Waktu masih duduk di bangku kelas tiga SMP, anak ini pernah mendapat sebuah pertanyaan yang sangat membekas di kepalanya. Siang itu, dia dan Wisnu sahabatnya duduk di bawah rindangnya pohon beringin di halaman sekolah, MTSN 2 Kota Kediri. Bawah pohon itu adalah spot favorit anak-anak seusia mereka duduk-duduk sambil bercanda, berbagi cerita, dan menertawakan mimpi-mimpi yang masih menggantung jauh di langit.
“Nanti kalau kamu kuliah, abahmu sudah pensiun. Terus kowe piye?” tanya Wisnu pelan, dengan wajah sungguh-sungguh. Anak kurus berkacamata itu terdiam cukup lama. Bukan karena bingung, tetapi karena ia belum benar-benar memahami arah pertanyaan itu.
“Maksudmu piye toh, Nu?” ia balik bertanya.
“Kamu kan bilang pengen jadi dokter. Kuliah kedokteran itu mahal loh Kri, kowe reti ora?? Kalau abahmu pensiun, siapa yang akan membiayai kuliahmu? Wis toh Kri, manuto aku kowe ganti cita-cita wae sing rasional"
Kalimat itu sebenarnya bukan ejekan. Tidak ada niat merendahkan. Sang teman hanya sedang memandang hidup dengan cara yang realistis menurut ukuran manusia. Sebab memang benar, menjadi dokter membutuhkan biaya besar, waktu panjang, dan perjuangan yang tidak ringan. Terlebih bagi pensiuanan pegawai negeri tanpa side hustle yang harus menghitung setiap pengeluaran dengan hati-hati.
Namun rupanya, anak lima belas tahun itu memiliki keyakinan yang bahkan tidak dimiliki banyak orang dewasa. Ia menepuk pelan pundak sahabatnya sambil tersenyum kecil.
“Maturnuwun yo, wis nguwatirke aku. Tapi Gusti Allah ki sugeh Nu, kowe reti ora?. Sing mbiayai aku dudu abahku, tapi Gusti Allah liwat tangan abahku. Kalau Allah menghendaki, pasti ada jalannya. Doakan saja aku iso dadi dokter. Mengko yen kowe loro, ra sah mbayar,” katanya sambil tertawa kecil. Mereka pun tertawa bersama.
Barangkali bagi orang lain percakapan itu hanyalah obrolan anak SMP biasa. Tetapi siapa sangka, di balik kalimat sederhana itu tersimpan tawakal yang begitu dalam. Anak itu percaya bahwa rezeki tidak pernah benar-benar berasal dari manusia. Orang tua hanyalah jalan. Pekerjaan hanyalah perantara. Yang Maha Memberi tetap Allah semata.
“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
(QS. Hud: 6)
Waktu berjalan, Abahnya benar-benar pensiun ketika ia duduk di kelas dua SMA. Kekhawatiran yang dulu pernah diucapkan sahabatnya perlahan menjadi kenyataan di mata manusia. Tetapi sekali lagi, Allah menunjukkan bahwa pertolongan-Nya tidak pernah datang terlambat. Setahun kemudian, anak itu diterima di fakultas kedokteran sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Ia berangkat ke Solo dengan membawa keyakinan yang sama seperti saat duduk di bawah pohon beringin dulu bahwa Allah tidak mungkin meninggalkan hamba yang bersungguh-sungguh menggantungkan harapan kepada-Nya.
Perjalanannya tentu tidak mudah. Ada air mata yang tidak dilihat siapa-siapa. Ada malam-malam panjang penuh lelah, belajar hingga dini hari, hidup hemat, menahan rindu rumah, dan berkali-kali merasa hampir menyerah. Ada tirakat yang sunyi, doa-doa selepas tahajud, sujud yang panjang, dan keyakinan yang terus dijaga agar tidak runtuh oleh keadaan. Sebab mimpi besar memang tidak pernah ditebus dengan hidup yang biasa-biasa saja.
Tetapi Allah Maha Mengetahui setiap perjuangan hamba-Nya. Sedikit demi sedikit jalan dibukakan. Pertolongan datang dari arah yang tak disangka-sangka. Dan akhirnya, setelah perjuangan yang berdarah-darah itu, gelar dokter benar-benar berhasil ia raih.
Bukan hanya itu. Hari ini ia bahkan pulang membawa satu dokter lagi sebagai anggota baru keluarga besarnya. Sang istri, seorang dokter yang juga hafal 30 juz Al-Qur’an. Sebuah hadiah indah yang mungkin dulu bahkan tak pernah berani ia bayangkan.
Masya Allah…
Kadang hidup memang seperti itu. Manusia sibuk menghitung kemampuan, sementara Allah meminta kita menghitung keyakinan. Banyak orang membatasi mimpinya karena merasa berasal dari keluarga biasa. Tak sedikit yang mundur sebelum berjuang karena terlalu takut pada biaya, keadaan, atau kemungkinan gagal. Padahal Allah tidak pernah meminta kita menjadi mampu lebih dulu untuk memulai. Allah hanya meminta kita yakin, bersungguh-sungguh, lalu melibatkan-Nya dalam setiap langkah.
Karena ketika sebuah cita-cita dibangun di atas ikhtiar yang sungguh-sungguh, doa yang tak putus, hati yang tawakal, dan keyakinan penuh bahwa Allah Maha Kaya, maka tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Bukankah Allah sendiri telah berjanji,
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Allah tidak pernah curang kepada hamba-Nya. Mungkin jalannya panjang. Mungkin harus jatuh bangun lebih dulu. Mungkin harus menangis dalam diam berkali-kali. Tetapi selama hati masih yakin kepada Allah, tidak ada doa yang sia-sia dan tidak ada perjuangan yang benar-benar hilang. Jadi kalau hari ini kamu sedang merasa mimpimu terlalu tinggi, keadaanmu terlalu sulit, atau kemampuanmu terasa terlalu kecil, ingatlah satu hal bahwa yang menentukan masa depanmu bukan kondisi hari ini. Tetapi seberapa besar keyakinanmu kepada Allah, dan seberapa sungguh-sungguh engkau berjalan menuju-Nya.

Komentar
Posting Komentar