Warisan Kisah dan Kekuatan Takdir


Kakek saya seorang Lurah yang juga Kyai di Kediri Timur adalah tokoh yang selalu diceritakan mama dengan penuh kebanggaan. Cerita ini terjadi di masa yang sangat gelap, ketika PKI sedang getol-getolnya memburu para ulama. Kakek saya, tentu saja, masuk daftar incaran mereka.

Suatu malam, kakek baru saja selesai mengisi pengajian di desa sebelah. Tengah malam buta, saat mobilnya siap melaju di jalan pintas yang biasa dilewati, mendadak kakek punya firasat kuat.
"Berhenti, Nak," katanya pada santri yang mengantarkan beliau malam itu 
"Kita putar balik. Ambil jalan memutar, masuk desa dari gerbang selatan." 
Kang santri berpikir sejenak, hari sudah larut, situasi genting, dan jalan memutar jelas membuang waktu. Tapi, sebagai santri yang patuh, dia hanya bisa mengangguk dan menjalankan perintah. Rasa hormat dan ketaatan (sam’an wa tho’atan) pada Kyai mengalahkan logikanya.

Keesokan paginya, seorang pemuda desa datang tergopoh-gopoh ke rumah kakek. Ia melapor bahwa semalam suntuk, sekelompok PKI sudah menunggu di perbatasan desa. Mereka sudah mempelajari jadwal pulang kakek dan tahu persis di mana harus mencegat. Bahkan, lubang kubur untuk jasad kakek sudah mereka siapkan di sana. Mereka menunggu sampai matahari muncul. Namun, tak ada mobil yang melintas. Kakek saya lolos dari intaian maut..

***

Mama sering sekali menceritakan kisah-kisah heroik kakek saat saya masih kecil. Cara mama bercerita membuat saya seolah berada di situasi itu, merasakan ketegangan dan betapa kerennya kakek saya. Saat tumbuh dewasa, kisah ini memberi saya keyakinan yang mendalam bahwa sejahat apa pun rencana orang lain atas diri kita, rencana Allah selalu jauh lebih baik. Allah-lah yang mengatur segalanya. Tanpa ridha-Nya, kita bahkan tidak mampu mengedipkan mata.

Ayah saya, yang juga kyai, pernah mengajarkan tentang Tauhid (keesaan Allah) dengan perumpamaan sederhana. "Kalau Papa punya permen, kira-kira Papa kasih ke siapa dulu? Mbak Ira di Surabaya, Mbak Ovi di pondok, atau kamu, Dek Hani, yang di rumah?"

Kami serempak menjawab, "Adek Hani! karena ada di rumah. Yang jauh pasti ga dapet"

Ayah saya lalu mengatakan bahwa Allah Maha adil pada semua makhluk. Jauh atau dekat, terlihat atau tak terlihat, semua diberi rezeki sesuai porsinya. Namun, Allah akan memberikan yang terbaik pada mereka yang selalu mendekat, yang setiap hari "terlihat" oleh-Nya. Maka jangan pernah jauh-jauh dari Allah jika ingin selamat di dunia dan akhirat. Karena pada akhirnya, ketika manusia merencanakan kejahatan, Allah punya rencana yang jauh lebih besar dan sempurna. 

"Wa makaruu wa makarallah wallahu khoirul maakirin."

"Mereka membuat tipu daya, dan Allah pun membalas tipu daya mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS. Ali 'Imran: 54)

Catatan kecil hamba yang lenah, Novie Suhudi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar