Menggambar memang hobi Bunda, Le. Sejak kecil Bunda senang mencoret-coret kertas, memainkan warna, lalu membiarkan imajinasi berjalan ke mana saja. Tetapi menemanimu menyelesaikan lukisan batik semalam suntuk, rupanya membuat Bunda sadar bahwa ada jenis menggambar yang membutuhkan kesabaran lebih panjang daripada sekadar menggambar biasa.
Melukis batik ternyata bukan hanya perkara memberi warna pada pola. Ada ketelitian yang harus dijaga, ada kesabaran yang diuji dalam setiap lekukan garisnya. Kau harus pelan-pelan menebalkan motif, hati-hati agar warna tidak keluar jalur, dan telaten memenuhi ruang-ruang kecil yang tampak sederhana, padahal membuat mata cepat lelah. Bunda melihatmu menarik napas panjang sambil mengusap mata. Capek ya le??
Mungkin memang begitu cara gurumu mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar tugas sekolah. Sebab membatik, Le, sejak dulu memang bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Ia mengajarkan manusia untuk tenang, tekun, dan sabar menjalani proses. Kau tahu, Nak, batik bukan hanya kain bergambar. Ia adalah jejak panjang kebudayaan bangsa kita.
Dari yang Bunda baca, dahulu seni membatik berkembang di lingkungan keraton. Pada masa kerajaan-kerajaan Jawa, terutama di era Kesultanan Mataram, batik menjadi bagian dari kehidupan para bangsawan. Tidak semua orang boleh mengenakan motif tertentu karena setiap corak memiliki makna dan kedudukannya sendiri.
Di dalam keraton, membatik bahkan menjadi bagian dari laku kehidupan perempuan Jawa. Mereka membatik bukan sekadar membuat kain, tetapi juga menanamkan doa-doa dan harapan lewat setiap garis yang ditorehkan. Maka jangan heran jika proses membatik bisa berlangsung berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, karena semua dilakukan dengan hati.
Karena itu batik bukan hanya seni menghias kain. Ia adalah bahasa budaya. Setiap motif menyimpan filosofi hidup. Setiap garis memiliki cerita. Dan setiap warna membawa doa-doa yang diam-diam diwariskan dari generasi ke generasi.
Itulah sebabnya kita patut bangga, Le. Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Dunia mengakui bahwa batik bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan kekayaan budaya yang lahir dari kearifan bangsa.
Maka setiap Hari Batik Nasional, orang-orang memakai batik dengan bangga. Ayah, Bunda, para guru, pegawai negeri, sampai anak-anak sekolah mengenakannya sebagai bentuk penghormatan pada budaya sendiri. Dan Bunda selalu merasa hangat setiap melihat itu. Karena di tengah zaman yang semakin modern, ternyata masih ada warisan leluhur yang terus dijaga.
Indonesia memang kaya sekali, Le. Bukan hanya kaya pulau dan bahasa, tetapi juga kaya makna dalam budayanya. Hampir setiap daerah memiliki motif batik dengan ciri khas masing-masing. Dari Pekalongan yang penuh warna cerah seperti pesisir yang ramai, dari Solo dan Yogyakarta yang sarat filosofi Jawa, hingga Cirebon dengan motif mega mendungnya yang terkenal menyerupai gumpalan awan. Semua punya cerita. Semua punya pesan kehidupan.
Lihat saja motif kawung, misalnya. Motif ini berbentuk lingkaran-lingkaran sederhana menyerupai buah aren. Tetapi maknanya begitu dalam: tentang kesucian hati dan kemampuan mengendalikan diri. Orang Jawa dahulu percaya bahwa manusia yang baik adalah manusia yang mampu menjaga hatinya tetap bersih meski hidup penuh godaan.
Lalu ada motif sidomukti. Motif ini sering dipakai dalam pernikahan adat Jawa karena mengandung doa agar kehidupan rumah tangga dipenuhi kemuliaan, kecukupan, dan kebahagiaan.
Ada pula motif truntum yang sangat Bunda suka. Konon motif ini diciptakan oleh seorang permaisuri yang ingin merebut kembali cinta suaminya. Ia membatik dengan tekun setiap malam sambil menanamkan cinta dan kesabaran di dalam hatinya. Akhirnya sang raja kembali jatuh cinta kepadanya. Karena itu motif truntum melambangkan cinta yang tumbuh kembali dan kasih sayang yang tulus tanpa syarat. Dalam pernikahan Jawa, orang tua pengantin biasanya mengenakan motif ini sebagai simbol cinta yang menuntun anak-anaknya menuju kehidupan baru.
Nah, motif yang sedang kau gambar itu namanya parang. Tepatnya parang rusak. Motif parang termasuk salah satu motif tertua dalam batik Jawa. Bentuknya menyerupai ombak yang bergerak miring sambung-menyambung tanpa putus. Dari jauh terlihat sederhana, tetapi ketika mulai diwarnai, barulah terasa betapa rumit dan detail lekuknya. Parang sendiri melambangkan perjuangan hidup yang terus bergerak. Tidak berhenti. Tidak menyerah. Seperti ombak yang terus datang meski berkali-kali pecah di karang. Parang rusak, yang kau gambar itu, konon diciptakan Panembahan Senopati saat bertapa di pantai selatan. Ia melihat ombak yang tak pernah lelah menghantam batu karang, lalu terinspirasi membuat motif yang menggambarkan kekuatan manusia melawan hawa nafsunya sendiri.
Karena musuh terbesar manusia sering kali bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri. Rasa marah, rasa iri, kesombongan, kemalasan, dan keinginan-keinginan buruk yang jika dibiarkan bisa merusak hidupnya. Maka parang rusak mengajarkan manusia agar terus memperbaiki diri, terus belajar menjadi pribadi yang bijaksana.
Selain parang rusak, ada juga parang barong. Ukurannya lebih besar dan dahulu hanya dipakai raja. Filosofinya tentang kebijaksanaan pemimpin dan kemampuan mengendalikan diri. Ada parang klitik yang bentuknya lebih kecil dan lembut. Motif ini menggambarkan kelembutan perempuan, kesantunan, dan kebijaksanaan dalam bersikap. Dahulu sering dipakai putri-putri keraton. Ada parang soblong yang melambangkan keteguhan hati, ketelitian, dan kesabaran dalam menjalankan amanah. Dan ada parang kusumo yang sering dipakai dalam pertunangan atau pernikahan adat Jawa. Kusumo berarti bunga. Motif ini mengajarkan bahwa manusia harus menjaga keharuman nama baik dan keluhuran budinya, seperti bunga yang harum semerbak ke mana-mana.
Lihatlah, Le…
Dari batik saja kita bisa belajar begitu banyak tentang kehidupan. Tentang kesabaran, tentang perjuangan, tentang cinta, tentang pengendalian diri. tentang menjadi manusia yang baik. Maka jangan terburu-buru ingin segera selesai menggambar batikmu. Nikmati saja prosesnya. Sebab sering kali hidup memang seperti membatik: pelan, rumit, kadang melelahkan, tetapi akan indah jika dijalani dengan sabar.
Bukankah Allah memerintahkan kita untuk iqra’ (membaca)? Dan membaca bukan sekadar mengeja huruf demi huruf. Membaca juga berarti memahami kehidupan. Menangkap hikmah dari hal-hal kecil yang mungkin sering diabaikan orang lain. Dari ombak, manusia belajar keteguhan. Dari bunga, manusia belajar memberi keharuman. Dan dari batik, manusia belajar bahwa sesuatu yang indah selalu lahir dari ketelatenan dan hati yang sabar.
Jadi lanjutkan perlahan warna-warnamu itu, Le. Tak perlu terburu-buru, karena hal-hal yang dibuat dengan hati biasanya akan menemukan caranya sendiri untuk menjadi indah.
Rejomulyo, 12 September 2017
Saat menemani anak sulungku menggambar batik
Opi Herman - ibu biasa yang suka menulis
Referensi :
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Thanks for sharing.. Butuh bahan kain mori berkualitas dengan harga murah untuk membuat batik tulis?.. Kunjungi toko kain online kami dan dapatkan penawaran menarik lainnya.. Regards : Fitinline..
BalasHapus