untuk membunuh sepi, setiap sore ada sepasang kakak beradik yang datang kerumah, mereka masih kerabat suami. Dua anak ini bernama Ima dan Lana, kelas 1 dan 5 SD. Kami bercerita dan menyanyi bersama, tak jarang sambil belajar dan mengerjakan PR sampai malam. 
        Jam 3 sore biasanya bayi Fikri sudah mandi dan duduk manis di baby walker menunggu Ima dan Lana datang. Sambil menunggu dua anak itu, aku menyelesaikan pekerjaan rumah yang masih tertunda. Ruang tamu dan ruang tengah rumah kami hanya disekat dengan selembar kain. Dari balik tirai kudengar Fikri tertawa-tawa, padahal belum terdengar suara Ima dan Lana. Biasanya dua anak itu datang dengan penuh huru hara. 
        Kusibak tirai, seorang anak laki-laki sedang duduk melantai didekat pintu, becanda dengan Fikri. Aku sering melihat anak itu melintas depan rumah untuk ke musholla. Beberapa kali kudapati dia mengintip dipintu ruang tamu saat kami sedang belajar. Kalau kudekati dia berlari, sebentar kemudian datang mengintip lagi terus seperti itu sampai akhirnya kubiarkan dia berdiri didepan pintu mendengarkan kami belajar. 
        Aku sempat bingung saat mendapati anak itu duduk didepan pintu rumah sambil membawa sebuah buku dan pensil, didekati nggak ya? khawatir lari lagi. Ragu-ragu kuletakkan keranjang cucian. Ternyata kali ini dia tidak lari, tapi saat melihatku datang kepalanya ditekuk kebawah sambil tangannya menggulung-gulung buku ditangan. 
        “Hai…” sapaku, anak itu diam saja sambil masih terus menunduk.
        “Siapa namamu?” 
      “Jay” dia mulai merespon dengan jawaban pelan, “aku pengen melu sinau” lanjutnya, aku tersenyum dan mengangguk. 
    “Boleh banget, ayo masuk saja. Sudah bawa buku kan?” kataku. Dia tersenyum sumringah ketika kuijinkan ikut belajar bersama Ima dan Lana.

***

        Namanya Jay, seharusnya sudah kelas 1 SMP tapi karena sering tinggal kelas maka sekarang menjadi teman sekelas Ima dan belum lancar membaca. Dia tinggal di belakang rumah kami bersama nenek, Ayah Ibunya bekerja di luar kota. Tumbuh kembang Jay memang lamban sejak kecil, wajar saja jika prestasi akademiknya sangat memprihatinkan. Tapi sungguh Tuhan Maha Adil, Jay adalah anak yang rajin dan tak gampang marah. Menurut cerita Ima, di sekolah ia sering diejek teman-temannya yang nakal. Biasanya Ima lah yang menjadi pembela. 
           Beberapa minggu setelah Jay ikut belajar murid lesku bertambah lagi tiga anak, jadi sekarang ada 6 anak yang setiap sore meramaikan rumah. Dan Jay adalah satu-satunya anak yang selalu datang tepat pukul 3, dia sangat disiplin. Suatu saat aku lelah sekali, semalaman anakku rewel karena demam. Sudah kali ke sepuluh dan dengan berbagai cara, kujelaskan materi perkalian sederhana tapi Jay tetap tak paham. Lima temannya sudah pulang sejak setengah jam yang lalu dan ia tertahan karena belum bisa. Karena lelah kututup bukunya dan kusuruh dia pulang, “Wis mbuh Jay, kesel aku. Muliho wae”
        Kukira dia akan marah atau tersinggung, ternyata dengan santainya dia tertawa, salah satu ciri khas Jay adalah bicara sambil tertawa lalu ikut menimpali, “Ya wis mbuh ya Mbak, ancene angel” membereskan bukunya, mencium tanganku dengan takzim lalu pulang sambil tertawa lebar, dadah dadah pada anakku. Masya Allah...
     Akhir 2006 suami mutasi ke kota lain yang jaraknya kurang lebih 200 km. Sangat berat sebenarnya meninggalkan desa ini, kami sudah betah dengan suasana pedesaan yang asri dan tetangga yang baik, terutama anak-anak yang setiap sore meramaikan rumah. Mereka tak hanya menyemarakkan rumahku tapi juga telah mengisi sebagian ruang hatiku. Di hari perpisahan aku membeli banyak es krim untuk mereka, semua menangis dan Jay adalah anak yang menangis paling keras. Sore itu kami menangis bersama.

****
    Semenjak pindah ke luar kota kami jarang berkunjung kesana lagi. Tujuh tahun berlalu dari kepindahan kami, aku kembali kesana untuk menghadiri hajatan kerabat. Saat sedang berbincang dengan Ibunya Ima seorang pemuda tinggi besar mengenakan seragam petugas keamanan menghampiri kami,

        “Mbak, pripun kabare?” kata pemuda itu

        “Sopo iki?” tanyaku setelah menjawab tanyanya

        “Supe, Mbak?” dia balik bertanya

        “Mosok lali?” tanya Ibunya Ima, aku mengangguk

        “Kulo Jay, Mbak. Murit les pean sing paling dedel, hehe..”

        “Ya Allah lee, Masya Allah wis kerjo saiki” pekikku

        Rasanya bahagia menyaksikan anak didik yang telah berhasil. Apalagi ini Jay. Iyaa, Jay yang dulu tak lancar membaca sampai kelas 5 SD sekarang sudah bekerja dan berhasil mandiri. Sungguh percepatan hidup seseorang tak ada yang bisa menebaknya secara pasti. Aku yakin tak mudah bagi Jay untuk sampai pada titik ini. Bisa jadi berkat kedisiplinan dan kerja keras yang ia pupuk sejak kecil, doa serta kesabaran orangtua dan guru-guru di sekolah membuatnya bisa menjadi insan yang berguna. 
      
***
      Jay adalah potret anak dengan keterlambatan perkembangan kognitif namun memiliki karakter yang baik. Menurut Hurlock (1997), anak-anak seperti Jay termasuk dalam kategori “slow learner”, tetapi bukan berarti tidak memiliki potensi untuk tumbuh. Ia hanya butuh waktu, ritme, dan pendekatan yang tepat. Keuletan, kedisiplinan datang tepat waktu, dan sikap pantang menyerahnya menunjukkan bahwa faktor non kognitif seperti grit (ketangguhan) lebih berpengaruh pada kesuksesan jangka panjang daripada sekadar nilai akademik semata.
        Maka sebagai Guru atau Orangtua, jangan mengukur semua anak dengan penggaris yang sama. Tugas kita hanya menyediakan hati yang lapang, kesabaran yang luas dan cinta tanpa tapi sehingga mereka memiliki ruang belajar yang hangat. Terkadang sekedar kata “iya, boleh ikut” bisa menjadi kunci masa depan seorang anak. Kadang anak yang tertinggal dalam pelajaran adalah yang paling unggul dalam kesabaran.

Catatan kecil konselor sekolah - Novie Anggriani,S.Psi

***


Terjemahan : 
Aku pengen melu sinau : aku ingin ikut belajar
Wis mbuh Jay, kesel aku. Muliho wae : Sudahlah Jay, aku lelah kamu pulang saja
Ya wis mbuh ya Mbak, ancene angel : Ya sudah ya Mbak, biarin emang sulit
Mbak, pripun kabare? : mbak, bagaimana kabarnya?
Kulo Jay, Mbak. Murit les pean sing paling dedel : saya Jay, Mbak. Muridmu yang paling bodoh
Saiki : sekarang 

Senin, 29 Agustus 2022

BE YOUR SELF









        Hayoo, siapa di sini yang suka banget banding-bandingin diri sama orang lain? "Enak ya si A, anak sultan, bisa beli apa aja." atau "Gokil, si B cantik banget, pakai baju apa aja kelihatan keren."

        Terus, kamu jadi nunduk, ngeliat diri sendiri, dan tiba-tiba ngerasa insecure sampai ke ubun-ubun. Sampai lupa kalau kamu itu udah dikasih banyak banget hal baik sama Tuhan.

        Cuma karena pengen jadi anak sultan, kamu jadi enggak sadar sama kebahagiaan yang udah ada di hidup kamu. Padahal, meskipun bukan anak sultan, kamu punya ibu yang sayang banget sama kamu dan bapak yang kerja keras buat keluarga.

        Cuma gara-gara ngerasa enggak secantik orang lain, kamu jadi lupa sama semua yang udah Tuhan kasih. Napas, otak, tangan, kaki, mulut, hidung, mata, semuanya berfungsi dengan baik. Dan dengerin ya, meskipun mungkin kamu enggak punya wajah kayak artis yang stereotype (tinggi, putih, mancung), kamu selalu kelihatan cantik di mata orang yang tepat. Serius deh, percaya!

Berhenti Banding-Bandingin, Saatnya Produktif!

        Sekarang udah 2024, udah enggak zaman lagi ngerasa insecure sama diri sendiri. Kapan majunya coba kalau gitu terus?

        Mulai sekarang, yuk berhenti bandingin diri sama orang lain. Biar kita bisa lebih produktif di masa depan. Karena bersyukur itu bukan berarti ngeliat apa yang kita punya dibandingin sama orang lain. Tapi, bersyukur itu adalah ketika kita bisa menghargai diri sendiri dan semua yang kita miliki. Itu baru namanya bersyukur yang paling tulus. 

With love,

I'm your counselor - Ovi