Oleh: Novie Anggriani, S.Psi., M.Psi.T
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) datang
dengan janji besar yakni memutus rantai stunting dan meningkatkan
kapasitas kognitif generasi masa depan. Secara administratif, keterlibatan
Badan Gizi Nasional (BGN) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan
upaya untuk memudahkan distribusi nutrisi tanpa membebani guru dengan urusan
dapur. Namun, di balik struktur yang terlihat rapi ini, muncul sebuah ancaman
laten yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar masalah logistik: Moral
Hazard.
Moral hazard terjadi ketika satu pihak mengambil risiko lebih besar atau berperilaku ceroboh karena tahu konsekuensi atas risiko tersebut akan ditanggung oleh pihak lain. Dalam konteks MBG, ketika SPPG ditunjuk sebagai penyedia, terjadi jarak yang lebar antara anggaran triliunan rupiah dengan kenyataan di atas meja makan siswa. Di celah jarak itulah, integritas sering kali dikorbankan demi efisiensi biaya dan keuntungan sepihak.
Nutrisi
yang Terdistorsi dan Asimetri Informasi
Dari pengamatan di berbagai satuan pendidikan,
saya menemukan realitas yang cukup kontras. Ada jurang lebar antara visi mulia
di atas kertas dengan eksekusi di lapangan yang sering kali "salah langkah."
Di sinilah moral hazard bekerja melalui asimetri informasi: pemerintah
pusat memegang data administratif yang terlihat sempurna, namun penyedia di
lapangan adalah satu-satunya yang tahu persis kualitas bahan baku yang
sebenarnya mereka olah.
Harapan kita adalah melihat protein berkualitas
tinggi masuk ke tubuh anak didik untuk mendukung perkembangan otak mereka.
Namun, laporan mengenai porsi makanan yang menyusut, menu yang tidak memenuhi
standar gizi seimbang, hingga temuan makanan basi mencerminkan perilaku
"nakal" oknum penyedia yang memanfaatkan lemahnya pengawasan harian.
Ketika makanan dipandang hanya sebagai unit logistik untuk memenuhi kontrak,
maka esensi "bergizi" itu sendiri sering kali menguap demi mengejar margin
keuntungan.
Dilema Pengawasan: Siapa yang Menanggung Risiko?
Sentralisasi melalui SPPG
sebenarnya bertujuan menciptakan standar nasional. Namun, model ini justru
rentan menciptakan "pembiaran" di tingkat lokal. Karena sekolah
diposisikan hanya sebagai penerima manfaat murni, ada kecenderungan penyedia merasa
tidak memiliki akuntabilitas langsung kepada siswa atau orang tua. Inilah titik
kritis moral hazard tersebut:
- Erosi
Empati: Ketika penyajian makanan tidak dilakukan dengan "sentuhan
kasih sayang" pendidik di sekolah melainkan melalui kontrak pihak
ketiga, aspek pemenuhan hak anak sering kali kalah oleh logika
untung-rugi.
- Risiko
yang Dialihkan: Jika makanan yang dikirimkan tidak layak atau kurang gizi,
penyedia mungkin merasa risiko reputasi mereka kecil selama laporan SPJ
(Surat Pertanggungjawaban) terlihat rapi. Sementara itu, risiko jangka
panjang berupa kegagalan tumbuh kembang sepenuhnya ditanggung oleh siswa
dan masa depan bangsa.
- Standar
yang "Lentur": Tanpa integritas moral yang kuat, standar
keamanan pangan dianggap sebagai beban biaya tambahan yang bisa dipangkas.
Keadilan bagi SPPG yang Amanah
Lebih dari itu semua, sangat penting bagi kita
untuk tetap bersikap adil dalam melihat potret di lapangan. Di tengah kritik
ini, kita tetap harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada banyak
SPPG yang tetap menjaga amanah. Masih banyak pengelola yang bekerja dengan
hati, memastikan setiap butir nasi dan potongan protein sampai ke tangan siswa
dalam keadaan segar, bersih, dan sesuai standar gizi.
Para pejuang gizi yang jujur ini membuktikan
bahwa sistem distribusi pusat sebenarnya bisa berjalan dengan sangat baik jika
dibarengi dengan integritas moral yang kuat. Kehadiran mereka adalah bukti
bahwa moral hazard bukanlah penyakit sistemik yang tidak bisa
disembuhkan, melainkan penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh segelintir
oknum. Justru karena adanya SPPG yang amanah inilah, perilaku oknum yang
"nakal" menjadi terlihat sangat kontras dan tidak bisa ditoleransi.
Kita perlu melindungi para penyedia yang jujur ini dengan cara menindak tegas
mereka yang curang, agar standar kualitas nasional tetap terjaga.
Mengembalikan Hak Nutrisi Anak
Sebagai praktisi pendidikan, saya melihat bahwa
gizi bukan sekadar angka kalori, melainkan instrumen pembentuk kepercayaan anak
terhadap sistem. Jika anak-anak kita setiap hari disuguhi makanan yang tidak
layak, kita secara tidak langsung sedang mengajari mereka bahwa kualitas dan
kejujuran adalah hal yang bisa ditoleransi dalam pelayanan publik.
Kita tidak boleh membiarkan sekolah menjadi
objek pasif yang bungkam. Mekanisme kontrol harus ditarik kembali ke akar
rumput. Satuan pendidikan harus diberikan wewenang penuh untuk melakukan audit
kualitas secara harian dan memiliki hak veto untuk menolak distribusi jika
ditemukan ketidaksesuaian standar gizi maupun kebersihan.
MBG adalah investasi masa depan yang terlalu
berharga untuk dikorupsi oleh mentalitas pemburu rente. Kita tidak butuh
sekadar makan gratis yang asal kenyang; kita butuh asupan yang bermartabat dan
penuh integritas. Jangan biarkan moral hazard merampas nutrisi otak
anak-anak kita. Mari kita pastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan negara
benar-benar berubah menjadi kecerdasan, bukan sekadar angka di buku rekening
para spekulan.***
Bagus sekalii✨
BalasHapusBagaimana MBG ditempat njenengan???
Hapus